"Okasan huu..." Ai menelpon Shiho suatu siang sembari tersedu-sedu.
"Kenapa Ai? Kok nangis?" tanya Shiho yang saat itu masih di kantornya.
"Otosan... Otosan..."
"Otosan kenapa?"
"Otosan mendadak kesakitan saat ajak Ai jalan..."
"Eh? Kesakitan?" Shiho terhenyak.
"Iya... Okasan ke sini donk... Ai takut..."
"Ai dan Otosan di mana?"
Ai menyebutkan tempatnya.
"Ai tunggu ya, Okasan segera ke sana..."
Shiho pun meluncur dengan mobilnya ke tempat yang telah disebut Ai. Taman Danau Karuizawa. Sepanjang perjalanan ia merasa cemas dan hatinya berdebar-debar. Takaaki kesakitan kenapa? Perasaan Shiho dia sangat sehat, tidak memiliki masalah lambung atau jantung.
Setelah memarkir mobilnya, Shiho pun mencari-cari di sekitar taman di tepi danau. Ia sudah menelpon Ai berkali-kali, namun anak itu tidak menjawab. Ia jadi semakin cemas. Hatinya tidak tenang. Kemudian mendadak ia melihatnya. Takaaki sedang duduk di kursi kayu panjang di pinggir danau.
"Morofushi-San?" panggil Shiho bingung mendapati Takaaki baik-baik saja.
Takaaki mendongak memandangnya, "Shiho? Ai mana?" ia mencari-cari.
"Lho? Bukannya dia bersamamu?"
"Eh? Tadi Ai menelponku katanya kalian mau mengajakku ketemuan di sini untuk jalan-jalan."
"Hah? Aku justru ditelpon Ai, katanya kau mengajaknya jalan ke sini dan mendadak kau kesakitan. Dia nangis-nangis ditelpon."
Takaaki mengernyit, "aku? Kesakitan?"
"Tapi kau baik-baik saja kan?" Shiho memastikan.
"Aku baik-baik saja."
"Apa yang sedang terjadi?"
Takaaki berdiri dan meraih handphonenya. Ia bermaksud menelpon Ai, namun handphonenya malah berbunyi lebih dulu. Nomornya nomor Yamato.
"Ada apa Kansuke?" tanya Takaaki.
"Open speakernya, biar Shiho juga dengar," pinta Yamato.
Takaaki menaikkan sebelah alisnya, tapi mematuhi permintaan aneh temannya tersebut. Ia pun open speakernya dan memosisikan handphonenya diantara dirinya dan Shiho.
"Sudah, kau mau apa?" kata Takaaki.
"Ai-Chan ada bersamaku dan Uehara," Yamato memberitahu.
Takaaki dan Shiho terkesiap saling pandang.
"Dia bertekad tidak mau pulang sebelum kalian selesaikan urusan kalian," kata Yamato lagi.
"Maksudnya?" tanya Shiho.
"Kalau tidak ada kabar baik juga, Ai minta diadopsi jadi anak kami, karena dia mau punya orang tua lengkap yang tinggal bersama."
"Jangan aneh-aneh Kansuke, di mana Ai?" desak Takaaki.
"Semoga mediasinya berjalan lancar!" seru Yamato sebelum memutuskan sambungan.
"Nani? Jadi, mereka yang mengajari Ai berbohong? Sampai pakai akting nangis segala. Ai kan masih kecil masa sudah diajari seperti itu?!" gerutu Shiho.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Protector
FanfictionGak tahu kenapa belum ada mood bikin Shinichi-Shiho. Mungkin lagi kurang inspirasi, mungkin juga lagi kebanyakan nonton dan baca literasi China dan kalau udah hubungannya sama China lebih terkoneksinya sama Morofushi Takaaki. Dan hal yang menyenang...