Selesai latihan dan melewati proses makan siang, seluruh penari bergegas ke kamar asrama mereka lagi untuk menata barang.
Nanti sore mereka akan dilepas menuju Kebebasan.
Maksudnya mereka akan berjalan-jalan di pulau tetangga. Namun tak semuanya.
Karena kegiatan ini hanya dilakukan secara sukarela. Jelas Aruna tidak pergi. Dan jelas Jiwa akan pergi.
"Jiwa titip gitarku ya!" teriaknya saat Jiwa berlari keluar dari kamar sembari membawa gitarnya.
Iya, Aruna meminta tolong Jiwa agar senar gitarnya dibenarkan. Tanpa harus keluar dari pulau.
Sepertinya Aruna terlalu menyayangi Ballerina Island.
×××××××
Adipati dari dekat perahunya melambai pada gadis berparas ayu dengan panggilan Jiwa.
"Selamat sore, siap mengikuti tur dengan saya?" ujar Adipati.
"Tersesat tidak?" tanya Jiwa iseng.
"Tidak, paling tersasar Nona."
Jawaban bodoh itu membuat Jiwa tergelak sebelum akhirnya mereka mendengar Madam Gie berdeham.
Madam Gie yang sedang sibuk merokok kala itu, sampai keheningannya tak menyadarkan mereka berdua.
Jiwa buru-buru membungkukkan badannya.
"Maafkan saya, Madam, karena terbawa suasana sehingga tidak melihat keberadaan Anda."
Barulah setelah itu Madam Gie menoleh sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Cepatlah pergi. Kalian menghalangi atmosfer indah di sini." usir Madam Gie sembari mengibaskan tangannya, agar kedua orang itu segera pergi dari hadapannya.
×××××××
"Bagaimana kabar, Nona?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Adipati membuka pembicaraan lebih dulu saat melewati danau yang luas. "Baik, kalo Tuan?"
"Baik juga. Saya tadi kaget sekali dapat panggilan dari rumah besar."