Pulau Ballerina sore ini tampak lebih suram dan sepi. Para siswanya belum kembali dan akan kembali tepat sebelum matahari terbenam.
Seseorang kini sedang duduk di kamarnya ditemani sebuah buku. Namun, aneh. Buku itu justru tak disentuhnya.
Orang itu terus menggaruk lehernya. Lantas dirinya melompat turun dari ranjang tingkat.
Berlari keluar dengan sangat cepat. Bahkan, temannya di dalam lemari sampai tak berani mengikuti.
Orang itu terus berlari. Tak peduli seberapa banyak guci yang pecah karena disenggolnya.
Sesampainya di ruang bawah tanah, ia membuka beberapa toples berisi organ yang diawetkan.
Lantas mengoyaknya dengan bengis. "Segar."
"Ini segar." Begitu ujar Aruna.
×××××××
Adipati memijat lehernya yang kram saking lamanya menunggu. Sudah 1 jam lebih sejak matahari terbenam, ia menunggu di depan tempat perbaikan alat musik.
Jiwa yang seharusnya pulang sejak tadi, malah bersikeras mengambil gitar Aruna di tempat itu. Padahal tertera jelas bahwa toko itu sudah tutup.
Kemudian penantian mereka akhirnya membuahkan hasil. Tiba-tiba seorang pria melangkah mendekati Dokar mereka.
"Sudah tutup toko aku. Besok saja, datang."
Namun ketika menyadari itu Adipati, nadanya berubah lebih ramah. "Lho Pati, kenapa masih di sini? Ingin bermalam?"
"Gitar tadi siang, sudah bang?"
Pria tersebut lantas menepuk dahinya. "Aih lupa. Sebentar, ku ambilkan."
Tak perlu waktu lama, pria itu keluar dari tokonya sembari membawa sebuah gitar yang sudah diperbaiki.
Karena pembayaran sudah dilakukan di awal, mereka langsung pergi setelah menerima dan mengucapkan terima kasih.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan jalanan yang sedikit lebih lengah. Adipati juga tak mengeluarkan suara apapun yang membuat Jiwa di kursi belakang mendadak merinding.
Namun, pemandangan di pasar hutan pinus mengalihkan atensi Jiwa sejenak. Matanya berbinar-binar melihat keramaian pasar di malam hari.
"Ternyata masih buka, ya, saat malam." celetuk Jiwa di kursi penumpang.
Adipati lantas menaikan alisnya. "Nona bicara apa?"
"Pasarnya masih buka."
Mendadak Adipati menarik tali yang digunakan untuk mengemudikan kudanya. Dokar itu pun berhenti di tengah-tengah pasar hutan pinus.
Kini Adipati menoleh ke arahnya. "Nona.." Ia kemudian memelankan nada suaranya. "Pasar sudah tutup."
Jiwa mengerutkan dahinya. Memandangi sekitar yang jelas-jelas masih ramai.
"T—" Belum sempat Jiwa membantah, Adipati sudah berbicara.
"Saya mengerti, tapi Nona bukan penduduk asli di sini. Lebih baik menutup mulut daripada tak kembali."
Dokar lantas dikemudikan lagi oleh Adipati. Semua pedagang di pasar itu juga mendadak aneh. Mereka memandangi Adipati dan Jiwa dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
×××××××
Entahlah hanya Jiwa yang merasa perjalanan di danau sedikit lebih lama atau memang benar begitu. Sejak tadi, mereka berdua terus mengitari danau tanpa pernah menemukan daratan.
Padahal, untuk menuju Ballerina Island hanya perlu mendayung lurus. Tak perlu berbelok-belok layaknya jalanan di pulau seberang.
Adipati kini menoleh kesana-kemari. "Nona, sepertinya kita tersesat." Jiwa tak mengeluarkan ekspresi terkejut. Ia sudah menduga.
"Apa yang harus kita lakukan?"
Bukannya menjawab, Adipati justru meraih pundak Jiwa. Menatap ke netra hitam itu dengan penuh arti.
"Ingat ini,"
"Satu jatuh dan satu mendayung pulang."
"Tolong tetap hidup, Nona. Anda terpilih—"
Detik selanjutnya, Adipati ditarik masuk ke dalam air. Jiwa berteriak histeris. Lantas ia melihat ke dalam air sambil memegang sisi perahu.
Terus memanggil Adipati. "Tuan!!"
"Tuan Adipati!"
