Saka tampak begitu berantakan. Ia berjalan gontai ke arah Kiara. Menciumi keningnya berkali-kali. Lalu menggenggam jemari lentik wanita tersebut.
"Kikir." Pintu ruang perawatan terbuka.
Kirana yang sejak tadi mencoba hening langsung menoyor kepala temannya.
"Sori," bisik Kenzo. "Gue cuma mau lapor, udah diurusin yang di klinik. Terus ini gue bawa baju ganti juga. Nggak tau muat apa enggak. Tapi kayaknya muat sih. Ukuran gue sama dia mirip-miriplah."
"Banyak bacot, udah sana!" Usir Kirana, sama berbisik.
Kenzo mencebik, lalu keluar ruangan dengan mulut manyun.
Sementara Kirana meletakkan paper bag berisi baju ganti untuk Saka di meja dekat tempat tidur.
"Gue tinggal dulu," pamit wanita itu setelahnya.
"Kamu nggak mau dengar cerita saya?" Tanya Saka.
"Mau. Tapi gue harus ke kantor. Jadi gue utus Kenzo buat rekam cerita lo. Dia nggak bakalan ikutan dengerin kok. Cuma taruh recorder aja."
Kirana meringis. Ia merasa ini lebih baik menjadi momen berdua bagi Saka dan Kiara untuk meluruskan semuanya.
Meskipun Kiara tidak bergerak, tapi ia sadar dan mendengar semuanya.
"Terima kasih, Kirana." Ucap lelaki itu saat Kirana telah membuka setengah pintu ruangan.
"Gue nggak ngapa-ngapain," jawab wanita itu lalu keluar.
"Alat rekamnya udah lo nyalain kan yang di dalam tas?" Tanya Kenzo begitu Kirana keluar.
"Udahlah. Gue kan bukan pelupa atau yang suka ceroboh kayak elo." Ejek wanita itu. "Lo tunggu sini. Ntar bawa pulang rekamannya."
"Kenapa lo perintah-perintah gue sih?" Protes Kenzo.
"Kenapa lo mau nurut aja?" Kirana membalikkan keadaan.
Ia terkekeh lalu berjalan pincang menjauh dari ruang perawatan tempat Kiara terbaring.
"See you at home." Ucap Kirana sambil berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Sementara di dalam ruangan, Saka terus menggenggam jemari Kiara. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan dan mulai bercerita.
...
Saka pernah hancur akibat patah hati. Ia terlalu mencintai Sarah. Lima tahun jalinan kasih itu mereka rajut bersama. Tiba-tiba semua kandas hanya dua minggu sebelum hari besar mereka.
Tapi tak ada yang peduli dengan perasaan hancur Saka. Ayah dan ibu malah sibuk mencari pengganti, kepalang malu karena sudah bicara tentang pernikahan lelaki itu pada rekan-rekan mereka.
Tidak ada yang mau tahu tentang apa yang ia rasakan, kecuali satu orang. Kiara.
Kiara bukanlah orang asing. Wanita itu selalu ada di waktu paling rapuh sosok Saka. Sosok yang menjadi temannya menangis dan saling menopang dalam kesulitan.
"Ini ujian, bagian dari hidup. Kalau kamu bisa lewatin ini, berarti kamu sudah lulus jadi salah satu manusia yang hebat di mata Tuhan," ucap Kiara.
Tangan mungilnya menepuk pelan punggung Saka. Berusaha memberikan ketenangan juga penghiburan.
Keduanya duduk bersisian di bangku taman dekat panti asuhan yang dikelola oleh keluarga wanita itu.
Hujan telah reda menyisakan udara dingin menusuk tulang. Saka melihat Kiara melipat tangannya di depan dada untuk menghalau dingin. Namun wanita itu tidak mengeluh kedinginan dan tetap menungguinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different (Complete ✓)
RomanceDalam semalam, dunia Kirana si workaholic berubah. Tiba-tiba identitasnya berbeda dan yang lebih mengejutkan adalah ia menjadi ibu rumah tangga. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada Kirana? Mengapa bisa hidupnya berbeda 180 derajat dari sebelumny...
