iii. first training

182 121 54
                                        

Jiwa menatap telapak tangannya yang baru saja tergores sembari mendorong koper warna coklat. Ia kini berhenti di depan kamar nomer 13.

Ya ini akan menjadi kamarnya yang baru. Kamar nomer 13. Orang-orang sering mengatakannya sebagai angka sial.

Tapi, siapa peduli? batin Jiwa lantas memutar kenop pintu.

Mendadak sepatu ballet terbang ke arahnya.

Dengan kesigapannya, Jiwa berhasil menghindar sehingga menimbulkan suara keras dari hasil benturan sepatu ballet dan tembok.

"Auw! My bad," Senyum canggung timbul dari seseorang yang tiba-tiba muncul dari ranjang atas.

Jiwa mengambil sepatu ballet orang itu. "Sengaja ya?"

"No. I swear!" katanya sambil menaikkan kedua jari.

Gadis itu lantas turun dari ranjang tingkatnya.

"Ku kira minggu ini tak dapat teman sekamar, makanya ya.. paham lah." ujarnya sambil menggaruk tengkuk.

"Sudah berapa bulan kamu di sini?"

"Dua minggu. Oh iya aku belum tau namamu,"

Orang itu menyodorkan telapak tangannya lebih dulu. Membuat Jiwa dengan senang hati menjabat tangannya.

"Jiwa. Kamu?"

"Aruna."

Jiwa membalas dengan mulut yang membentuk huruf O. Tak mau bertanya lebih jauh.

Kini dirinya berjalan menuju ranjang tingkat itu.

Menaikkan kopernya ke kasur yang berada di bawah ranjang Aruna.

Lantas saat salah satu pakaian dikeluarkannya dari koper. Hendak di masukkan ke dalam lemari.

Aruna mencegah.

"Jangan pakai lemari itu,"

"Kenapa?"

"Lemari yang ku pakai di seberang sana jauh lebih besar, jadi pakai yang itu saja."

Tak mau ambil pusing, Jiwa menurut saja dengan arahan Aruna.

Meskipun ternyata dalam lemari itu lebih kecil. Bahkan hanya muat setengah barangnya.

Jam besar mendadak berdentang. Aruna tau apa artinya.

"Cepat ganti. Kita ada pelatihan."

"Bukannya besok?" tanya Jiwa.

××××××

Seluruh Ballerina melangkah cepat menuju tempat berlatih. Perjalanan menuju tempat itu ternyata cukup jauh.

Beberapa kali mereka harus melewati koridor panjang begitu pula anak tangga.

Barulah sekarang mereka bisa sampai. Peluh keringat membasahi wajah mereka yang rupawan.

Kini terdengar seseorang menjentikkan jari dengan sangat keras.

Dan anehnya seluruh Ballerina langsung berdiri tegap dan memasuki ruang latihan.

Jiwa dan Aruna yang tidak termasuk, jadi saling pandang karena menyadari hal itu.

Tiba-tiba dari arah belakang mereka, seseorang menyahut. "Kenapa tidak masuk?"

Sehingga memecah atensi keduanya. Aruna yang melirik ke belakang kala itu, langsung menyadari.

Bahwa di belakang mereka terdapat Madam Gie. Lantas ia jadi buru-buru mengajak Jiwa masuk.

×××××××

"Now point on the right foot to the side-"

"Don't forget to put your arms on second position! Understood?"

"Yes, Madam!"

Kini pandangan Madam Gie menelisik pada gerakan yang ditirukan oleh seluruh siswinya.

"Okay, good. Then we'll bring it to fifth."

×××××××

"Good job! Now i'll asked you guys-"

"Random."



"What hands position are we on?" tanya Madam Gie dengan mata yang tertuju pada salah seorang Ballerina.

Siswi itu tampak berpikir keras. Kemudian ia menunduk meski arah matanya melirik ke depan. "Th-third?"

"Who gave you .. the answer, sweetheart?" selidik Madam Gie.



Siswi itu tak menggubris perkataan Madam Gie dan terus menunduk. Ia sungguh ketakutan.

"HEY!" bentak Madam Gie.

"N ..n .. no one, Madam."

Madam Gie mendadak membuka jam analognya. Tertera di sana telah menunjukkan pukul satu siang.

Ia memutar bola matanya tak suka. Ini bukan waktu yang tepat.

"Okay let's break for a minutes! It's a lunch time!"

"Dan kamu .. belajarlah lagi, Ballerina cacat tak selayaknya berada di sini."

Ballerina IslandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang