Author's note: Iya aku juga kaget ini buku tiba-tiba update lagi. Anyway, selamat menikmati
***
Ada yang aneh dengan hari itu. Biasanya, Yuzuki akan bangun terlebih dahulu, merapikan ranjang sembari membiarkan sang kembaran terus terlelap. Si sulung Teramitsu kemudian akan meniti tangga perlahan-lahan, menghampiri sang ibu yang tengah menyiapkan sarapan. Dekapan yang hangat dari wanita yang melahirkannya itu merupakan salah satu rutinitas pagi yang tidak boleh dilewatkan.
Namun, semuanya berbeda dengan yang ia bayangkan. Pukul tiga pagi, lelaki berumur empat tahun itu terbangun karena guncangan yang cukup erat. Di sebelah kirinya, sang adik berulang kali memanggil namanya.
"Yuzuki, Yuzuki!" Ia meraung, rambut pirangnya basah, terbasuh oleh keringat. Sepasang netra yang biasa diisi dengan antusiasme kini merefleksikan rasa cemas yang teramat tinggi.
Sang kakak mengusap mata yang masih dikuasai rasa kantuk. "Haru ... kenapa?" Ia bertanya, menguap kecil sembari memperhatikan jam di dinding. Tak biasanya sang adik bangun seperti ini. Pasti ada yang tidak beres. Memaksakan diri untuk memusatkan atensi pada lawan bicaranya, Yuzuki kemudian bertanya, "Ada apa, Haru? Kamu demam lagi?"
Haruhi menggeleng-geleng. Tangannya yang sedari tadi menggenggam erat lengan Yuzuki kini diturunkan. "Yuzuki ... rasanya nggak enak. Di sini ...." Ia menghantam dadanya berkali-kali, menimbulkan suara dentuman pada ruangan yang senyap. Napasnya semakin tidak beraturan, seakan seseorang menekan erat paru-parunya.
Yuzuki segera beranjak untuk duduk di tepi ranjang. Dalam situasi ini, sang ayah selalu mengajarkan untuk tetap tenang. Ini bukan situasi yang tak bisa dihadapi, terlebih setelah melhat kondisi sang ibu. Ia buru-buru menyentuh dahi sang adik dengan telapak tangannya, kemudian membandingkannya dengan suhu wajah sendiri.
Ketika menyadari bahwa tak ada perbedaan temperatur yang signifikan, lelaki berambut hitam itu mengerjapkan mata beberapa kali. Jemarinya meraih tangan sang saudara yang berbalut keringat, berusaha menangkap gumaman di balik napas yang tersengal. "Haru?" Ia memanggil nama itu beberapa kali sembari mengambil segelas air yang berada di atas nakas. "Haru, minum dulu, ya?"
Lelaki yang lebih muda itu mengangguk paham. Ia menyandarkan kepala pada bahu kembarannya, berharap sokongan kecil tersebut cukup untuk mempertahankan kesadarannya. Sepasang tangannya masih saja gemetaran ketika memegang gelas transparan tersebut, membuat sebagian isinya tumpah di atas selimut yang baru dicuci minggu lalu.
Haruhi meracau tidak karuan, memegangi dada yang masih terasa sesak. Ia tidak tahu mengapa begitu sulit rasanya untuk bernapas, padahal setengah jam yang lalu semua masih terasa baik-baik saja. "Yuzuki, sakit ...." Gelas di tangannya terjatuh, menggelinding hingga nyaris menghantam lantai. Untung saja, Yuzuki berhasil menghentikannya sebelum kegaduhan terjadi.
"Haru ...." Tatapan Yuzuki tampak lirih, berharap bahwa dirinya dapat menggantikan posisi sang adik. Haruhi adalah anak yang baik, juga adik yang baik. Melihat kembarannya menderita seperti itu membuatnya serasa ditinju kencang pada ulu hati.
Kedua tangannya meraih tubuh rapuh tersebut, menariknya ke dalam pelukan erat. Jika saja satu permintaan Yuzuki dapat dikabulkan, ia pasti akan memohon agar Haruhi bisa terus tersenyum—hanya itulah yang diinginkannya. "Haru, it's okay. You'll be fine. Breathe with me, okay?" Tangan kirinya mengusap helaian rambut pirang tersebut, identik dengan milik sang ayah.
Sepasang matanya yang berwarna biru cerah dipejamkan, berusaha mendengarkan suara napas Yuzuki terlepas dari denyut jantung yang terus memacu bak kuda balap. "Yu.. Zu..." Bahkan sepatah kata sesederhana itu tak dapat diucapkan tanpa terbatuk-batuk. Haruhi meringis, rasa sesak itu masih bernaung di dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idol Hell
FanfictionCLOSE REQUEST Sebuah fanfiction khusus untuk fandom Idol. Fandom yang tersedia saat ini : 1. Utapri 2. B-Project 3. Marginal #4 Kiss Kara Tsukuru Big Bang Sempat menjadi #1 di tag BProject
