xiv. last

42 29 0
                                        

Perjalanan dilanjutkan menuju tempat perbaikan alat musik menggunakan Dokar. Tubuh mereka kini terombang-ambing di atas kursi Dokar.

Sembari melihat-lihat hamparan sawah, Jiwa membuka suaranya. "Tuan, tadi itu bahasa apa?"

Adipati yang semula fokus menggerakkan kudanya jadi melirik ke belakang. Bertanya ulang karena sebelumnya tidak dengar.

"Tadi itu bahasa apa?"

"Oh," ujar Adipati sambil terkekeh. "Bahasa minangkabau."

Jiwa lantas berasumsi. "Tuan, orang minang ya?" 

Sementara Adipati menggeleng dari kursi kemudinya. Matanya kembali fokus melihat jalanan agar tidak terjadi kecelakaan.

×××××××

Pelayan di rumah besar menghampiri Madam Gie yang sejak tadi belum selesai merokok di tepi danau. Ia hanya merenung melihat kepergian para siswanya yang hendak jalan-jalan di pulau tetangga. Sudah 8 putung rokok yang ia habiskan dalam sekali duduk.

Madam Gie kini melirik pelayan yang berdiri di belakangnya. "Ada apa?"

"Sudah dua bulan lebih kami menyediakan kopi untuk anak itu,"

"Lantas?" Asap rokok kini dihembuskan kemudian putung rokoknya itu ditekan ke dalam asbak.

Sekarang putung rokok yang baru diambilnya lagi. "Nanti malam sudah waktunya berkumpul, Nyonya."

"Kita belum bisa melakukannya." balas Madam Gie lantas menyulut api ke putung rokok. "Aku tau, ini sudah lewat dari perjanjian."

"Tapi aku belum melihat peluang keberhasilannya." lanjut Madam Gie selagi mulutnya menghimpit putung rokok.

"Izinkan saya membantah, Nyonya."

Madam Gie kemudian menaikkan putung rokoknya. Mencoba menghentikan ucapan pelayan itu.

"Tak perlu membantah. Aku tau apa yang harus ku perbuat."

Pelayan itu hanya diam mendengarkan.
Lantas meninggalkan Madam Gie yang kini mulai menatap pantulan wajahnya melalui air danau.

Wajahnya semakin menua. Seharusnya, ini yang terakhir.

Darah segar para gadis tak lagi membuat kecantikannya menetap. Semua punya masanya.

×××××××

Adipati memberhentikan Dokarnya di tempat perbaikan alat musik. Ia turun lebih dulu, kemudian membantu Jiwa turun dengan menyodorkan tangannya.

Ketika masuk, alat-alat musik tampak dipajang di dinding toko. Ada pula tempat orang menjual bir.

Dan di tengah sana, orang-orang bergaya sedikit berandal duduk di meja yang sama sambil memainkan alat musik di dampingi satu ember berisi 3 botol bir dan ayam goreng bawang putih.

Di sanalah, Jiwa melangkah karena mengikuti Adipati. "Hoi abang!" sapanya seperti sudah akrab.

Adipati kemudian melakukan tos dengan beberapa orang di meja itu. "Cantik betul eee, siapa nama?" tanya pria yang memakai topi koboi.

Jiwa lantas menunjuk dirinya, kikuk. Para laki-laki di meja itu jadi tertawa dengan tingkahnya.

"Lucu sekali. Kekasih Pati, ya? Atau .. jadi kekasih abang saja?" goda seorang pria dengan tato tengkorak di lengannya yang berotot.

Sedangkan Adipati sibuk menjelaskan permasalahan gitar Aruna kepada pemilik toko. Selepas semuanya beres, gitar itu mereka tinggal dan akan diambil nanti.

"Hati-hati, jangan sampai lecet kekasihmu itu!"

Suara itu menggema ketika Adipati dan Jiwa berjalan keluar dari toko. Rasanya Jiwa seperti baru keluar dari lidah buaya.

Menggelikan.

"Kemana lagi, Nona?"

"Kemana saja. Saya belum kenal dengan daerah sini." balas Jiwa sembari naik ke atas Dokar.

"Ke alun-alun kota?" tawar Adipati. "Boleh." jawab Jiwa tanpa pikir panjang.

"Ya sudah, nanti kita jalan kaki sebentar ya. Alun-alun terlalu padat, Nona. Susah dilewati apalagi untuk jalannya Dokar."

Ballerina IslandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang