"I-iya." Duke Olean menjawab dengan wajah memerah. "Benda ini tak bisa dikendalikan dan membuat tubuhku terasa aneh."
Hahahaha! Tawa Esmeralda langsung pecah. Wanita itu tertawa terpingkal-pingkal sambil menutupi bibirnya dengan tangan.
Pipi Duke Olean pun memerah dan terasa panas, seakan-akan api menjilati wajahnya.
"Harusnya aku tak mengatakan itu!" batin Duke Olean, penuh sesal.
Rasanya, ia ingin menghilang dari muka Bumi saat itu juga. Namun itu mustahil untuk dilakukan.
"Hei, Duke! Aku tak menyangka kalau kau begitu polos!" seru Esmeralda, menahan tawa dan mengulas senyum lebar. "Itu adalah hal yang wajar, bagi seorang pria."
Mendengar kata-kata Esmeralda, Duke Olean pun membalikkan tubuh dan menatap Esmeralda dengan raut bingung. "Maksudnya?" tanya Duke Olean.
Esmeralda melipat kedua tangannya di depan dada, melirik sesuatu yang menonjol jelas di balik kimono bagian pangkal paha.
Pipinya bersemu merah. Ia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke wajah tampan Duke Olean dan berkata, "Benda itu akan berdiri, ketika kamu bergairah. Ada cara untuk membuatnya kembali lemas."
Mata Duke Olean terbelalak lebar. Ia sontak meletakkan kedua tangannya di pundak Esmeralda dan mendekatkan tubuhnya, satu langkah. "Benarkah? Bagaimana caranya!" seru Duke Olean, menggebu-gebu.
"Aku akan membantumu," kata Esmeralda, tersenyum menyeringai.
"Tapi ada syaratnya," tambah Esmeralda.
"Apa itu?" Duke Olean bertanya dengan alis terangkat sebelah. Ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mengatasi "benda" yang tak bisa dikendalikan. Tentu saja, ia tak akan melewatkannya seperti angin lalu.
Senyum di bibir Esmeralda tambah melebar, membuat wajahnya tampak cantik—secantik kelicikannya sebagai seorang wanita bersuami dua.
"Ajarkan pelayanku ilmu pedangmu, wahai SwordMaster." Esmeralda menjawab sambil membungkukkan badan dengan sopan.
Duke Olean mengerutkan alis, mendengar pertanyaan Esmeralda. "Apa hanya itu, permintaanmu?" tanyanya.
Esmeralda yang tadi membungkuk, sekarang berdiri dengan tegak. Ia menatap Duke Olean dengan yakin dan berkata, "Ya."
"Hanya itu?" pikir Duke Olean. "Kukira dia akan meminta tambang emas, atau izin untuk memasuki brankas pribadi keluargaku."
Helaan napas panjang lolos dari bibir Duke Olean. Lelaki bergelar SwordMaster itu menjawab, "Aku akan melakukannya."
"Bagus. Sekarang, Anne bisa merobohkan dinding yang menghalanginya dengan bantuan Duke Olean," batin Esmeralda.
Ia menatap Duke Olean, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Namun tatapannya kembali terfokus pada "benda" yang menonjol di antara pangkal paha Duke Olean.
"Benda itu cukup besar, tak bisa dibandingkan dengan 'milik' Eldrino," pikir Esmeralda.
Ia lalu berlutut dan melepas sabuk pinggang yang mengikat kimono Duke Olean. "Benda" yang disembunyikan Duke Olean pun, terpampang dengan jelas.
Duke Olean terkesiap kaget, melihat Esmeralda membuka kimononya dan berlutut di depan tubuh telanjangnya.
Lelaki itu sontak melangkah mundur dan memasang sabuk kimono tadi. Ia menatap Esmeralda dengan tajam dan datar, "Apa yang kaulakukan?"
Esmeralda pun memiringkan kepala dan memasang raut polos di wajahnya. "Bukannya Anda ingin tahu cara mengendalikan benda itu? Saya baru saja akan melakukannya," sahut Esmeralda, polos.
"Tapi Anda malah menghindar. Yang harus Anda lakukan hanyalah diam dan menerima. Sisanya, saya yang ambil alih," lanjut Esmeralda. "Memangnya Anda yakin, ingin melewatkan kesempatan untuk mengendalikan benda itu?"
Kalimat yang lolos dari bibir Esmeralda barusan, berhasil membuat Duke Olean bimbang.
Lelaki itu menatap benda yang menonjol di balik kimononya. "Benar, aku harus mengetahui caranya!" seru Duke Olean, dalam hati.
"Lakukan apa yang terbaik, untuk mengendalikan benda ini." Duke Olean pun melepas kimononya dan membiarkannya tergeletak di lantai.
Tubuhnya benar-benar bersih dari helaian kain penutup.
Esmeralda pun mendekat dan melanjutkan apa yang sempat tertunda.
***
Malam Pertama pengantin baru pun usai dengan panjang.
Kini, Esmeralda berada dalam kereta kuda yang bergerak meninggalkan Duchy Tervacana.
Atensinya jatuh pada sepasang anting Ruby merah yang diberikan oleh Duke Olean. Perhiasan itu tampak bersinar di bawah sorot cahaya mentari yang tembus dari jendela kereta kuda.
Kata-kata Duke Olean tadi masih menggema dalam kepalanya, "Aku ... aku ingin kau datang kepadaku setiap malam."
"Tadi pagi aku coba melakukan hal yang sama, untuk menjinakkan 'benda' ini. Tetapi aku tak bisa," ungkap Duke Olean, membelakangi Esmeralda.
Wajahnya terasa panas, diiringi rasa malu setiap kali memandang manik mata Esmeralda.
Kedua manik mata itu berhasil membawanya mengingat, betapa panasnya malam yang tadi mereka lalui.
"Di dalam sini ada sihir teleportasi, ya." Esmeralda bergumam, berhenti melamun dan kembali fokus pada anting-anting di genggamannya.
Ia menghela napas, tersenyum kecil. Kemudian memasang anting-anting itu di telinganya.
Andai Anne atau Asta berada di situ, mereka pasti akan langsung menawarkan diri untuk membantu memasang anting-anting tersebut.
Sayangnya, Esmeralda meninggalkan keduanya di sana. Sebab hanya di tempat Duke Olean, mereka akan mendapat sumber daya untuk mengembangkan kemampuan berpedang dan sihir.
"Ke depannya, aku akan kesepian," gumam Esmeralda, menopang dagu dengan punggung tangan dan menoleh ke arah jendela.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Simpanan
RomanceBy Holy prince Mata dibalas mata. Pengkhianatan dibalas dengan pengkhianatan. Itulah moto hidup sang Esmeralda Persuella, Duchess Persuella. Ia tak tinggal diam, melihat perselingkuhan sang suami-Eldrino Persuella. Esmeralda, malah balik berseling...
