STARISH : Mother's Day Edition

76 15 9
                                        

Hari Ibu adalah hari yang begitu spesial bagi setiap wanita yang sudah memiliki anak. Seringkali mereka menantikan kejutan apa lagi yang disiapkan oleh buah hati mereka. Begitu pula dengan (name). Sebagai seorang Ibu, ia sangat menantikan hari spesial itu, menerka-nerka apa yang akan diberikan oleh anaknya.

1. Shinomiya Natsuki

"Mama, mama!" (Name) yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran langsung tersentak begitu mendengar suara anaknya memanggil-manggil. Ia langsung bangun, takut-takut jika anaknya terluka atau mengalami sesuatu yang tidak baik.

"Ada apa, Nacchan?" Wanita itu menghampiri anaknya yang berambut pirang, mengusap kepalanya dengan penuh kasih. 

Natsuki memeluk (name), menenggelamkan dirinya dalam dekapan penuh hangat itu. "Mama, selamat hari Ibu!" Ia berseru, masih dalam pelukan yang sama. "Aku punya hadiah untuk mama!"

Tanpa menunggu jawaban, bocah berkacamata itu menarik (name), membawanya menuju lantai dua. "Nacchan, jangan lari-lari. Nanti kamu jatuh."

Natsuki mengangguk, memperlambat langkahnya hingga mencapai kamar (name). "Ini hadiah untuk mama!" Natsuki membuka pintu, menampakkan kamar ibunya yang penuh dengan boneka dan stiker Piyo-chan. Tak lupa, Natsuki menggambar Piyo-chan di tembok, dengan berbagai pose dan ekspresi.

(Name) tertegun melihat kamarnya. Ia bingung harus terharu atau geram akan kelakuan Natsuki yang sebenarnya baik, tetapi meninggalkan serangkaian hal yang harus dibersihkan olehnya.

"Ini semua aku berikan untuk mama!" Natsuki merogoh sakunya, mengeluarkan selembar kertas yang juga ditempeli stiker Piyo-chan. "Yang ini juga untuk mama!"

Natsuki's letter

Hai, mama! Selamat hari ibu. Nacchan senang banget bisa tinggal sama mama. Nacchan sayangggg banget sama mama, melebihi rasa sayang Nacchan ke Piyo-chan dan Syo-chan.

2. Ichinose Tokiya

(Name) punya seorang anak yang begitu dingin dan pendiam. Namanya Ichinose Tokiya. Ia tidak banyak bicara, tetapi bisa memberikan kejutan bagi (name), terutama soal kepintarannya dalam melihat situasi. Ia sangat bisa diandalkan.

Pagi itu, (name) terbangun, mendapati dirinya nyaris kesiangan. Satu-satunya hal yang mengusik pikirannya adalah Tokiya. Bagaimana jika anaknya itu kelaparan karena tidak ada sarapan?

Dengan terburu-buru, ia menuruni anak tangga.

"Pagi, Ma." Tokiya yang sedang asyik membaca buku langsung menyapa tanpa mengalihkan matanya dari bacaan terkait.

"Pagi. Sebentar ya, sarapannya akan segera Mama buat!" Melihat anaknya sudah menunggu, (name) semakin terburu-buru, sampai nyaris tersandung kursi.

Ketika memasuki dapur, ia melihat sesuatu, sebuah kotak dengan surat di atasnya. (Name) langsung mengenali tulisan ini, tulisan tangan Tokiya. Ia mengambil kotak besar itu, membawanya menuju ruang tamu. "Ini apaan?" tanyanya menyelidik.

"Hadiah. Hari ini hari Ibu. Jadi kupikir untuk memberi hadiah."

(Name) menutup wajahnya, terharu akan sikap putra semata wayangnya. Ia pun membuka kotak tersebut dan mengeluarkan panci dari dalamnya. "Umm.... Ini untuk Mama?"

Tokiya mengangguk, bangga dengan pilihannya. "Panci mama yang lama kan sudah gosong karena mama lupa mematikan kompor. Jadi, kurasa panci adalah hal yang paling mama butuhkan saat ini." Putranya tersenyum kecil.

"Tokiya.... Terima kasih, Nak!"

Tokiya's Letter

Selamat hari Ibu untuk mama paling cantik dan paling baik di dunia ini. Aku sangat sayang mama dan aku janji akan berada di sisi mama, sama seperti mama yang juga selalu berada di sisiku selama ini. Semoga mama terus bahagia dan semoga mama selalu diberkati.

Idol HellTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang