"Pagi semuanya," sapa Helena ketika menuruni tangga menuju ruang makan. Ia masih pakai yukata, tapi kali ini ia mengikat talinya.
Gourse dan Amanda sedang duduk dan menikmati sarapan. Wajah mereka tampak segar. Pakaian mereka rapi dan wangi. Terlalu rapi untuk sepasang pengantin yang baru melakukan resepsi pernikahan tadi malam.
"Kalian sudah akan bekerja?" Helena bingung. Perempuan ini malah mengambil cuti di tempat kerjanya dengan alasan pernikahan Gourse.
Pak Gourse yang mulutnya penuh roti hanya menunjuk pada tumpukan koper di ruang tamu. Helena tak bicara lagi setelah melihatnya.
"Helena, Tante minta tolong untuk menjaga Octava selama Tante tidak ada. Anggap dia adikmu. Kadang Octava terlalu penyendiri sampai tidak punya teman. Hanya untuk seminggu. Kalau kamu tidak sibuk." Amanda memohon.
"Siap, Tante." Helena langsung menunjukkan jempol kanannya. "Apa Octava tahu kalian akan pergi?"
"Kami bisa menunggunya bangun..." Gourse baru bisa bicara. Sayang kalimatnya segera diputus.
"Kalau menunggu anak itu bangun, kita akan tertinggal pesawat, Gourse," potong Amanda.
Pak Gourse memang orang yang hati-hati dalam membelanjakan uang. Meski ia seorang miliader, ia tidak mau menyewa jet pribadi. Ia bahkan tidak ingin memilikinya. Pak Gourse bukan pelit. Ia merasa cukup dengan apa yang sudah ia punya sekarang. Ia memilih untuk menabung dan berinvestasi pada tanah perkebunan dan ternak. Kesederhanaannya menurun pada Helena.
"Aku akan membangunkannya." Helena segera bangkit.
"Kamu makan saja dulu." Amanda merasa tak enak karena terkesan memerintah. Tapi, Helena sudah menghilang dari ruang makan.
Dua kali Helena mengetuk pintu kamar, tapi Octava tak juga menjawab. Helena memberanikan diri untuk masuk ke kamar Octava yang tidak terkunci. Ia ingin memastikan bahwa adik tirinya baik-baik saja.
Namun, Octava tak ada di tempat tidurnya. Helena menyusuri setiap lekuk kamar hingga balkon. Dari sana ia dapat mendengar bunyi shower di kamar mandi.
"Octava, apa kamu sedang mandi?" tanya Helena. Lalu ia menunggu jawaban.
Karena Octava tidak juga menjawab, Helena memanggil lagi, "Aku akan mendobrak jika kamu tidak menjawabku."
Sementara di sudut kamar mandi, Octava meringkuk seperti udang. Ia biarkan keran menyala dan mengguyur kepalanya. Ia harap isi kepalanya bisa hanyut bersama air ke dalam lubang pembuangan. Sehingga ia tak mendengar sama sekali panggilan Helena.
Octava benar-benar sudah mengacaukan segalanya. Hanya butuh waktu dua setengah jam, dan ia mengacaukan semuanya.
Jam lima pagi tadi, ia melompat ke dalam mobil dan pergi bersama Ursula ke pinggiran kota. Mereka berhenti di halaman sebuah gedung bekas hotel dan menyusup masuk ke dalam seperti dua remaja nakal.
"Apa yang akan kita lakukan di sini?" Octava bertanya karena takut. Ia cepatkan langkahnya untuk mengejar Ursula yang nampaknya punya kaki yang lebih jenjang dan terbiasa olahraga.
"Ikut saja, ini penting." Ursula bicara tanpa menengok ke belakang sama sekali. Ia fokus pada kegelapan di depannya. Nampaknya Ursula sudah terbiasa menyusup ke sini. Sehingga kakinya sudah hapal medan dan tak menabrak atau tersandung.
Ketika mereka sudah sampai di puncak gedung terbengkalai itu, Ursula melihat jam tangannya. "Sekarang kita akan menunggu," jelasnya. Nafasnya tidak tersengal. Ia sudah terbiasa.
"Ya ampun! Miss Ursula akan mengajakku melihat matahari terbit kan?" Octava menuduh lawan bicaranya. Ia mendadak menyesali keputusannya.
Ini konyol. Tadinya Octava mengikuti Ursula dengan harapan akan diluluskan pada kelas Apresiasi. Dan sekarang, ia pergi berdua dengan pacar kakak tirinya. Hanya untuk melihat matahari terbit?
Ursula mendekati mahasiswinya, kedua tangannya ia sampirkan di pinggang. "Memangnya kenapa dengan matahari terbit?"
"Ini sinetron sekali, begini caramu membuat puisi? Bertualang di hotel berhantu dan melihat matahari terbit?" Octava kecewa. Karena ini sama sekali tidak sepenting apa yang dikatakan Ursula. Kalau begini, ia rela tidak lulus mata kuliah untuk yang ketiga kalinya.
Karena kalau sampai Helena tahu, Octava mungkin akan dipindahkan ke Universitas lain. Ia bisa saja diberhentikan dari kuliahnya. Octava bisa dibuang ke jalanan. Dan Amanda pasti tidak keberatan.
Ursula mencari-cari mata Octava. Ia memandang mahasiswinya sambil tersenyum. "Apa definisi peristiwa puitika?" Ursula menghadap ke arah timur dan menunggu.
Sementara Octava mulai merasa tak tenang dan menyesali tindakan bodohnya. Ia mondar-mandir sambil mencari alasan. Ia ingin pulang.
"Lihat itu." Ursula bergumam.
"Aku melihatnya tiap hari. Matahari terbit setiap hari. Sekarang, aku ingin pulang."
"Nanti akan kuantar. Tunggulah, sebentar lagi." Ursula menyipitkan mata, sinar matahari pelan-pelan naik ke permukaan. Cahaya kemerahan itu, sebentar lagi akan membungkus tubuh mereka yang gigil karena udara pagi.
"Kamu bisa lihat lagi esok. Sekarang antarkan aku pulang, kumohon." Octava nyaris merengek. Dalam pikirannya hanya ada wajah Helena yang mengamuk.
"Besok sinar matahari ini akan berbeda. Sekarang adalah waktu yang tepat."
Octava menghadap matahari. Ia berusaha merasakan apa pun itu peristiwa puitika yang Ursula maksud. Semenit kemudian ia menyerah. "Aku tidak bermaksud kejam, tapi aku tak merasakan apa pun."
Spontan, Ursula menangkupkan tangannya di pipi Octava. "Kalau begini, mungkin akan beda rasanya."
Dan Octava tidak bisa menjawab lagi. Ursula mencium bibirnya! Octava pikir ia akan segera mendorong dosennya itu ke ujung atap dan membunuhnya. Namun, yang ia lakukan adalah menarik kerah baju Ursula, tepat ketika sinar matahari yang hangat menyentuh kulitnya.
Peristiwa puitika. Dan sudah terlalu terlambat bagi Octava untuk menghentikannya. Ia menginginkan peristiwa itu. Octava membalas ciuman Ursula. Semakin ia ingin melepaskannya, semakin Octava mendorong bibirnya ke dalam teka-teki Ursula.
Octava diantar pulang sebelum semua orang di kediaman Gourse bangun. Gadis itu berjingkat ke kamarnya. Ia langsung menghambur ke dalam kamar mandi dan mengguyur dirinya.
"Sudah berapa lama kamu ada di sini?" Helena menyerbu masuk ke dalam kamar mandi. Ia matikan keran dan mengambil handuk kering yang tergantung di dinding. "Apa kamu baik-baik saja?" Helena memastikan lagi. Ia bangunkan Octava. Ia selimuti adik tirinya dengan handuk.
Octava tidak menjawab sama sekali. Tubuhnya seolah kosong. Roh Octava sedang meninggalkan cangkang keduniawian. Ia sedang pergi ke dalam 'limbo' antah berantah. Ia akan terbang ke neraka.
Pelan-pelan Helena melepaskan gaun hitam yang kuyup itu dari tubuh Octava. "Cepat ganti bajumu sebelum Tante Amanda datang ke sini!"
Octava mengangguk. Mata dan hidungnya merah karena kedinginan.
"Aku akan menahan mereka di bawah, berjanjilah untuk segera turun. Mereka menunggumu karena mereka akan segera berangkat bulan madu. Setidaknya munculah dan lambaikan tanganmu. Jangan membuat mereka enggan bersenang-senang. Ya?" Helena memandang Octava dengan wajah kasihan. Ia segera berjalan ke pintu.
"Helena." Octava memanggil kakak tirinya. Ia mendekat pada Helena yang masih berdiri di belakang pintu.
Helena menunggu Octava datang dan mencium pipi kanannya.
"Terimakasih Helena," gumam Octava.
Helena terdiam. Dan entah siapa yang memulai lebih dulu, tahu-tahu bibir mereka sudah menempel satu sama lain. Ciuman yang terjadi di antara mereka terlalu dalam. Sehingga Helena merasa tersesat di sebuah lorong yang terang benderang namun tak ada ujungnya. Mereka saling mendesakkan diri. Lalu pintu menutup dengan suara yang keras. Octava dan Helena tersangkut di bagian dalam.
"Helena! Octava! Kami akan ketinggalan pesawat!" teriak Pak Gourse dari bawah tangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
2. Microscopic Lust GXG (END)
Roman d'amour18+ "Cinta segitiga itu tidak ada, Santi. Yang ada hanya rasa angkuh untuk membagi!" -Octava Gourse- Octava adalah seorang gadis berusia 22 tahun. Pernikahan kedua sang ibu dengan seorang miliader bernama Gourse membuat gadis itu harus tinggal serum...
