🌻Umi notes:
Ini bagian B atau bagian dua☺ selamat membacaaa😘
****************
Pukul 8 pagi Laura masih bergelung di balik selimut. Laura terbangun dari tidur nyenyaknya saat merasakan silau di matanya. Sinar matahari yang menyeruak dari jendela terasa hangat di kulit membuat tidur Laura terganggu.
Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, Laura mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang ditempatinya.
Seketika nyawa Laura langsung terkumpul begitu menyadari ruangan yang ditempatinya ialah kamar Laskar. Laura ingat semalam dirinya mabuk, tapi tidak ingat apa saja yang dilakukannya bersama Laskar di kamar ini. Untuk memastikannya, Laura menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
Helaan napas lega keluar dari mulut Laura saat mendapati tubuhnya masih memakai gaun yang semalam dipakainya. Itu artinya semalam tidak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Laskar.
Laura bangkit dari berbaringnya lalu duduk bersandar di sandaran ranjang. Laura berdesis, kepalanya terasa sakit dan sedikit berputar-putar. Mungkin ini akibat dirinya terlalu kalap saat meminum alkohol. "Sshh..."
Laskar keluar dari toilet dengan mantel handuk yang membalut tubuhnya. Laskar berjalan santai melewati Laura yang masih duduk di ranjangnya tanpa mengucapkan apa-apa.
Laura menatap Laskar yang kini berdiri di depan lemari. ''Semalam kamu tidur dimana?"
"Ngapain nanya?" Bukannya menjawab, Laskar malah balik bertanya. Laskar mengambil dua hoodie di lemarinya, satu untuk dipakainya dan satu untuk dipakai Laura.
"Ayang jawab!"
Laskar berjalan menghampiri Laura. "Aku tidur di sofa."
"Sofa mana?"
"Sofa di ruang tamu, ya kali sama kamu! Kita kan bukan muhrim!"
Laura kembali bernapas lega. Syukurlah Laskar tidur di sofa di ruang tamu bukan tidur bersamanya di ranjang seperti yang dipikirkannya.
Laskar menatap Laura. "Kenapa nanya-nanya?"
"Gak papa." Laura menggeleng kemudian menyengir. "Aku cuma nanya aja."
"Halah bilang aja kamu mau nuduh kita tidur bareng terus aku perawanin kamu!" Laskar mendengus, tentu saja cowok itu tahu apa yang dipikirkan Laura. "Pikiran kamu ngeres, Lor!"
"Ya... aku kan cuma nanya buat berjaga-jaga. Semalam aku mabuk, aku takut aku sama kamu ngelakuin---"
"Shut up!" Laskar dengan cepat memotong ucapan Laura. Laskar tidak ingin mendengar kelanjutan ucapan Laura.
Laskar memberikan Laura hoodie dengan cara melemparnya. Lemparan Laskar jatuh tepat di kepala Laura. "Sana mandi biar pikirannya jadi jernih! Abis mandi pake hoodie itu!"
Dengan malas Laura bangkit dari duduknya. Laura masih sedikit lemas karena kelaparan. Perutnya sudah keroncongan minta diberi makanan.
Laura mengerlingkan matanya saat melewati Laskar. "Mandiin dong!"
Laskar melotot. "Kamu waras, Lor?"
"Waras lah! Kenapa nanya?"
''Cuma orang gak waras yang minta dimandiin sama yang bukan pasangan sahnya!"
Selorohan Laskar berhasil membungkam Laura. Niat hati ingin menggoda Laskar, malah berakhir diberi kalimat yang membuat hati tertampar. Ah, mulut julid Laskar ternyata tidak pernah ada liburnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
For Him (End)
Ficção AdolescenteIni tentang LASKAR, LAURA dan LUKA. ***** Laskar artinya prajurit. Diharapkan ketika dewasa Laskar bisa setangguh prajurit. Tapi kenyataannya Laskar serapuh kertas. Hidup dengan berbagai masalah membuat Laskar hampir menyerah. Laskar dibenci dan sel...
