Bintang || Kaneshiro Goushi

297 39 23
                                        

Bintang
Aniki!Kaneshiro Goushi x Reader
Requested by : AoiAzura

Hal yang disukai (name) selain menjahili kakaknya adalah menikmati keindahan malam, menikmati semua hal yang selalu tersembunyi di siang hari. Embusan udara dingin sama sekali bukan perkara berat bagi (name), asalkan ia bisa melihat gugusan bintang yang menerangi langit.

Berbaring di halaman rumahnya, (name) mengerjap berkali-kali, membayangkan bila dirinya adalah bintang yang disukai banyak orang, bintang yang bisa menyinari kegelapan terpekat sekalipun. Tangannya menggapai-gapai ke udara, seolah ingin menjangkau sesuatu yang tak bisa tersentuh.

Saat malam mulai menyelimuti lebih lagi, saat lampu di rumah-rumah sudah padam, (name) masih setia berbaring di depan, seolah ingin menemani bintang sepanjang malam. Mata mungilnya berkali-kali tertutup, menandakan sang gadis sudah sangat mengantuk. (Name) menguap sesekali. Malam ini akan jadi sangat panjang, begitu pikirnya.

"Suatu hari aku akan jadi peneliti bintang yang tak akan terpisahkan dari benda malam ini." Binar penuh harap memenuhi mata (name). Gadis itu tersenyum yakin, berpegang pada cita-citanya.

Sebuah jaket berwarna merah dengan list hitam mendarat di dekat (name). Tak perlu diteliti lebih lanjut, pelakunya pasti sang kakak, Kaneshiro Goushi. Pemuda dengan rambut hitam pendek itu mendecak kesal. Kedua tangannya terlipat sembari melemparkan tatapan tajam ke arah (name).

"Menjaga kesehatan saja belum bisa. Apalagi menjadi peneliti bintang," cetus Goushi dingin.

(Name) terkikik pelan. Ia memang selalu diomeli oleh kakaknya, sampai telinganya semakin lama semakin kebal.

"Hei sudah jangan tertawa," semprot pemuda itu. "Cepatlah masuk ke dalam. Udara malam hari tidak bagus untuk kesehatanmu."

(Name) menggeleng pelan. Tatapannya masih terpusat kepada benda bercahaya yang menerangi langit. Tangannya masih direntangkan ke atas. "Dulu kakak bilang, orang yang sudah tidak ada akan menjadi bintang. Jadi, (name) ingin menemani mama dan papa yang sudah jadi bintang, biar mereka gak kesepian!"

Goushi menghela napas pasrah. Ini semua salahnya karena telah menanamkan pola pikir seperti itu dalam benak adiknya. Dulu di saat (name) masih terlalu kecil untuk memahami kematian, hanya 'teori bintang' yang bisa digunakan Goushi untuk mengelabuinya. Namun, bila (name) tetap percaya pada perkataan tersebut ... akan fatal akibatnya.

Ingin saja Goushi menumpahkan segala fakta soal orang tua mereka yang tewas dalam kecelakaan pesawat, namun hati kecilnya tidak tega. Ia tak ingin melihat adiknya muram. Ia tak ingin melihat (name) menangis. Namun ia tahu, membiarkan (name) tetap seperti ini adalah hal yang sangat salah.

"Mama dan papa tidak akan senang bila kau berada di luar." Suara Goushi memecah keheningan yang sudah lama menyelimuti.

"Tapi, mama dan papa kan suka (name)." Sang gadis menolak.

Goushi menggeleng pelan. Tak ada pilihan lain lagi. Setelah menghela napas dengan panjang dan penuh pemikiran, ia berkata, "Dengar (name), papa dan mama gak pernah jadi bintang di langit atau apalah itu. Mereka telah meninggal. Hilang dari dunia ini, selamanya dan tanpa jejak. Mereka tidak menjadi bintang, mereka juga bukan matahari atau bulan. Mereka roh, yang saatini sudah tiada, roh yang tak bisa kaulihat sampai kapan pun."

(Name) terbengong-bengong mendengar perkataan kakaknya. Lantas pada detik berikutnya, tawa sang gadis meledak. "Jangan bercanda, Kak. Leluconmu sama sekali tidak lucu!"

"Aku tidak berbohong. Yang kukatakan adalah benar. Mereka sudah tidak ada! Mereka meninggal, (name). Kau tau bisa melakukan apa-apa untuk mengembalikan mereka," papar Goushi dengan penuh emosi.

Idol HellTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang