Setiap pagi di pulau ini tidak ada acara makan bersama. Makanan mereka akan diantarkan ke kamar asrama masing-masing.
Mereka yang beruntung akan mendapatkan sarapan daging, sedangkan yang tidak, akan mendapat sayuran saja.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, Aruna tak beruntung lagi.
"Makan saja, sehat kok." sahut Jiwa yang mengintip dari belakang tubuh Aruna.
"Bukan itu masalahnya. Aku selalu dapat menu ini, bisa-bisa aku betulan jadi kambing."
Namun, mendadak Aruna berhenti menggerutu.
Memanggil nama Jiwa dengan nada lirih tampak tak percaya. "Jiwa..."
"Hm?" jawab Jiwa yang kala itu sudah berbaring di ranjangnya.
"Menu minuman kita berbeda."
"Apa?" Jiwa jadi bangkit dan duduk di tepi kasur.
"Aku dapat jus jeruk, sedangkan kamu ..."
Aruna menghirup minuman Jiwa. "Ini.."
"Ini kopi!"
Mendengarnya Jiwa langsung beranjak. Menyambar minuman itu. Kemudian mencoba menyesapnya.
Dalam hitungan menit, mendadak Jiwa memuntahkan kopi hitam itu ke atas lantai.
Aruna jadi menjauh.
"What the f ck are you doing?" umpatnya.
"Pahit sekali, gila!"
Mereka pun jadi saling mengumpat sekarang.
×××××××
Waktu berlatih di ganti dengan pemakaman yang menandakan bahwa Ballerina Island tengah berduka.
Mereka kehilangan tiga siswi di waktu, hari, bahkan tempat yang sama.
Isabel nama siswi yang keracunan sayuran kemarin. Bibirnya iritasi serta tubuhnya menegang pucat dengan mata melotot.
Sedangkan Anin dan Zevanya adalah siswi yang saling adu bacok di ruang makan.
Tak ada yang melerai. Sekalipun Madam Gie atau pelayannya. Mereka dibiarkan saling tusuk dan tergeletak berdarah-darah, mengenaskan.
Polisi tak datang. Madam Gie hanya menjelaskan kepada para penari, jika mereka adalah siswi yang telat lulus karena tidak bisa melakukan pirouette.
Sebagai ujian akhir mereka.
"Kenapa harus menunggu sehari untuk pemakaman?" tanya Jiwa ketika semua sedang khusyuk berdoa.
Aruna mendekatkan telunjuknya ke arah bibir untuk memberi isyarat bahwa ini bukan saatnya bergosip.
×××××××
Selesai prosesi pemakaman, seluruh Ballerina diminta kembali berlatih.
Jiwa dan Aruna kini tengah bersiap-siap.
"Kamu tidak aneh dengan tempat ini?" tanya Jiwa seraya menata rambutnya tuk digulung.
"I guess? Tapi rasanya biasa saja,"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aruna tampak menunjukkan ekspresi tak peduli. Kembali fokus memperbaiki sepatu ballet-nya.
"Kenapa?"
Aruna terus fokus memperbaiki sepatu ballet-nya, seraya berujar. "Aku baru pertama kali merasakannya."
"Mungkin kamu bisa cerita yang kamu alami setelah berada di Ballerina Island." lanjut Aruna.
"Can I?" Jiwa menoleh sambil menunjukkan ekspresi ragu.
Aruna mengangguk. "Tentu. Katakan saja,"
×××××××
Rambutnya yang belum selesai ditata itu, dibiarkan Jiwa tergerai.
Ia lantas merapatkan duduknya, menghadap Aruna.
"Aku bertemu dengan Madam Gie. Tapi hari itu dia tidak sendirian, dia bersama teman-temannya."
"Lalu?" Aruna kini fokus mematahkan sepatu ballet-nya agar lebih lentur.
"They want my blood. That's creepy, isn't it?"
"Tapi hanya Madam Gie kan yang meneguk tetesan darahmu?"
Jiwa mengangguk. Lantas disambut oleh petikan jari Aruna.
Anak itu kemudian memberikan lambaian agar Jiwa lebih mendekat. "Listen to me,"
"Aku pernah dengar, jika kamu bertemu dengan mereka,"
"Pasti keberuntungan 'kan menyambutmu."
"Jangan mengayal!" sanggah Jiwa.
"Up to you. Aku juga pernah dengar rumor dari alumni yang sekarang tinggal di Prancis."
"Mau tau?"
"Apa??" Jiwa jadi penasaran dibuatnya.
"Dia sekarang jadi Ballerina sukses karena punya pengalaman sepertimu tau!"
"Bahkan katanya, dia bertemu dengan mereka sambil membawa kepala kambing."
Jiwa menutup mulutnya kini.
Saking terkejutnya. Karena yang dikatakan Aruna sama dengan yang dialaminya.
Aruna merebahkan tubuhnya di lantai sebentar. Membiarkan sepatu ballet-nya yang baru selesai diperbaiki, tergeletak begitu saja.
Ia menghela napas panjang. "Huffft-"
"I wish I was you,"
