Ia kini sudah berada di aula, tepat nya ia hanya melihat aula tanpa maju kedepan, saat duduk di bangku nya, teman nya pun menegur nya agar maju kedepan.
"Wey, lo disuruh maju kedepan, udah giliran elo, dari tadi lama amat pingsan nya"
"Yaelah, sabar napa Pol, baru bangun juga"
"Eh tu apaan? Kenapa diplester pipimu?
" nanya? Dah ah! Males gua"
Indo pun beranjak menuju kedepan aula, yang emang sudah ditunggu orang, apalagi pada pergi ke kantin noh.
"Pak? "
"Eh iya, loh Indo? "
"Nape pak? "
"Ah, gapapa, "
Indo mengangguk sambil berdiri diam menatap mereka mengobrol tapi un-faedah, Indo berdecak, mendapati dirinya di kacangin.
" dikacangin aing teh"
"Eh, maaf Indo, maksud nya kami ingin melihat kekuatan mu apa, jadi bisa lebih mudah mengenali mu"
"Pak UN mah, gini amat"
UN menggaruk tengkuk nya yang tak gatal, ia pun menyuruh Indo turun ke lapangan untuk memperlihatkan sihir nya.
'Duh, mampus mampus mamam, tolol, ngapain elu kesini ngento- tau akhir nya gimana'
"UN!? " Sean memanggil nya.
"Eh naon, ups.. Maaf, kenapa Sean? "
Mengajak UN agak jauh dari Indo.
ia pun berbisik pelan membelakangi Indo, muka pucat Indo pun terlihat kembali, ia mengingat berapa kejam nya pemerintah Nippon paint.
"Ssst! UN, Indo demam ogeb, masa iya langsung disuruh"
"Lah, elu kagak bilang dari tadi! " volume UN yang tak santai dapat didengar Indo, bahkan mic yang belum di matikan juga menangkap suara nya.
"Sut up! Suara lu kedengeran congek"
"Ah! Maaf-maaf.. Ekhem! Baiklah Indo, untuk sementara kau tak ikut pengetesan sihir"
"Yes! " gumam Indo pelan, ia pun melihat UN, "makaseh om, eh tan, eh kek" sementara UN menatap nya datar karena dipanggil seperti itu.
Indo segera pergi, ia ingin ke kantin karena lapar, dikantin juga banyak orang, Indo berlari kecil kearah kantin yang tak banyak antrian nya.
Indo kini berada di halaman belakang sekolah, tepat sekali ada pintu belakang yang tak dapat dilihat atau memang disengaja para organisasi. Dan disana terdapat hutan lebat seperti tidak ada yang pernah kesana.
"Ah! Indo! Kau sedang apa? "-ucap seorang perempuan dibelakang Indo.
Indo tersentak, ia sedikit gugup karena dia.. "Pa-pales.. Tidak ada! Aku hanya melihat hutan yang itu.. Kau tau tentang nya? "
"Hm.. Rumor nya kalo orang lain masuk kedalam hutan nya bakalan gk bisa balik, karena ada penjaganya, karena hutan tersebut dinamakan hutan Nusantara, dan pemilik tersebut bernama Nusantara, jadi tak aneh kalo ada penjaga nya" ujar nya berkata panjang.
"N-nusantara?.. Aku mau coba masuk kedalam hutan nya, apa boleh ya? "
"Jangan! Sekali masuk tak akan kembali lagi! Aku juga khawatir Indo.. "
Mengatakan kata seperti itu, wajah Pales memunculkan rona merah di pipi nya, Indo juga sedikit terkejut, tapi ia mengelus kepala Pales yang tertutup hijab tersebut.
Pales menjadi-jadi dibuat nya, muka nya padam tatkala mendapat perhatian seperti itu selain kakaknya, ia menutup muka nya.
Tapi terlihat Indo mendekat kepada wajah Pales yang ditutup. "Ah! Apa kau demam? Pales baik-baik saja kan? " ucap nya sambil meraih tangan Pales agar melepas nya.
Muka Pales terbuka sepenuh nya karena Indo meraih kedua tangan nya , Pales tak bisa berkata lagi, ia tak punya tempat untuk memendam muka nya itu, jadi hanya menutup mukanya.
Indo sedikit blush melihat wajah Pales, 'sial, teracuni dengan keimutan nya, akh!! GEMESH GUE!!? "
Indo tak mengerti pergerakan apa yang akan dia lakukan, ternyata ia mencium kedua punggung tangan Pales.
