Karier. Satu hal yang menjadi fokus utama dua orang dengan latar belakang berbeda. Keduanya bersatu, ikatan yang luar biasa pun terbangun sendirinya. Jika mereka memang ditakdirkan bersama, semesta akan turun tangan.
[JONGCHANGIE Alternative Univers...
Tidak seperti di layar televisi lainnya di mana perjodohan yang terpaksa dilakukan membuat mempelai menangis, Farel dan Allia justru biasa saja.
Bedanya, mereka tetap dua orang yang jiwanya belum bersatu layaknya cincin pernikahan yang sudah bertengger indah di jari manis kanannya. Secara hukum, Farel dan Allia adalah sepasang suami istri, tapi di dalam hati, mereka belum menyatu.
Malam pertama di hotel berbintang yang merupakan hadiah dari kerabat Arya memang digunakan, tapi Farel maupun Allia tidur berjauhan. Interaksi mereka hanya sebatas,
"Kamu langsung tidur?" Farel bertanya setelah Allia menghapus semua pondasi di wajahnya yang cukup tebal itu. Pikirnya, Allia hanya akan mencuci muka dan langsung tidur, melewatkan mandi.
"Nggak, mau mandi dulu." Allia menjawab dengan lantang tanpa paksaan.
Semua basa-basi itu keluar begitu saja tanpa paksaan. Hanya sekedar membangunkan untuk sarapan dan bertanya kegiatan. Tidak pernah lebih dari itu. Tidak ada bahasan mengenai ranah pribadi.
Allia juga sekarang tinggal bersama Farel seutuhnya. Hanya sedikit dari banyaknya barang milik Allia yang masih ada di rumah Dharma, tapi setidaknya barang-barang tersebut bukan sesuatu yang harus ia pindahkan ke tempat tinggal barunya.
Perempuan itu hanya akan merindukan ayahnya. Ketika akad dilaksanakan, Dharma sangat senang dan tidak ada raut wajah takut sedikitpun ketika Farel mengucapkan kalimat sakral untuk menikahkan anak semata wayangnya. Ia jadi bingung apa harus khawatir atau bagaimana, tapi ia pernah tak sengaja mendengar percakapan antara Ayah dan Farel.
"Saya senang Allia jatuh ke tangan yang tepat. Saya percaya Farel, kok. Jaga Allia, ya? Allia orangnya perhatian ke hal-hal kecil, jadi Farel juga akan dijaga sama Allia."
Jika mengingat kalimat itu, perasaan campur aduk menerpa dada Allia.
Hari ini, di hari Rabu, minggu ke-2 sebagai pasangan suami istri, Allia bangun di jam setengah enam pagi untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk dirinya juga Farel. Lucunya, Farel sebelum berumah tangga pun juga senang membawa makan buatan Bunda ke kantor. Tidak pernah malu karena selalu ia terapkan sejak masa sekolah. Sedangkan, Farel bangun 30 menit lebih lambat dari Allia.
Begitu Farel sudah rapi dan Allia baru akan mengeringkan rambutnya, ia pergi ke dapur yang berdekatan dengan ruang santai untuk mengambil kotak bekalnya. Ia pegang bawah kotak itu, masih hangat. "Al, aku berangkat duluan." serunya.
"Iya, hati-hati!" Allia menyahut dari kamar.
Meskipun begitu, keduanya tidak pisah ranjang. Kasur utama di kamar mereka memang sangat besar dan umumnya bisa muat 5 orang, tapi hanya digunakan oleh dua orang saja. Farel berada di sisi kanan, Allia di sisi kiri. Berjauhan dan saling memeluk guling. Belum ada hal intim di sini.
Farel belum menyentuh Allia lagi sejak akad yang mengharuskan dirinya mencium kening gadis itu dan berfoto untuk dijadikan album. Melakukan seks pun tidak berani.
•••
Minggu ke-4 pernikahan Farel dan Allia.
Weekend menjadi hal yang paling Allia tunggu-tunggu karena tidak disangka, justru setelah pernikahannya, tugas-tugas pekerjaannya justru semakin banyak. Waktunya untuk menikmati waktu sendiri berkurang.
Sudah dua minggu ia bolos kelas yoga karena di Sabtu dan Minggu ia akan berkutat dengan laptop di ruang santai seharian.
Bagaimana dengan Farel?
Terkadang, ia di rumah dan di kantor. Seorang pengacara yang sibuk adalah julukan Farel saat ini. Ia bisa berada di rumah di hari Sabtu maupun Minggu dan ketika keduanya sama-sama berada di rumah, Farel akan senantiasa menonton TV di ruang santai bersama Allia yang sibuk atau memasak.
Hari Sabtu ini, ada sesuatu yang perlu diurus Farel di kantor. Bersamaan dengan itu, Allia juga rupanya hendak pergi ke supermarket untuk belanja kebutuhan rumah tangga.
"Aku ke kantor dulu." ucap Farel yang datang dari dapur— setelah mendapat telepon dan masuk ke kamar untuk mengganti baju.
Allia yang berada di dalam kamar dan baru beres berdandan menyahut, "Aku juga mau ke Superindo." Farel menoleh, "Sekarang?" Allia mengangguk. "Bareng aja, ya. Aku anter."
"Terus pulangnya?"
"Aku jemput. Aku cuma sebentar."
"Okay."
Masih biasa. Farel dan Allia juga semakin mulai peduli satu sama lain meskipun masih sedikit perhatian yang terlempar satu sama lain.
Hingga kemudian, Bunda mengabarkan bahwa ia ingin main ke rumah esok harinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
▫️▫️▫️
Halo-halo! Bagaimana kabarnya kalian semua? Semoga selalu sehat yaaa ^_^