Chapter 6

513 31 1
                                        

Keesokan harinya.
Keadaan Ariz perlahan membaik, demamnya perlahan menurun, berkat........ Ah, Ariz tidak ingin mengakui usaha adiknya, Leo.

Ariz akui jika Leo berkontribusi akan kesembuhannya, Leo yang membasuh kain basah dan menaruhnya di atas dahi atau keningnya.

Leo yang membelikannya obat penurun demam, padahal kalau orang tuanya tau jika Leo memecahkan uang celengan kesayangannya pasti antara Arras atau Ariz yang menjadi samsak tinju dari ayahnya.

"Apa kau sudah membaik?" Tanya Arras yang membuyarkan lamunan Ariz.

"Aku baik-baik saja, kau sebaiknya cepat-cepat berangkat ke sekolah pasti Alvaro sudah lama menunggumu." Jawab Ariz sambil mengipaskan tangannya ke arah Arras (mengusir).

Arras langsung menuju ke sekolahnya menggunakan motornya dan meninggalkan Ariz sendirian di rumah. Dimana orang tuanya? Mereka sedang bekerja, Mina pergi ke sebuah pesta hajatan tetangga sebelahnya dan Aza pergi ke tempat kerjanya.

Ariz hanya bisa berbaring di sofa sambil menatap langit-langit rumahnya, "Biasanya kalau sakit begini pasti ada ibu menemaniku dan mengabaikan pesta hajatan tetangga sebelah." Batinnya dengan sedu.

Perlahan-lahan mulai terlintas beberapa kenangan-kenangan manis bersama orang tuanya, tanpa Leo.

Cklek
Ariz menoleh ke arah pintu rumah yang terbuka tanpa permisi, ia tatap kedua orang tersebut, Mika selaku pacarnya dan Faza selaku sahabatnya.

"Hai, aku datang menjenguk mu sayang~ bagaimana kabarmu? Sehat? Mau aku masakkan sesuatu? Orang tuamu pasti meninggalkanmu disini sendirian lagi, kan? Apa kau sudah sarapan pagi? Kau harus memakan sayur dan buah agar lebih cepat sehat lagi-" Mulut Mika langsung ditutup dengan tangan Ariz.

Faza hanya menatap kedua pasangan itu dengan tatapan malas dan jengah, "Ah, aku mulai iri dengan hubungan Mika dan Ariz." Batinnya.

£¢€¥¶∆

Ditempat lain.
Arras memarkirkan motornya di lahan parkiran sekolah dan bertemu dengan sahabatnya dengan wajah riang, Alvaro.

"Yo! Gimana kabarmu? Apa kakakmu sudah sehat sekarang? Mau aku jenguk?" Tanya Alvaro.

"Baik dan tidak usah menjenguknya karena sudah ada pacar serta sahabatnya." Jawab Arras usai menaruh helem motornya di kaca spion.

"Oh? Baiklah, padahal aku tadi ingin menjenguknya, baik hati sekali aku, bukan?

"Ya ya ya, terserah kau lah yang penting kau bahagia."

"Ah, aku baru sadar ada bekas tamparan di pipimu, orang tuamu menamparmu karena drama Leo, kan pasti?"

"Hm, ayahku menamparku karena dia kira kalau aku yang memaksakan Leo untuk memecahkan celengan kesayangan dan tercintanya untuk membeli obat untuk kak Ariz."

"Cih, dasar drama sinetron."

"Memang."

"Pasti adekmu itu pengen liat kau dibuat sengsara aja dan nanti Leo yang dapat kasih sayang yang banyak dari orang tuanya, secara sendirian."

"Contoh pemikiran konspirasi."

"He! Udah aku itu khawatir dengan kondisi rumah tanggamu! Kau harusnya berterimakasih kepadaku kalau aku masih baik menemanimu hingga akhir."

"Berhentilah lebay dan alay kayak gitu."

"Nyeh!"

Tanpa dirasa, mereka berdua sudah sampai di depan pintu ruang kelas mereka.

....

...

..

.

Leo Carousel [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang