Chapter 9

386 24 1
                                        

Krrringgg!
Bel pulang sekolah telah berbunyi yang menandakan para murid waktunya pulang ke rumah.

Teman-teman sekelas Leo dan Faiz satu-persatu pulang, tersisa Leo dan Faiz yang masih berada di dalam kelas.

Faiz mencoba menghibur Leo yang sejak dari tadi murung.

Faiz tau jika Leo merasa bersalah dengan kedua kakaknya yang telah merenggut kasih sayang dan kebahagiaan mereka berdua.

Faiz bahkan sempat terkejut dengan kalimat lanturan dari Leo yang mengatakan, "Seandainya aku tidak lahir..... Bagaimana jika aku mati saja?" Faiz benar-benar tidak habis pikir dengan Alvaro dan kedua kakak Leo.

"Nak, kenapa kamu belum pulang?" Leo dan Faiz mendongak ke arah suara itu, rupanya Aza datang ke sekolah menjemput anak kesayangannya- tidak termasuk Ariz dan Arras.

Leo menggeleng tidak, "Aku hanya memikirkan cita-citaku di masa depan." Bohong Leo, sebenarnya ia masih kepikiran dengan perkataan Alvaro.

Aza tau jika anaknya berbohong, tapi ia tidak menyangkal kebohongan anaknya, "Ya sudahlah, ayo kita pulang dan salam sama temanmu dulu." Ucap Aza.

Leo melirik Faiz yang masih senantiasa menunggunya pulang, "Faiz, aku pulang dulu." Ucap Leo sambil tersenyum ceria.

Faiz salah paham dengan senyuman itu, ia pikir Leo tersenyum palsu atau kecut, "Iya, semoga kau baik-baik saja." Balas Faiz.

Leo dan Aza keluar dari kelas, menyisakan Faiz yang masih duduk.

"Hm? Belum pulang juga kau." Faiz mendongak ke arah suara itu dan melihat Rifarhanatul yang menggandeng tasnya.

"Ah, aku hanya ingin menenangkan otakku dulu karena pelajaran sebelumnya." Bohong Faiz, sebenarnya ia masih kepikiran dengan kehidupan Leo.

Hana mengangguk iya, "Apa kau adiknya Faza?"

"Tentu saja aku adiknya, memangnya kenapa? Apa kakakku membuat masalah lagi?"

Hana menggeleng tidak, "Hanya ingin tau saja." Setelah itu, Hana pergi meninggalkan Faiz yang bingung dengan tingkah kelakuan Hana.

Ditempat lain.
Aza dan Leo pulang ke rumah dan disambut hangat oleh Mina yang membawakan cemilan crispy crackers.

Leo memasang senyumnya lagi dan tentu saja Mina tau jika anaknya menyembunyikan sesuatu.

Aza dan Leo pergi ke kamarnya masing-masing untuk mengganti pakaian mereka berdua.

Setelahnya, Aza dan Leo beranjak pergi ke dapur untuk makan.

Tentu saja Mina sebagai ibu yang baik akan mengambilkan makanan untuk keluarganya yang tercinta, kecuali Ariz dan Arras.

Aza dan Mina berbincang-bincang ringan sambil mengisi kehangatan, tapi Leo tidak ikut berbincang juga dikarenakan masih terpikirkan perkataan Alvaro.

Aza yang memberi kode lewat bola matanya kepada Mina langsung mengangguk.

"Ada apa, nak? Apa ada yang membully mu disekolah? Apa Arras membentakmu?" Tanya Mina.

Leo menjawabnya dengan gelengan kepala, ia tidak ingin Arras terkena masalah lagi karenanya.

"Lalu, apa yang membuatmu murung?"

Leo bingung harus menjawabnya dengan kebohongan apa.

Apakah Leo harus jujur?

"Nak, jujurlah kepada kami, apa yang membuatmu murung."

Cklek
Pintu rumah terbuka dengan memperlihatkan Ariz yang berjalan pelan ke arah sebuah keluarga yang hangat di meja makan.

"Aku pulang, apa makanan hari ini-"

"Tidak ada makanan untukmu." Tegas Mina yang menyela pertanyaan Ariz.

Jelas Ariz bingung apa yang salah dengannya? Apakah ia berbuat salah?

Leo diam-diam melirik Ariz yang wajahnya berkerut.

"Ada apa ini? Kenapa aku tidak diberikan makanan?" Tanya Ariz untuk memastikan apa salahnya.

