xiii. freedom

68 39 2
                                        

Selesai latihan dan melewati proses makan siang, seluruh penari bergegas ke kamar asrama mereka lagi untuk menata barang.

Nanti sore mereka akan dilepas menuju Kebebasan.

Maksudnya mereka akan berjalan-jalan di pulau tetangga. Namun tak semuanya.

Karena kegiatan ini hanya dilakukan secara sukarela. Jelas Aruna tidak pergi. Dan jelas Jiwa akan pergi.

"Jiwa titip gitarku ya!" teriaknya saat Jiwa berlari keluar dari kamar sembari membawa gitarnya.

Iya, Aruna meminta tolong Jiwa agar senar gitarnya dibenarkan. Tanpa harus keluar dari pulau.

Sepertinya Aruna terlalu menyayangi Ballerina Island.

×××××××

Adipati dari dekat perahunya melambai pada gadis berparas ayu dengan panggilan Jiwa.

"Selamat sore, siap mengikuti tur dengan saya?" ujar Adipati.

"Tersesat tidak?" tanya Jiwa iseng.

"Tidak, paling tersasar Nona."

Jawaban bodoh itu membuat Jiwa tergelak sebelum akhirnya mereka mendengar Madam Gie berdeham.

Madam Gie yang sedang sibuk merokok kala itu, sampai keheningannya tak menyadarkan mereka berdua.

Jiwa buru-buru membungkukkan badannya.

"Maafkan saya, Madam, karena terbawa suasana sehingga tidak melihat keberadaan Anda."

Barulah setelah itu Madam Gie menoleh sambil menghembuskan asap rokoknya.

"Cepatlah pergi. Kalian menghalangi atmosfer indah di sini." usir Madam Gie sembari mengibaskan tangannya, agar kedua orang itu segera pergi dari hadapannya.

×××××××

"Bagaimana kabar, Nona?"

Adipati membuka pembicaraan lebih dulu saat melewati danau yang luas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Adipati membuka pembicaraan lebih dulu saat melewati danau yang luas. "Baik, kalo Tuan?"

"Baik juga. Saya tadi kaget sekali dapat panggilan dari rumah besar."

"Ternyata Nona hehe," lanjutnya seraya menyengir lebar.

"Memang biasanya dipanggil untuk apa?" tanya Jiwa memancing. Dia hanya ingin tau mengapa Adipati bisa menjadi host saat hari jadi pulau Ballerina.

"Saya kira minta pertanggung jawaban saat acara penutupan. Saya, kan, tugas jadi host di sana."

Namun, tak ada satupun jawaban dari Adipati yang menjawab rasa penasarannya.

"Saya juga lihat Nona tampil. Indah sekali tariannya."

"Ah bukan apa-apa itu. Masih perlu belajar lagi." sanggahnya padahal Jiwa ingin sekali menyombongkan dirinya.

"Itu kan menurut Nona. Kalo menurut saya ya indah karena sejauh ini cuma bisa nari dua jempol."

×××××××

Setelah berhasil menyebrang dengan selamat ke pulau sebelah, Adipati dan Jiwa berjalan sebentar melewati pasar hutan pinus.

Sebelum akhirnya mereka menemukan Dokar pemuda itu, berhenti di dekat penjual sayur.

"Bara ko, Da?" tanya Adipati sembari mengambil dompet serut yang digantungnya dekat ikat pinggang.

"Ampek puluah." kata penjual sayur sambil menyuapi kuda milik Adipati dengan wortel.

"Maha bana. Harago awak samo awak, lah!"

"Kuda ang makan lebih sarik, sado lah wortel nyo." Penjual itu nampak ketus ketika Adipati mencoba menawar.

Adipati tersenyum tipis, memutar otak agar penjual ini mau menurunkan harga. "Duo puluah lai, Da, buek samo samo senang."

Penjual itu kemudian meludah untuk membuang sirih yang sudah disesapnya.

"Ado ado bae. Murah bana kalau duo puluah. Cukup lah tigo puluah, dek sabana indak ado yang labiah murah dari ko."

"Baa kalau duo limo sajo?" tawar Adipati lagi dengan menaikkan beberapa ribu harga.

"Ba aa lah, duo limo taruih. Jan basulang-sulang lai."

Kuda itu lantas dilepas oleh penjual sayur. Ia mulai menghitung uang yang diberikan Adipati.

Membiarkan pemuda dan gadis itu meneruskan perjalanannya.

Ballerina IslandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang