"Aku senang kalian saling mengenal," kata Helena pada Octava dan Ursula, ketika mereka sudah sampai dan duduk di lokasi pernikahan Gourse.
Octava pura-pura tidak dengar. Ia pusatkan pikirannya untuk menghitung jumlah kelopak bunga mawar yang tersusun pada panggung kecil semi permanen di depan mereka.
Mengenal Miss Ursula adalah hal terakhir yang bisa dipikirkan oleh Octava. Kalau ada dosen lain yang bisa mengajar mata kuliah Apresiasi Sastra, tentu Octava tidak akan berkubang di lumpur yang sama selama tiga semester.
Tapi, apa benar demikian? Tanya Octava lagi pada dirinya. Apa benar Octava merasa tersiksa dengan keberadaan Ursula?
Ursula Ward adalah wanita cerdas. Semua mahasiswa memuji caranya mengajar. Kebanyakan mahasiswa senang berlama-lama mengobrol dengannya. Ursula baik dan pikirannya terbuka. Ia jauh dari 'kolot'.
Dan Ursula selalu punya senyum yang menarik. Hidungnya yang bengkok, matanya yang cokelat terang membuat tatapannya semakin tajam. Mana ada mahluk hidup yang bisa beralih dari tatapan mata penuh godaan macam itu?
Sedang Helena adalah perempuan yang mendapatkannya. Ia mendapatkan Ursula yang brilian. Helena perempuan yang mapan, sukses. Ia sudah pasti sangat pandai dalam pekerjaannya. Tubuhnya tinggi. Ia cantik dan semakin kelihatan cantik dengan matanya yang hijau seperti laut. Menenangkan sekaligus mampu menenggelamkan. Suaranya teduh.
Jadi, kalau Helena dan Ursula sedang mengobrol, maka suara mereka akan sepadan dengan desau angin dan ombak di pantai. Oh! Apalah Octava kalau ingin bersaing untuk mendapatkan salah satu dari mereka!
Hush! Apa yang sedang aku pikirkan? Octava memarahi dirinya. Aku ini perempuan normal! Aku ini suka lelaki dan aku punya seorang pacar yang baik. Tony! Octava memaksa dirinya menerima kenyataan bahwa kekurangan Tony yang terbesar adalah bahwa lelaki itu tak pernah marah padanya.
Tony lelaki penyabar. Sehingga Octava ingin membalas kebaikan dan kesabaran itu dengan lebih 'rileks' di atas ranjang. Meski tak begitu puas dengan gaya 'main' Tony, Octava harus juga kompromi dengan kelebihan Tony yang lain. Itu baru adil namanya.
Sebentar saja melamunkan saudara tiri dan pacar saudara tirinya, seseorang datang dan menghalau pandangan Octava. Merasa terganggu, Octava mendongak.
"Mama!" teriak Helena histeris. Dalam kesan yang menggembirakan. Ia memeluk wanita asing itu dan menciumnya di pipi. Ursula juga ikut berdiri, jadi Octava mau tak mau mengikuti.
Orang yang dijuluki 'perempuan tua' oleh Helena itu adalah ibu kandungnya. Rebecca Draw. Octava langsung mengerti dari mana Helena mendapatkan kesempurnaan bentuk wajah dan warna mata yang demikian menghipnotis setiap kali Octava dan Helena saling pandang.
Tapi, berbeda dari selera berpakaian Helena yang modis dan cenderung elegan, Rebecca lebih menyukai warna-warna yang menyala. Terkesan terlalu ceria dan cerah. Sehingga membuat wanita itu tampak seperti anggota sirkus keliling. Dalam artian yang positif.
"Mama, ini Octava. Ia akan jadi saudara tiriku. Resmi hari ini." Helena memperkenalkan Octava yang sedang berdiri kaku di sebelahnya. Nada suaranya bangga.
"Aku Rebecca Draw. Ibu kandung Helena. Sini, beri Tante pelukan." Wanita itu memeluk Octava erat-erat sampai gadis itu kehabisan oksigen. Sedetik sebelum Octava jatuh koma, Rebecca baru melepasnya. "Kata orang kami mirip. Tapi lihat dari mana ia mendapatkan wajah aneh itu! Itu milik Gourse!"
Helena tertawa mendengar tuduhan ibunya.
Kemudian Rebecca melanjutkan, "Dan..." Rebecca berhenti ketika melihat Ursula berdiri tepat di depannya. "Kamu, mahluk liberal. Apa yang kamu lakukan di sini?" Lagi, ia memeluk Ursula dengan gemas. Ursula membalas pelukan itu sampai ngos-ngosan.
KAMU SEDANG MEMBACA
2. Microscopic Lust GXG (END)
Romansa18+ "Cinta segitiga itu tidak ada, Santi. Yang ada hanya rasa angkuh untuk membagi!" -Octava Gourse- Octava adalah seorang gadis berusia 22 tahun. Pernikahan kedua sang ibu dengan seorang miliader bernama Gourse membuat gadis itu harus tinggal serum...
