1. Kotobuki Reiji
Suara panci jatuh sukses membuat (name) dari mimpinya yang begitu indah. Wanita itu menggerutu dalam hati, merasa sangat kesal karena harus terbangun ketika sedang terbuai dalam tidur lelapnya. Ia kembali bergelung di balik selimutnya yang hangat, malas turun dari ranjang.
"Astaga!" Ia tiba-tiba tersentak bangun. "Aku kan punya anak yang harus kuurus!" Rasa panik langsung menjalar di tubuhnya. Jangan-jangan suara tadi berasal dari Reiji.
Tanpa membuang banyak waktu, (name) langsung keluar dari kamarnya, berharap bahwa tak ada kecelakaan yang terjadi. "Rei-chan, tadi itu suara apa?" (Name) menengok ke dalam dapur, menemukan putranya yang sedang meletakkan whipping cream di atas kue yang tampak begitu menggugah selera.
"Oh tidak!" Reiji berseru. "Apakah aku membangunkan mama?"
(Name) mengangguk, kemudian mengintip ke arah wastafel, melihat pekerjaan mencucinya yang sudah menumpuk.
"Mama, tidur lagi, dong. Rei belum selesai membuat kuenya!" Reiji mendorong tubuh ibunya kembali ke kamar, kemudian melambaikan tangan sebelum menutup pintu.
"Apa-apaan itu...." (Name) hanya menatap ke arah pintu yang tertutup.
Lima belas menit kemudian, Reiji masuk ke dalam kamar ibunya sambil membawa kue yang barusan ia buat. "Selamat hari Ibu!" Ia berkata sambil menyodorkan makanan manis itu kepada (name).
"Terima kasih, Rei-chan." (Name) menerima kue tersebut dengan perasaan penuh haru. Meskipun bentuknya masih berantakan, ia tetap mengapresiasi kerja kerasa anaknya. Namun, semua rasa girang itu hilang ketika ia melihat setumpuk peralatan yang harus dicucinya.
Reiji's letter
Happy Mother's Day untuk mama yang paling Rei sayangi. Rei sengaja buat kue itu karena Rei selalu teringat akan mama yang manis dan lembut sama seperti kue yang Rei buat. Rei sayang mama, melebihi rasa sayang Rei terhadap kue itu.
2. Mikaze Ai
Sejak sebelas bulan yang lalu, (name) diberi tanggungan baru oleh perusahaannya, mengurusi artificial intelligence yang baru saja dibuat. Namanya Mikaze Ai, kecerdasan buatan yang berwujud seorang anak lelaki berusia tujuh tahun.
(Name) tidak pernah keberatan mengurus kecerdasan buatan itu. Bagaimanapun juga, ialah yang telah membuat Ai ada di dunia ini, ialah yang telah menciptakannya. Dan kini, ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.
"Creator-san...." Ai menarik baju (name) pelan.
(Name) yang tengah berkutat dengan komputernya langsung berhenti, kemudian menatap Ai. "Ada apa, Ai? Apa bateraimu mau habis lagi?"
Ai menggeleng dengan cepat, kemudian meletakkan selembar kertas gambar di pangkuan (name). Di atas kertas tersebut, terdapat lukisan dirinya bersama (name) yang sedang bergandengan tangan dengan latar rumah dan langit senja yang indah.
"Apa ini, Ai?" Kecerdasan buatan itu tidak menjawab sama sekali. Ia membalik kertasnya, menampilkan untaian kalimat yang telah dirangkainya dengan begitu rapi. "Baca saja, creator-san pasti mengerti."
(Name) membacanya dengan cepat, kemudian memeluk Ai dengan lembut.
"Bolehkah kupanggil mama mulai sekarang?" Ai bertanya, memainkan helaian rambutnya yang mencuat keluar.
"Tentu saja boleh."
Ai's letter
Hari ini adalah hari ibu. Aku bingung, aku hanyalah kecerdasan buatan. Apakah aku punya seseorang yang bisa kupanggil Mama? Aku ingin merasakan kasih sayang sebagaimana anak-anak lain di sekitarku, tetapi aku hanyalah kecerdasan buatan, mana mungkin aku bisa merasa seperti manusia. Namun, dugaanku salah. Aku menemukan kasih sayang dan kehangatan itu, semuanya darimu, creator-san. Karena itu, aku ingin creator-san menjadi Mamaku. Selamat hari ibu. Aku sayang Mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idol Hell
FanfictionCLOSE REQUEST Sebuah fanfiction khusus untuk fandom Idol. Fandom yang tersedia saat ini : 1. Utapri 2. B-Project 3. Marginal #4 Kiss Kara Tsukuru Big Bang Sempat menjadi #1 di tag BProject