Karena kejadian tersebut, Pales pingsan, tubuh nya terjatuh. Untungnya Indo sudah menangkap nya terlebih dahulu agar tak tumbang duluan, ia dengan segera mengangkat tubuh Pales.
Saat melewati seseorang diyakini ia kakak Pales, tentu nya melihat itu panik sambil mengikuti Indo ke UKS.
"Indo! Apa yang terjadi!? " ucap Pakistan diambang pintu UKS.
Indo terdiam, ia hanya cengar cengir sambil meruntuki perbuatan nya yang kelewatan mesra.
"Em.. Kakak ipar.. Tadi kulihat Pales pucat, saat ku dekati dianya pingsan.. "
"Ya ampun Pales.. Kamu kalo sakit tidak bilangin abang.. "
'Eh, dia denger gak ya klo aku panggil kakak ipar? '
"Oh iya, kenapa panggil saya kakak ipar? "
Deg!..
"A-a.. Kapan aku memanggilmu seperti itu y-ya?.. "
"Huh lupakan"
Indo sudah melesat pergi saat Pakistan mendekati Pales. Jantung Indo seperti di cabut karena ditatap tajam oleh nya.
Dengan segera ia pulang tapi dengan Teleportasi, karena tak mau saudara nya mengetahui dirinya mempunyai kekuatan portal, jadi langsung ke kamar nya.
...
"Huh.. Nesia.. Timor.. Sampai kapan kalian tidak menampak kan diri.. "
Berucap demikian sedaritadi, Indo meruntuki dirinya sendiri di balkon kamar nya, karena sedang bosan dengan ini semua.
"Kakak! Kita akan tetap bersama kan?.. Huh.. Lantas dimana dirimu Nesia?.. "
Ia tampak mengulangi ucapan Nesia dulu, tersirat kekecewaan dalam dirinya karena telah mengingkari janji nya itu, sangat menyesal rasanya, jantung nya berdegup kencang, isak tangis terdengar sedari tadi, sesak.
Diri Indo juga kesulitan mengucapkan kata tersebut, ia menatap malam yang begitu gelap diterangi rembulan yang selalu muncul setelah renjana.
"Argh!.. Tetap tegar Indo! Kau pasti bisa! Ya! Bisa!!.. Hiks.. " selalu saja melontarkan kalimat seperti itu, walau mulut nya kuat berkata demikian, tapi hatinya terasa rapuh.
Indo menengkulapkan wajah nya dengan tangan yang berada di atas meja, menangis terus membuat tenggorokan terasa sakit dan gatal.
Tak lama tangis nya berhenti, ia menghela nafas, dan kembali pada posisi semula, ia mengambil gawai nya dan membuka sosmed seperti biasanya karena tidak ada pekerjaan, tapi hanya ada gawai tersebut.
ia memasuki kamar nya dan menuju ke arah Gramophone, alat penyetel musik antik selain radio jaman dulu, ia memutar lagu tokoh bangsa negara, yaitu Ismail Marzuki, yang berjudul Juwita Malam.
Alat antik tersebut pun berputar, lagu tersebut dinyanyikan nonaria.
Indo juga ikut menyanyikan lagu tersebut dengan merdu.
Juwita malam..
Mata nya terasa berat untuk tetap sadar, kantuk yang selalu menang melawan segala nya membuat nya terlelap, menuju dunia mimpi, membiarkan lagu menyala.
"Apakah adik ku baik-baik saja tuan Sean?.. "
"Tentu saja tuan TNI! "
[To Be Countinued]
Khekhe..
Gimana nih? Jan lupa vote!
Author's batin:bakalan rame gak ya? Mungkin iya.. Tapi klo cuma baca gk vote mau gak mau gua hiatus permanen deh..
Temen thor's;ya jangan njeng!
Selamat membaca dan semoga suka well✌🙂❤🍅
31-7-23
KAMU SEDANG MEMBACA
MAGICAL-GARUDA
Historical Fiction[Sampul cari di google] Legenda itu, membuat Indonesia sedikit tegang, pasal nya banyak yang curiga kalau dia seorang anak raja tersebut. Ya, Indonesia. Telah menyamar menjadi seorang biasa, nama samaran nya pun Indonesia Raya. Dirinya mempunyai...
