Kiara & Saka: Bagian 8

952 88 13
                                        

Bagian 8: Lebih Baik?

Akhir-akhir ini, Kiara merasa senang. Hubungannya dan Saka ada kemajuan meski tidak spesifik. Lelaki itu menjadi jauh lebih hangat dan setiap hari selalu memeluknya sebelum pergi atau ketika pulang kerja. 

Mengingat itu, senyum Kiara jadi merekah dan menarik perhatian Mbak Ratna yang sedang sibuk menghias bingkisan seserahan untuk acara lamaran Satria.

"Senyum-senyum kenapa nih?" Mbak Ratna terkekeh.

"Nggak kenapa-kenapa," elak Kiara. 

"Bahagia?" Tanya Mbak Ratna lagi.

Kiara tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Sepertinya itu sudah cukup menjadi jawaban yang membuat Mbak Ratna puas. 

"Bagus kalau begitu." Si sulung ikut senang. 

Tadinya, Ratna sempat khawatir dengan hubungan Kiara dan Saka. Seperti yang semua keluarga tahu, mereka sempat menentang karena Kiara seolah sebagai pengganti. 

"Kuenya juga langsung dibungkus kan, Mbak?" Gadis itu mengalihkan topik. 

"Iya, tolong bawa kesini. Ada di meja makan." 

Begitulah, dua bersaudara itu sibuk. Akhirnya, si bungsu dapat restu juga dari bunda untuk menikahi senior pujaan hatinya. Satria memang serius suka dan tidak mau ditikung karena kebetulan seniornya yang bernama Gina ini tidak mau pacaran. 

Bunda dan bapak juga tidak perlu khawatir lagi tentang cara Satria akan menafkahi keluarga kecilnya nanti. Usaha kaos dan sepatu lukisnya berkembang baik. Bahkan, Satria sudah mampu menyewa sebuah ruko sebagai studio produksi. Pemuda itu juga punya tiga orang pegawai yang membantunya membuat pesanan. 

"Pitanya kurang. Kia, bisa tolong beli di toko depan?" Pinta Mbak Ratna saat Kia kembali ke ruang keluarga sambil membawa sekeranjang kue pasar.

"Oke." 

Tentu saja, Kiara pergi dengan senang hati. Ia paling suka ke toko depan panti karena menjual banyak pernak-pernik lucu. 

Usai membeli pita, gadis itu segera kembali. Senyumnya tiba-tiba merekah lebar saat Saka keluar dari mobil. 

Hari memang sudah hampir senja. Lelaki itu tadi pagi sudah bilang akan mampir sepulang kerja. Ia juga bilang akan ikut menginap supaya tidak telat untuk acara besok. 

"Darimana?" Tanya Saka, heran melihat Kiara baru masuk gerbang. 

"Beli pita," jawab gadis itu. 

"Ayo masuk," ajak Saka cukup bersemangat. Bahkan, lelaki itu menautkan jemarinya dengan jemari Kiara. 

"Semangat amat, mau ngejek Satria ya?" Kiara terkekeh. 

"Nggak."

"Terus?"

"Mau peluk kamu, tapi nggak mungkin di luar sini kan?" 

Pipi Kiara memanas. Ia memalingkan wajahnya ke arah berbeda. Sedangkan Saka tertawa kecil. 

Benar saja, Saka langsung memeluk erat Kiara begitu masuk ke dalam kamar gadis itu. 

"Gimana di kantor?" Tanya Kiara. Ini adalah pertanyaan template yang ia tanyakan tiap Saka pulang kerja. 

Jawabannya bervariasi. Hari ini, lelaki itu menjawab, "capek. Rapat sana-sini." 

Pelukan Saka mengerat. Wajah lelaki itu sudah terbenam di ceruk leher Kiara. 

"Tadi jadi ke kampus?" Giliran sang lelaki yang bertanya.

"Jadi, tapi sebentar aja. Habis itu langsung kerja. Untungnya nggak banyak kerjaan, jadi bisa pulang cepat." Tangan gadis itu menepuk pelan punggung Saka. "Saka, nanti-nanti aku masih boleh kerja kan?" 

Different (Complete ✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang