Menjadi seorang fangirl yang tidak dianugerahi dengan dompet yang super tebal membuatnya tak bisa melakukan apa pun. Meminta uang pada kekasihnya yang merupakan artis? Tentu saja (name) merasa gengsi.
"Sekali saja ... aku ingin datang ke konser mereka...." (Name) membentangkan kedua tangannya, lalu menutup mata, membayangkan ketujuh idola asal Korea dengan nama Bangtan Sonyeondan itu tampil di panggung yang super besar, dengan ribuan lightstick yang turut memeriahkan konser tersebut.
"Sesuatu yang mustahil untuk pergi ke konser mereka."
Fangirl
Jealous!Kaneshiro Goushi x Fangirl!Reader
Requested by : putriyuuki
A/N : Tidak bermaksud untuk mempromosikan idol Korea di cerita ini
Warning : OOC, typo, gaje,
"Nonton apaan sih?" Suara berat milik Kaneshiro Goushi membuat (name) tersentak. Cepat-cepat, gadis itu menutup ponselnya seraya mengukir senyum sepolos mungkin ke arah Goushi. Satu hal yang membuatnya seperti itu, (name) tidak ingin Goushi melihatnya fangirling.
"Bukan apa-apa," dusta sang gadis.
Goushi menautkan alisnya sambil berkacak pinggang. "Kau lagi nonton Agus atau apalah itu, ya?"
Tepat sasaran.
"Kau peramal ya, Goushi...? Dan satu lagi, namanya Suga, tetapi aku lebih sering panggil Agus, sih ... biar terkesan lebih lucu...." (Name) terkekeh pelan, namun wajahnya langsung serius begitu melihat air muka Goushi.
"Jangan nonton terlalu banyak tentang oppa-oppa Korea itu, nanti nilai pelajaranmu menurun drastis," geramnya.
"Eh ... sejak kapan kau peduli padaku? Aku tidak menyangka seorang Kaneshiro Goushi yang terkenal dengan sifat tsundere bisa berkata seperti itu."
Goushi memalingkan wajahnya begitu mendengar godaan dari (name). "U-urusai! Aku bukan tsundere!" Wajahnya sedikit merona karena digoda, namun cepat-cepat Goushi menutup wajahnya.
"Tumben sekali kau datang ke sini," komentar (name) sambil menyisir pelan helaian rambutnya. "Ada masalah apa? Mau pinjam uang?"
"Bukan itu...." Goushi membisu sebentar sebelum akhirnya berdeham. "Sabtu ini ada acara?"
"Ada! Sabtu ini aku mau fangirling."
Mendengar jawaban dari kekasihnya, Goushi tanpa sadar memukul pelan kepala (name). "Diajak ngomong serius malah bergurau seperti itu!" ketusnya sambil menarik kursi, kemudian menempatkan diri di hadapan (name).
"Maaf." (Name) tergelak saat mendapati Goushi mendengus kesal. Ingin rasanya (name) menggoda Goushi lagi, namun diurungkannya niat tersebut saat melihat Goushi mengerutkan keningnya dan melemparkan tatapan tajam, seolah mengancam (name) agar tidak lagi bermain-main. "Sabtu ini kebetulan aku tidak ada acara," jawabnya.
Goushi bersorak dalam hati, namun ekspresinya tidak berubah, tetap datar dan ... sedikit galak. "Baguslah kalau begitu."
"Memangnya ada apa? Kau mau mengajakku nonton konser BTS, ya?"
"Tidak, aku tidak peduli dengan Korea tidak jelas itu," decak Goushi yang langsung mendapat tatapan membunuh dari (name). "Kalau Sabtu ini tidak ada acara, aku ingin mengajakmu kencan." Pemuda itu sedikit memalingkan wajahnya sambil terbatuk pelan.
"...." Sejenak, (name) terdiam. "Apa?! Kaneshiro Goushi mengajakku kencan?" pekiknya sambil mencubit pipi, seolah-olah apa yang dialaminya sekarang adalah mimpi.
Goushi meletakkan jari telunjuk di bibir (name), memaksanya untuk diam. "Kau berisik sekali ... ini hanya kencan, (name)." Goushi menggeleng-geleng. "Dan satu hal lagi. Aku bukannya mau kencan denganmu, tetapi Aizome memaksaku karena aku kalah Truth or Dare."
Penjelasan Goushi yang rinci membuat senyum di wajah (name) menghilang. Seharusnya ia sudah bisa menduganya. Kaneshiro Goushi yang terkenal dingin dan galak tak akan mau mengajaknya kencan.
"Terserah kau!" (Name) mengerucutkan bibirnya kesal. Ia memutar bola matanya, lalu mengambil buku terdekat--hendak melemparkannya ke arah Goushi.
Goushi mendecak pelan, lalu melambaikan tangannya ke arah sang kekasih. "Sabtu jam sepuluh tepat di stasiun. Aku akan menunggumu di sana."
* * *
Hari Sabtu itu, (name) tak bisa berhenti melirik ponselnya setiap detik. Tidak ada keberadaan Goushi di mana-mana, padahal sudah pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Ia mendecih pelan. "Jangan-jangan, aku ditipu olehnya." (Name) kembali melihat jam di ponselnya. Gadis itu bersumpah, bila Goushi tidak datang dalam sepuluh menit, ia lebih baik pulang saja.
(Name) mengembuskan napas kesal. Ia mengambil earphone dan memutuskan untuk mendengar lagu guna meredam kemarahannya akan Goushi. "Lagu BTS memang selalu membuat keadaanku membaik." (Name) terkikik sambil menjentikkan jari mengikuti tempo lagu yang didengarnya.
Goushi sampai tiga menit kemudian. Peluh membasahi tubuhnya, membuat baju putih yang dikenakan Goushi menjadi tembus pandang. Untungnya, sang pemuda memakai jaket hitam untuk membalut badannya.
"Dari mana saja?" (Name) melipat tangannya di dada seraya mengukir ekspresi garang yang diharapkannya dapat membuat Goushi terhenyak.
"Aku ketinggalan bus. Jadi, aku berlari ke sini," jawabnya.
"Dasar," gerutu (name) sambil melepaskan earphone miliknya. "Jadi, mau ke mana?"
Goushi mengangkat bahu. Ia sama sekali tidak mengerti soal kencan, berbeda dengan rekannya yang pasti sangat paham. "Toko musik?" usulnya sembarang.
(Name) berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Mungkin akan membosankan, namun patut dicoba."
"Kalau begitu, ayo. Kebetulan aku mau membeli senar gitar yang baru."
Berbicara soal toko musik, (name) teringat akan pertemuannya dengan Goushi. Kala itu, ia dan Goushi berebut album salah satu band rock terkenal yang hanya tersisa satu. Goushi berakhir mengalah--setelah dibujuk oleh Kento belasan kali. (Name) sama sekali tidak sadar bahwa Goushi adalah seorang artis yang menuntut ilmu di tempat yang sama dengannya.
Mereka berteman akibat album itu. (Name) selalu tersenyum sendiri bila mengingat kejadian konyol itu. "Kau gila ya? Mengapa senyum-senyum sendiri?"
(Name) mengatupkan bibirnya saat mendengar pertanyaan Goushi. "Bukan apa-apa," sangkalnya. "Hanya teringat cerita lama...."
Goushi mendorong pintu kaca yang membatasi dirinya dengan toko musik. Dicarinya senar gitar yang dibutuhkannya, sementara (name) sibuk melihat poster berisi artis dari Korea yang belakangan ini naik daun--Wanna One. "Wah Kang Daniel keren sekali!" Jika (name) adalah bagian dari anime, maka ia akan digambar dengan mata besar yang berbinar-binar dan latar belakang berbunga-bunga. Gadis itu kembali terlarut dalam dunia kesayangannya. Suara serak Goushi yang memanggil-manggilnya kini terabaikan.
"(Name)!" Goushi berteriak kencang sambil menghampiri kekasihnya itu. Namun, (name) masih tidak menjawab. Goushi nyaris saja memukul kepala (name) karena terlalu kesal. Namun, ia mengurungkan niatnya karena (name) adalah perempuan.
"Oi. Ikut aku. Jangan terlarut dalam idola-idola Korea itu." Goushi menarik paksa lengan tangan (name), memaksanya untuk pergi.
"Aku tidak mau pergi." (Name) meraung-raung sedih saat keluar dari toko musik. Dengan langkah tak senang, (name) akhirnya mengikuti Goushi berjalan keliling kota. Tanpa suasana romantis apa pun, akhirnya kencan yang penuh dengan teriakan Goushi akhirnya selesai.
"Aku tidak percaya kau benar-benar payah soal berkencan." (Name) menyipitkan matanya seraya menunjuk Goushi. "Mungkin kau lebih payah daripada Yuuta," tambahnya dengan nada mengejek.
"Diamlah," kesal Goushi. "Setidaknya aku tidak seperti Aizome yang genit."
"Terserah." (Name) mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Aku senang bisa menghabiskan waktu dengan Goushi."
Goushi memalingkan wajahnya yang didominasi rona merah. Perlu ditekankan bahwa kencan ini adalah kencan pertamanya. "Aku juga." Goushi membiarkan mulutnya tertutup sebentar selagi memikirkan kalimat berikutnya. "Namun, aku tidak ingin kau membahas soal Korea di kencan kita yang berikutnya." Pemuda berambut hitam itu berhenti ketika mencapai rumah (name). Cepat-cepat, ia berjalan ke arah yang sebaliknya, menuju tempatnya tinggal bersama Kento dan Yuuta.
"T-tunggu...." (Name) membuka matanya lebar. "K-kencan berikutnya?!"
Tanpa membalikkan badannya, Goushi menyeringai kecil. "Minggu depan akan kutunggu kau di stasiun. Dan aku tidak akan telat pada masa itu."
Omake
Goushi menghampiri (name), menepuk pundak sang gadis dari belakang seraya memanggilnya. (Name) yang dipanggil hanya tersenyum, kemudian menunduk kembali untuk menyaksikan ajang musik Korea yang ditunggunya. "Memang apa bagusnya sih orang-orang itu?" Goushi mengambil ponsel (name) lalu menatap idola asal Korea tersebut.
"Mereka sangat keren, Goushi!"
Goushi mendengus kesal, lalu menutup ponsel milik (name). "Apakah kau lupa bahwa aku adalah seorang idola...?"
(Name) mengacungkan ibu jarinya ke arah Goushi sambil mengangguk-angguk. "Bagiku, Thrive adalah yang paling baik. Namun aku juga suka BTS," ucapnya sambil memasang cengiran tak berdosa.
Goushi melipat tangannya di dada, lalu mengeluarkan karcis masuk ke konser Thrive yang sudah susah payah didapatkannya. "Khusus untukmu, tempat VIP. Kau harus datang, ya." Pemuda itu memalingkan wajahnya, kemudian melanjutkan, "Mendapatkan karcis ini sangat susah. Usahakanlah datang. T-tetapi, itu bukan berarti aku sangat mengharapkan kedatanganmu."
-End-
KAMU SEDANG MEMBACA
Idol Hell
FanfictionCLOSE REQUEST Sebuah fanfiction khusus untuk fandom Idol. Fandom yang tersedia saat ini : 1. Utapri 2. B-Project 3. Marginal #4 Kiss Kara Tsukuru Big Bang Sempat menjadi #1 di tag BProject