"Apa kau tau, siapa yang membuat anakku ini murung dari tadi?" Tanya Aza.

Ariz tiba-tiba melirik Leo dengan tatapan tajam, "Ya ampun, apalagi yang dilakukannya." Batinnya.

Cklek
Pintu rumah kembali terbuka dan memperlihatkan Arras yang pulang setelah melampiaskan amarahnya di tempat arena gulat atau tinju.

Arras melihat keluarganya sedang berkumpul dan membicarakan suatu hal yang tampaknya ia harus dipaksa ikut.

Aza dan Mina saling bertatap-tatapan, "Baiklah, Ariz dan Arras tidak ada jatah makan kalian berdua serta aku ingin tau apa yang sedang terjadi di sekolah." Tanya Mina dengan tegasnya.

Arras memprotes karena dirinya dan Ariz seperti diinterogasi, padahal mereka berdua tidak melakukan kesalahan apapun.

Leo tidak bisa membela kakak-kakaknya, karena sekali orang tuanya berucap, maka sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.

"Ibu.... Disekolah, sempat beredar rumor yang mengatakan bahwa.... Leo anak haram-"

Plakk!
Sebuah tamparan mengenai pipi Ariz seketika.

Leo dan Arras terkejut dengan tindakan Aza yang menurutnya berlebihan serta bermain fisik lagi.

"Apa maksudnya ini! Apa salahnya kak Ariz?!" Teriak Arras yang membela Ariz dan berusaha menahan tubuh Ariz yang mulai lemas.

"Kenapa hal ini bisa terjadi?" Tanya Aza untuk menahan amarahnya lebih jauh, walaupun sudah menampar Ariz tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Mana kita tau?! Aku diskors dari sekolah dan Ariz yang tidak tau apa-apa?!"

"Seharusnya Ariz tau apa yang terjadi dengan adiknya disekolah, tugas Ariz adalah menjaga dan mengawasi Leo."

"Kau pikir kak Ariz itu apa?! Pengawal? Penjaga? Yang benar saja!"

"Bukankah itu tugas seorang kakak kepada adiknya?"

Arras geram dengan sikap ayahnya yang menurutnya bedebah sekali, "Dasar orang-orang lansia yang tidak tau perasaan anaknya sendiri, cuih!" Arras meludahi kaki Aza, sontak Aza langsung berjalan cepat ke arah Arras dan bersiap menamparnya.

Arras menutup matanya akan siap tamparan yang akan diberikan oleh Aza.

Plakk!
Aza dan Mina terkejut, bukan Arras yang tertampar, melainkan Leo yang melindungi kakaknya.

Jelas Ariz dan Arras terkaget dengan Leo yang melindungi mereka.

"Apa y- yang kau l- lakukan, Leo." Tanya

Leo berbalik dan tersenyum lebar.

Mina segera menarik Leo untuk menjauh dari dua orang itu.

Aza yang masih diam terpaku setelah menampar Leo, menjadi linglung.

Arras memanfaatkan hal itu dan langsung menarik tangan Ariz agar cepat-cepat pergi dari sana.

Arras menarik Ariz ke luar rumah, jalan-jalan ke tempat lain demi menenangkan amarah.

Ditempat lain.
Dalam ruangan apartemen.
Faza yang kini sedang diobati oleh adiknya, Faiz.

Faza menatap ke arah cermin dan mendapati pantulan dirinya yang penuh luka lebam di sekujur tubuh.

"Seharusnya kakak tidak melawannya." Nasehat Faiz.

Faza memandangi wajah Faiz yang mengingatkannya pada masa kelamnya.

"Aku hanya ingin melindungimu saja." Ujar Faza.

Faiz mengemasi kotak obatnya dan menaruhnya di atas meja.

"Terimakasih telah melindungiku, walaupun seharusnya kakak tidak boleh membahayakan diri juga, kakak tau, kan? Kalau Alvaro itu memiliki banyak teman preman, salah satunya Arras."

Faza tau jika Alvaro punya banyak koneksi, tapi ia harus melindungi adiknya.

Adiknya tidak boleh merasakan hal yang sama dengan dirinya alami pada masa lalu.

"Kakak...... Apa benar jika....... Kakak pernah membunuh seseorang?" Tanya Faiz yang jelas mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya sendiri, Faza.

Leo Carousel [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang