Kota yang sebelumnya dilewati oleh Esmeralda kembali terlihat. Suasananya masih sama, butiran salju yang terus jatuh menumpuk di atap dan pinggir jalan ; suara riang dari permainan kejar-mengejar di antara anak kecil ; orang dewasa berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing.
“Sungguh, rasanya seperti mimpi,” gumam Esmeralda, mengulurkan tangan meraih butiran salju yang jatuh. “Sekarang aku menjadi istri dari pemilik Duchy ini.”
“Semuanya terasa bagai kebohongan.” Esmeralda lanjut bergumam dalam hati. Menggenggam setumpuk butiran salju di telapak tangannya dengan erat, lalu menjatuhkannya di luar kereta. Seperti itu jugalah perasaan Esmeralda saat ini, tak ada ruang untuk cinta. Hanya ada ambisi dan dendam.
Seiring perjalanan, dinginnya salju abadi di Duchy Tervacana terasa merasuk ke tulang-tulang meskipun sudah mengenakan mantel dan baju tebal. Namun semua itu tak bertahan lama, tatkala kereta memasuki portal teleportasi dan berpindah ke Duchy Persuella.
Suasana hangat dari pantulan mentari di siang hari menyentuh mantel dan baju tebal Esmeralda. Dalam sekejap, rasa dingin yang menusuk tulang menguap dan diganti dengan rasa panas seakan sedang dipanggang. Mau tak mau, Esmeralda menarik tirai kereta dan mengganti baju yang sudah disiapkan Anne di dalam kereta.
“Aku kembali, Eldrino!” Esmeralda berbisik lirih, menatap dinding kastil yang mulai terasa memuakkan untuknya. “Aku akan menghancurkanmu, hingga kau tak akan mampu untuk berdiri dan hanya bisa memohon di bawah lututku!”
Kereta pun berhenti di depan kastil. Para pelayan dengan cepat menggelar karpet merah, mulai dari tangga depan kereta hingga tangga di dalam kastil. Satu per satu dari mereka berbaris dengan sigap dan cepat.
“Selamat datang, Duchess!” sambutan hangat menggema, begitu sepatu esmeralda mulai menginjak karpet.
Esmeralda tak menggubris sambutan mereka. Sejenak, ia berdiri di depan pintu kereta dan mengamati setiap sudut yang mampu ditangkap oleh mata. Kastil yang dulu tampak kusam ketika ia pertama kali mengambil alih, kini mulai tampak bersinar dan penuh warna. Itulah hasil kerja keras Esmeralda.
“Sayangnya, mereka sama sekali tak menghargaiku.” Esmeralda berkata dalam hati, menatap datar para pelayan dan Butler. Mereka yang hidup dengan baik, terhindar dari derita kemiskinan rakyat jelata karena usaha Esmeralda ternyata berkhianat.
Pengkhianatan mereka adalah menyembunyikan fakta-fakta perselingkuhan Eldrino. “Tak ada kata ampun bagi kalian,” ucap Esmeralda dengan teguh dalam hati.
“Apa ada sesuatu yang mengganggu Anda, Duchess?” Butler berjalan mendekat, membungkuk dan menanyakannya dengan sopan.
“Tak ada.” Esmeralda menjawab tegas. Ia berjalan tegak melewati Butler.
Langkah demi langkah bergema di dalam kastil. Tujuan Esmeralda adalah ruangan kerjannya. Selama ini, ialah yang mengambil alih sebagian besar tugas suaminya sebagai pengurus wilayah. Sekarang adalah waktu untuk mengembalikan semua pada posisinya semula.
“Kenapa kertasnya semakin menumpuk?” Esmeralda bertanya pada Butler yang mengekor di belakangnya, begitu ia masuk ke ruangan kerja.
Awalnya, tumpukan kertas itu hanya ada dua gunung saja. Namun kini, tumpukannya bertambah tiga kali lipat.
“Mohon maaf Duchess, ini adalah tumpukan dokumen yang tak terurus ketika Anda sedang pergi ke Ibukota,” jawab sang Butler dengan sopan dan hati-hati.
Alis Esmeralda mengerut. Ia menoleh, mengamati sang Butler dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Penampakan Butler tampak seperti pria 40 tahun, padahal umurnya sudah 50 tahun. Rambutnya mulai dipenuhi uban ; kacamata khas Butler bangsawan pada umumnya—Berbentuk bulat dan hanya terpasang pada satu mata saja.
Dengusan pendek dan kasar lolos dari bibir Esmeralda. “Yah, ini membuatku semakin mudah untuk menghancurkannya,” pikir Esmeralda.
“Pergilah.” Esmeralda memberikan perintah tegas dan dingin pada Butler. Dalam sekejap mata, Butler itu langsung pamit dan pergi meninggalkan ruangan.
Pintu menutup, suasana langsung berubah menjadi hening. Hanya ada Esmeralda seorang di dalam ruangan itu.
“Harus dimulai dari mana untuk menghancurkan semuanya?” bisik Esmeralda pada diri sendiri, mengambil setumpuk dokumen dan membacanya satu per satu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Simpanan
RomanceBy Holy prince Mata dibalas mata. Pengkhianatan dibalas dengan pengkhianatan. Itulah moto hidup sang Esmeralda Persuella, Duchess Persuella. Ia tak tinggal diam, melihat perselingkuhan sang suami-Eldrino Persuella. Esmeralda, malah balik berseling...
