Esmeralda ikut tersentak. Ia pun ikut berhenti makan dan menatap Duke Eldrino. “Bukankah itu hal yang wajar sebagai seorang Duchess untuk membeli beberapa gaun mahal?” sahut Esmeralda.
Ini sudah ke sekian kalinya ia dan Duke Eldrino bertengkar karena masalah uang. Sungguh, suami pertamanya itu sangat pelit. Berbeda dengan Duke Olean, si Suami Simpanan.
“Bahkan Duke Olean memberikanku anting-anting dari ruby dengan mudah,” batin Esmeralda, membandingkan keduanya. Padahal, bila dilihat-lihat … Duchy Persuella jauh lebih makmur dan berlimpah. Harusnya, satu atau dua gaun mahal tidak akan jadi masalah.
“Tetap saja, seorang Duchess tidak boleh boros karena mereka harus mengajarkan cara berhemat kepada bawahannya.” Eldrino menyahut dengan datar.
Muak mendengar ocehan pria itu. Esmeralda langsung bangkit dari kursinya sambil berkata, “Aku sudah kenyang.”
Ironis rasanya mendengar kalimat berhemat dari bibir suaminya itu. Ia menyuruh Esmeralda untuk berhemat, sementara gaun serta permata dari ujung benua pun akan dibeli untuk selingkuhannya.
“Duduk kembali, Esmeralda!” Pria itu memicingkan matanya dengan tajam, memberikan perintah tegas nan lantang pada Esmeralda agar kembali duduk. “Sungguh, kenapa aku harus menikahi wanita yang tak tahu tata krama ketika makan.”
Esmeralda yang baru saja menggenggam gagang pintu, langsung menoleh. “Aku pun juga heran, kenapa harus menikahi pria pelit dan perhitungan sepertimu,” sahutnya, tak kalah pedas.
Duke Eldrino tertohok. Ia berhenti mengunyah dan menghantam meja makan dengan keras. “Berhenti di sana, Wanita Jalang!” teriak Duke Eldrino, menunjuk Esmeralda menggunakan garpu di tangannya.
Brak! Pintu dibanting sekuat-kuatnya, hingga para Kesatria terkejut dan saling pandang. Mereka mulai terbiasa dengan banting-membanting pintu yang dilakukan sepasang penguasa itu.
Sepanjang perjalanan, para pelayan menunduk hormat begitu Esmeralda lewat. Sesaat, salah satu dari mereka mengangkat wajah—mencuri pandang.
“Cantiknya,” gumam pelayan berambut cokelat tersebut.
Temannya yang berada di samping, langsung mengangguk sebagai tanda setuju. “Benar, setiap kali aku melihat Duchess. Aku selalu terpana,” sahutnya.
Mata mereka selalu tersorot pada setiap langkah Esmeralda, hingga sosoknya hilang di balik dinding kastil.
***
Desahan napas lolos dari bibir ranum Esmeralda. Ia duduk di dinding gazebo yang berada di taman mawar. Wanita itu memeluk lutut, memejamkan mata dan menikmati aroma mawar-mawar yang perlahan layu karena mulai memasuki musim gugur.
“Nyonya, bagaimana Anda bisa begitu cantik!” Asta berseru sambil mendekat dengan matanya bulatnya yang berbinar-binar, penuh kekaguman.
“Saya akan menghancurkan semua yang mengancam Anda, jadi berhentilah sedih … Nyonya.” Anne menancapkan pedangnya ke tanah, lalu meraih punggung tangan sang Duchess dan menciumnya dengan penuh rasa hormat.
Suara dan tingkah mereka tiba-tiba menggema dalam ingatan Esmeralda, membuat senyumnya merekah dengan balutan air mata rindu. “Andai kalian ada di sini, aku pasti tak akan merasa sepi seperti sekarang,” lirih Esmeralda, memeluk lututnya dengan erat dan bersembunyi di antara celah paha.
Wanita itu tak menyadari bahwa lingkaran sihir teleportasi muncul di belakangnya, memperlihatkan siluet Duke Olean yang tampak kehabisan kata. Pria itu meneguk ludahnya dengan kasar dan meraba dada kiri, tempat jantung berada.
Saat ini, jantungnya berdegup kencang bagaikan suara tapak kuda yang berlari liar di medan perang. Bersamaan dengan degup kencang itu, rasa pilu menerobos masuk ke dalam hatinya, bagaikan pagar air yang tak mampu menahan hantaman ombak.
“Ada apa denganku?” Duke Olean berbisik pada diri sendiri sambil mengepalkan tangannya di atas dada.
Ia merasa aneh dengan keinginan kuat dalam dirinya yang ingin merengkuh wanita itu ke dalam pelukan. Kemudian mengecup bibirnya dan mengatakan kalimat penenang, agar tangisannya terhenti. Membayangkan hal itu, wajah Duke Olean langsung bersemu merah.
Jauh di lubuk hatinya, Duke Olean sangat ingin menenangkan wanita itu agar tangisannya terhenti. Namun, hasratnya juga berkata untuk memeluk dan mengecup bibir Esmeralda.
“Menyatukan napas sambil memperhatikan tangisan wanita itu pasti terasa menyenangkan,” sahut hasrat Duke Olean.
Kepalanya menggeleng, tangannya mengepal erat sambil menarik napas dalam. Duke Olean merasa dirinya terlalu cabul setelah melewati malam panas bersama Esmeralda.
“Aku tak boleh memikirkan hal seperti itu kepada wanita yang sedang bersedih,” gumam Duke Olean, menekan hasrat menggebu-gebu dan memilih untuk mendengarkan hati nuraninya.
Akhirnya, ia memberanikan diri untuk mendekati Esmeralda dengan langkah tanpa suara.
“Apa kau baik-baik saja?”
Ia tak tahu lagi apa yang harus diucapkan selain kalimat itu. Esmeralda adalah satu-satunya wanita yang pernah membuat ia khawatir dan kebingungan bagai orang bodoh, seperti saat ini.
Kaget dengan suara familiar yang muncul tiba-tiba, Esmeralda sontak kehilangan keseimbangan. Tubuhnya tergelincir dan terjun bebas ke belakang, tapi Duke Olean dengan cepat menangkapnya sebelum menyentuh tanah. Posisi mereka saat ini persis seperti model bridal-style—gaya pengantin pria yang menggendong calon istrinya.
Keduanya saling bertatapan dalam diam, sama-sama membeku di tempat. Mereka tak tahu harus apa. Esmeralda dengan rasa malunya karena tertangkap basah sedang menangis. Duke Olean dengan rasa canggung dan bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Simpanan
RomanceBy Holy prince Mata dibalas mata. Pengkhianatan dibalas dengan pengkhianatan. Itulah moto hidup sang Esmeralda Persuella, Duchess Persuella. Ia tak tinggal diam, melihat perselingkuhan sang suami-Eldrino Persuella. Esmeralda, malah balik berseling...
