8 : Lembut

202 38 5
                                        

Perkiraan Farel benar; ia pulang lusa. Tepat 3 hari 2 malam ia dirawat. Setelah mengurus administrasi dan berbagai macam, Allia kembali ke kamar Farel untuk membawa barang-barang.

Tidak banyak, hanya ada sekitar 4 tas yang ada, seperti tas bawaan Farel, tas bawaan Allia, tas selempang berisikan laptop Allia, dan tas jinjing tempat makan dua hari lalu yang sudah bersih. Sejak itu, Allia tidak pulang lagi ke rumah. Ia menjaga Farel dengan baik, tidak melupakannya.

"Yuk." seru Farel sambil menenteng keempat tas itu sendirian. Allia terheran, "Eh sini, sih aku bawain 'kan kamu baru sembuh."

"Ya ampun, Al aku nggak lumpuh kali... aku bawain, ya? Aku udah sehat juga, kamu daritadi bolak-balik gitu."

Allia menyanggah, "Ya, tapi tetep aja ada masa pemulihan, Rel." katanya sambil ingin merebut tas-tas itu yang nyatanya gagal karena Farel menghindar.

"Al, udah, nurut aja aku yang bawain. Ya? Aku bawa mobil juga."

Gadis itu cemberut sebal. "Tapi 'kan—"

"Al... udah." Farel memotong. Allia tidak bisa melawan lagi meskipun dalam hati ia sangat tak enak hati. Begitu di depan lift, ia merebut tas laptop Allia. "Aku bawa punyaku yang ini aja, ya." Farel memperbolehkan.

Sesampainya mereka di tempat parkir, Farel membuka mobil dan menaruh barang-barang tersebut di bagasi belakang. Allia sudah duduk di kursi penumpang— Farel memaksa untuk bawa mobil selagi di lift tadi.

Kemudian, lelaki itu masuk ke dalam mobil. Kendaraan itu akan dipanaskan dulu selama kurang lebih 5 sampai 10 menit mengingat lumayan lama mobil ini terparkir dan selama itu juga, akhirnya Farel membuka obrolan.

"Makasih, ya, Al udah rawat aku."

"Sama-sama 'kan kewajiban aku." Allia menyahut dengan kalimat yang sama baru-baru ini.

Farel tersenyum, "Kanu ngelakuin itu dengan iming-iming kewajiban, tuh beneran kewajiban istri atau gimana, Al?"

"Hah? Maksud kamu?"

"Ya... takutnya sebenernya kamu keberatan, tapi nggak enak sama Ayah, sama Bunda, sama Papa, jadi suka jawab kayak gitu."

Allia menoleh padanya, "Aku dikasih amanah jadi istri kamu, berarti aku harus jalanin peran yang sebenar-benarnya sebagai istri orang, Rel. Aku nggak keberatan sama sekali, mungkin dari sini aku bisa belajar."

"Belajar? Belajar apa?" Farel mengernyitkan dahi.

Gadis itu melempar tatap ke objek lain seolah menghindari tatapan dari Farel dan merasa omongannya sedikit... kurang ia pilah.

"Ya... nggak— itu, uhm, ya... belajar?"

Farel semakin bingung dibuatnya. "Iya, belajar apa, Allia?"

Disebut namanya dengan lengkap seperti itu cukup membuatnya terpojokkan, jadi ia dengan lantang menjawab,

"Belajar sayang sama Farel."

Detik itu, seolah ada organ tubuh di bagian dada Farel meluncur indah ke bawah.

•••

Sejak perjalanan pulang siang tadi, seharian Allia menjadi sangat canggung terhadap Farel. Tiap berpapasan di lorong antara kamar dan ruang santai, ia terus menghindar dengan berlari kecil. Tingkahnya itu membuat Farel gemas sendiri, gemas karena ia akhirnya melihat sisi anak kecil dari istrinya itu.

Bahkan malam ini, Allia belum kembali dari ruang tengah— entah apa yang dilakukannya, padahal ini sudah jam 11, dan gadis itu bilang bahwa esok ia akan masuk kantor kembali meninggalkan Farel yang harus bed rest. Lelaki itu merasakan ketidakhadiran Allia di sisi lain ranjangnya, ia pun ke luar kamar untuk mengajaknya tidur.

Farel menghela nafas begitu melihat Allia tertidur di atas sofa sambil meringkuk dan TV yang menyala. "Ya ampun, segitunya kamu ngehindarin aku?" gumamnya pelan. Dengan inisiatif, Farel menggendong Allia dan memindahkan gadis itu ke kamar sebelum badannya sakit-sakit karena tidur di sofa.

Allia tidak begitu berat dan cukup ringan saat Farel mengangkatnya. Untuk pertama kali, Farel melihat wajah Allia yang tertidur secara dekat seperti ini. Alisnya menukik ke bawah seolah ia sedang marah dan betapa lembutnya kedua pipi itu yang membal selagi Farel menggendongnya tadi.

Lucu, pikirnya.

Kemudian, ia rebahkan Allia dengan hati-hati ke sisi ranjang areanya. Setelah itu, Farel beralih ke daerahnya dan melanjutkan tidurnya lagi.

Begitu terpejam, lelaki itu mendengar namanya dipanggil.

"Rel,"

Pemilik nama langsung menoleh ke sumber suara. "Iya, Al?"

Tidak ada balasan. Farel berpikir, mungkin Allia mengigau karena terlalu lelah. Ia berbalik sejenak dan ia tau persis bahwa ini rasanya canggung, tapi...

Dengan berani, Farel mengelus kepala Allia sambil berbisik, "Tidur yang nyenyak, Al."

Allia, sudah tertidur pulas. Begitu puncak kepalanya diusap lembut, alam bawah sadarnya membuat gadis itu tersenyum.

▫️▫️▫️

Halo, semua!
Selamat Idul Fitri, ya~
Karena spesial lebaran, aku up dua chapters sebagai THR dari aku hehe
Love you!

P.s. THR dari aku yang lain!

 THR dari aku yang lain!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fall For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang