Pinkan Arawinda gadis maniac warna pink selain mengoleksi barang yang berwarna pink, dia hobi mengejar cowo yang konon katanya cowo itu dingin tak tersentuh Arshakalif Galendra.
Prinsipnya itu," PEPET TERUS SAMPE DAPET!"
Namun nyatanya Arsha itu r...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pinkan mengunyah seblak dengan malas menatap ponsel yang ada di genggaman tangan kirinya. Gara, Merah dan Saga menatap Pinkan dengan tatapan bingung sekaligus prihatin baru sekali anaknya galau seperti ini.
" Yah, tu anak kenapa?" tanya Merah saat melihat Pingkan berjalan lesu ke dapur.
Dugh
" Shibal!! Sial banget gue hari ini," Pinkan mengusap-usap dahinya yang terbentur sisi pintu.
" HUEEEE GUE MAU NIKAH SAMA SUNGHOON AJA!! BELOM APA-APA UDAH DITOLAK!" Pingkan merosotkan tubuhnya ke lantai.
"Astaghfirullah Bun, panggil pa ustadz kesini cepet!!" ujar Gara heboh menatap anaknya yang menggesor di lantai.
Merah mengangguk lalu mengambil telpon yang ada di ruang tamu dan menghubungi pa ustadz.
" Assalamualaikum pak, bisa dateng ke rumah saya? Iya heem, biasa ada dedemit nyempil di anak saya. Nanti saya jelaskan lebih detailnya disini." Merah menutup telponnya lalu menghampiri Gara di dapur.
" Gimana Yah ?" tanya Merah khawatir.
Pinkan menatap tajam kedua orang tuanya." Ayah, Bunda apaansi!! Aku engga kesurupan!! Imfine dahlah, gaada yang ngertiin gue malah dikira kesurupan." Pinkan berdiri melangkahkan kedua kakinya ke kamar.
Brak!
Gara menatap merah yang mengedikan kedua bahunya, kemudian terdengar ketukan pintu.
Tok! tok.
" Itu pa ustadz kayaknya." ujar Merah melihat ke arah pintu.
" Yaudah, bukain bun." jawab Gara.
Merah pun mengangguk lalu berjalan menuju pintu diikuti Gara dibelakangnya.
" Assalamualaikum permisi, apa benar ini rumahnya Pak Gara?" tanya Pak Ustadz saat Merah membuka pintu.
Gara yang dibelakang Merah langsung nyelonong ke depan," Wa'alaikumussalam iya Pak." jawab Gara tersenyum kaku.
" Tadi, ada yang mau di ruqyah?" tanya Pak Ustadz menatap Merah dan Gara yang tersenyum kaku.
" Ah gini Pak Ustadz, ada salah paham dikit ternyata anak saya ga ketempelan dedemit." Gara menggaruk kepalanya yang sedikit beruban itu.
Pak Ustadz tersenyum kaku." Ah gitu, yaudah saya permisi. Pak, Bu mari Assalamualaikum."
" Wa'alaikumussalam," jawab Merah dan Gara.
" Malu-maluin banget" lirih Merah.
" Bunda sih,"
••••••
Target Gue.
Sorry.
" Ini gue harus bales apa?" lirih Pinkan menatap lesu layar ponselnya. " Gue ga boleh luluh, nanti dia keenakan lagi," Pinkan berusaha meyakinkan dirinya walaupun tangannya gatal ingin membalas pesan Biru.