Baru kali ini Yuni menangis tiada henti. Yuni menangis sembari memeluk lipatan kakinya. Di dunia ini tidak ada seorang Ibu yang hatinya tidak hancur ketika melihat anaknya ditabrak di depan matanya sendiri.
Hati Yuni hancur dan terluka, Laura putri satu-satunya yang dikenal sebagai sosok yang murah senyum kini tidak sadarkan diri. Secepat itu waktu merenggut senyum manis Laura.
Di tengah tangisnya, Yuni berandai-andai. Andai saja ia tidak mengajak Laura kabur, pasti saat ini Laura masih baik-baik saja. Yuni menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa Laura. Laura tidak akan tertabrak jika ia tidak mengajak putrinya itu kabur. Semua ini kesalahannya.
Laura sudah di bawa ke Rumah Sakit terdekat. Setelah Laura mendapat penanganan, Dokter mengatakan jika gadis itu tidak meninggal. Laura hanya mengalami henti jantung selama beberapa menit. Laura masih hidup, akan tetapi kondisinya kritis karena benturan keras di kepalanya.
Mendengar Laura masih hidup tentu saja menjadi suatu kelegaan bagi Yuni. Tapi itu tidak lantas membuat Yuni berhenti menangis. Yuni masih menangis karena kondisi Laura belum bisa dikatakan baik-baik saja.
Laura kini berada di ruang ICU untuk mendapat perawatan lebih. Laura dinyatakan koma, kondisinya masih sangat mengkhawatirkan.
Suara derap langkah kaki seseorang terdengar keras membuat Yuni menoleh. Yuni mendapati Laskar berlari menuju ke arahnya. 15 menit yang lalu Yuni menghubungi Laskar dan mengatakan bahwa Laura mengalami kecelakaan.
Yuni memperhatikan penampilan Laskar. Laskar tidak serapi biasanya. Laskar datang hanya dengan mengenakan kaos lengan pendek dan celana selutut. Penampilan Laskar cukup memperihatinkan, rambutnya acak-acakan dan wajahnya terlihat sayu.
"Tante! Gimana kondisi Lora?" Laskar tidak bisa menyembunyikan raut wajah penuh kekhawatirannya di depan Yuni. Hati Laskar hancur ketika mendapat kabar bahwa Laura mengalami kecelakaan. Laskar sangat takut kehilangan sosok Laura di hidupnya.
"Lora kritis." sahut Yuni.
Dada Laskar tiba-tiba terasa sesak ketika mendengar sahutan Yuni. Mata Laskar memerah dan berkaca-kaca. Mendengar Laura kritis membuat pertahanan Laskar runtuh. Laskar menangis di depan Yuni. Laskar rapuh tanpa Laura.
"Sebelum dibawa ke Rumah Sakit, Tante sempet ngira Lora meninggal. Lora tadi gak ada denyut nadinya, detak jantungnya juga berhenti. Tapi pas udah dibawa ke Rumah Sakit dan ditangani Dokter, Lora ternyata gak meninggal. Lora cuma mengalami henti jantung." pungkas Yuni.
Laskar berdiri bersandar di tembok. Laskar menunduk, matanya menatap lurus lantai keramik.
"Kalo nanti aku gak kembali, jangan nangisin kepergian aku!"
Ucapan terakhir Laura kembali terngiyang di kepala Laskar. Ternyata ucapan Laura itu bukan sekedar ucapan biasa, ucapan Laura itu doa yang menjadi kenyataan. Penyesalan selalu datang di akhir. Laskar kini menyesal telah mengusir Laura dengan kata-kata sarkatis. Jika tahu Laura akan berakhir seperti ini, Laskar tidak akan mengusir Laura dari apartemennya.
Laskar kembali menatap Yuni. "Lora kecelakaan waktu pulang dari apartemen aku?"
Yuni menggeleng. "Bukan. Lora kecelakaan waktu mau kabur sama Tante. Tante jadi buronan karena udah nipu orang. Tante niatnya mau kabur ngajak Lora, tapi di tengah jalan---ada mobil yang nabrak Lora..."
"Tante harusnya kalo mau kabur, kabur aja gak usah ngajak Lora! Lora bisa hidup sama aku!" Laskar menatap tajam Yuni. Laskar menyalahkan Yuni atas apa yang terjadi dengan Laura.
"Tante tahu Tante salah, ini salah Tante. Lora kecelakaan gara-gara Tante---"
"Kalo terjadi sesuatu yang buruk sama Lora, aku gak akan pernah maafin Tante! Ini semua salah Tante!" Laskar bersungut-sungut menyalahkan Yuni.
KAMU SEDANG MEMBACA
For Him (End)
Roman pour AdolescentsIni tentang LASKAR, LAURA dan LUKA. ***** Laskar artinya prajurit. Diharapkan ketika dewasa Laskar bisa setangguh prajurit. Tapi kenyataannya Laskar serapuh kertas. Hidup dengan berbagai masalah membuat Laskar hampir menyerah. Laskar dibenci dan sel...
