BAB 11

3.2K 243 22
                                    



Besoknya saraga gundah, tiba tiba perasaannya tak enak. Dilihatnya Azka sibuk tata sarapan dimeja makan, ada yang salah tapi saraga tak tau apa itu.

"Kenapa ? Nasi gorengnya gak enak?"

"Enak kok" nasi gorengnya ditelan paksa mengabaikan rasa mual diperutnya.

"Aku bikin bekel, nanti jam istirahat jangan lupa dimakan ya .. soalnya kata Haris kamu susah kalo diajak makan siang"

"Hari ini aku mau bolos yah..gak mau ngampus, pengen disini sama Azka"

Azka kaget sambil rapihkan bekas makannya

"Bolos? Hei.. bulan depan kamu ujian semester 3, katanya mau cepet cepet lulus"

Tapi saraga keukeuh pelukin Azka yang sedang cuci piring " tapi saraga gak mau ninggalin Azka sendirian"

"Biasanya Azka ditinggal sendiri baik baik aja, kok tiba tiba kamu jadi manja gini. Lagian hilal lagi dijalan mau kesini, jadi aku gak sendirian "

Saraga menggeleng kecupi bahu Azka.

Akhirnya saraga kalah, dengan berat hati pergi kekampus. Azka masih berdiri dipintu tunggu sampai dirinya masuk lift, tangannya melampai dengan senyum menghias wajah cantiknya.

Dalam hati saraga berdoa agar Tuhan selalu lindungi suami dan anaknya.

...

"Masih dimana?"

"Baru turun dari grab, macet banget anjir..mana panas"

Azka tertawa dengar keluhan temannya, lalu matanya mencari mixer untuk membuat bolu bersama hilal nanti.

"Tapi Lo gak lupa kan beli choco chips?"

Tangannya ambil kursi untuk meraih mixer yang saraga simpan diatas lemari.

"Nggak lah..yaudah gua tutup_"

Siapa sangka, semua terjadi begitu cepat.

Tepat saat hilal tutup telfonnya. kursi yang Azka naiki oleng, jatuh bersamaan dengan Azka yang pingsan tak sadarkan diri karna kesakitan.


....

"Si anjing lagi mandi atau apa sih lama bener"

Sekali lagi telfonnya tak diangkat , bell apartemennya dipencet brutal.

Tak ada pilihan lain, hilal harus ganggu saraga untuk meminta pin apartemennya.

" raga...pin apartemen lu berapa? Si Azka gak bukain pintu soalnya"

"151102"

"Pelan woy...15_"

"11_02"

"Dasar bucin..dah gua tutup"

Pintu terbuka, hilal masuk dengan santai tapi saat lewati dapur badannya langsung lemas melihat Azka tak sadarkan diri dengan darah basahi lantai.

"AZKA....!!!"


.....

"Hiks...mama hilal takut" hilal nangis sesenggukan liatin Azka dikerumuni dokter diruang IGD.

"Kamu suaminya?"

Hilal menggeleng, lalu menunjuk saraga yang lari cepat hampiri dirinya.

"Itu suaminya"

Hilal tak tau apa yang saraga dan dokternya bilang. yang dia liat, Azka dibawa pergi oleh perawat dan saraga yang keluar dari ruang dokter dengan tangis yang kencang.

Dan yang pasti, bukan sesuatu yang baik

....

"Satya...kamu kenapa sih dari tadi kek gak tenang gitu, kenapa?"

Yang ditanya cuma diam mainin sup iganya, dimana membuat Sean geram

"Kamu aneh akhir akhir ini, please jangan bikin aku kaya gini. Kalo ada masalah bilang, jangan diem..kamu gak lupa kan kalo hari ini kita lagi rayain anniversary hari jadian kita?"

Satya buang pandangannya untuk tidak bertemu tatap dengan Sean.

"Oh...jadi bener kamu lupa, padahal aku udah bilang loh kemarin"

Rasa gundah Satya mengalahi rasa bersalahnya kepada Sean. Tangannya Tremor dengan dada berdetak kencang, seperti sesuatu mencoba memberi tahunya.

"Sean..aku minta maaf, tapi perasaanku tiba tiba gak enak"

"Trus aku harus gimana?"

Satya tatap tak enak Sean yang sudah jauhi makanannya "kamu mau pergi?"

Satya bangkit rapihkan tasnya " maaf Sean, Kayanya terjadi sesuatu sama saraga. Aku pamit cari dia, klo kamu mau ikut ayok"

Peluh sudah basahi dahi dan lehernya, tapi ucapan Sean malah membuat Satya tak habis fikir.

"Kamu mau cari saraga , apa diam diam mau ketemuan sama Azka?"

Alisnya menukik tak suka" maksud kamu?"

"Dulu kamu juga bilang nya gitu, ternyata malah jalan sama Azka mana kamu pakein dia cincin. Aku diem yah selama ini karna aku hargai kamu, hargai hubungan kita"

"Kita udah bahas ini sebelumnya, cuma salah faham Sean. Aku fikir masalah nya kelar, tapi kamu malah ungkit pas aku lagi kaya gini? Kamu gak tau gimana perasaan aku sekarang _"

"_kamu aja gak mikirin gimana perasaan aku. Aku sabar loh ngadapin kamu yang tiba tiba berubah akhir akhir ini, aku Coba beberapa kali perbaiki hubungan kita dan sekarang kamu mau pergi gitu aja?"

Kesabaran Satya menipis " terserah , aku tetep mau pergi. Maaf "

Satya pergi meninggalkan Sean yang menangis sendirian dengan hati yang hancur

"Anjing..bang raga Lo dimana? " panggilannya tak diangkat, Satya kacau. Dia tau jika kakaknya sedang dalam masalah dan yang jelas bukan pertanda baik.

Drt...drt...

Dengan cepat Satya angkat telfonnya, nomor tak dikenal.

"Hallo?"

"Ini Satya?"

"Iya, maaf ini siapa?"


"Aku hilal temennya azka_ azka masuk rumah sakit . Kamu bisa gak kesini? Soalnya saraga nangis dari tadi, aku bingung gak bisa tenangin dia"

Langkah Satya berhenti tepat didepan mobilnya, jantungnya berhenti sekejap.

Azka masuk rumah sakit?

"Share Lock sekarang, gua kesana"

....


Sepanjang hidup Satya, dia gak pernah lihat saraga sekacau ini. Kakaknya sosok yang kuat dan tegar, dia tak mengenal rasa takut. Tapi sekarang Kakaknya duduk disamping pintu ruang operasi, badannya bergetar menangis.

"Bang_"

Satya peluk kakaknya menyalurkan kekuatan.

"Bang raga harus banyak berdoa, semua bakal baik baik aja"

Tangisan saraga membuat hatinya hancur.

"Gua gak bisa sat !!" Suara serak saraga bergetar bersamaan dengan tangisan tak tertahan "Dokter bilang gua harus pilih Antara Azka sama bayinya _gua gak bisa!! Mereka segalanya, gua gak bisa kehilangan mereka"

Satya mematung, usapi punggung lebar kakaknya. Dia tak bisa membayangkan jika ada diposisi saraga, mungkin dia tidak bisa sekuat kakaknya.

Tuhan, tolong selamatin Azka dan bayinya. Satya mohon



TBC







Hello baby _sungjakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang