Selamat sore sayang ❤️
Jangan lupa Vote dan Comment untuk chapter ini.
.
.
.Selamat membaca ❤️
.
.
.Kana meremas kedua tali ranselnya, usai langkahnya terhenti karena Kao sudah menghadang di depan sana. Apakah Kana menghindar seperti sebelumnya? Sayangnya tidak.
Entah apa yang ia pikirkan, Kana justru mencoba lebih berani menghadapi Kao untuk kali ini.
Ya, usai Miu mengecup bibirnya tanpa permisi kemarin sore-- ahh, lebih tepatnya menjelang malam. Di sana Kana tidak dapat menjawab pertanyaan yang Miu lontarkan, selain bagaimana ia berlari untuk pergi dari hadapan seniornya itu.
Kana menghentikan sebuah taxi, bergegas lebih dulu sebelum Miu sempat mengejarnya.
.
.
.Senyuman penuh arti Kao tebarkan, seakan ia benar-benar percaya diri-- dan berpikir jika Kana sudah menyerah.
"Pagi sayang." Ucap Kao, bersama kelima temannya yang turut mengulas senyuman ke arah Kana. "Auw, tunggu-- di mana kekasih barumu itu? Ahh, maksudku, kekasih palsumu." Sarkasnya, yang lalu tertawa-- menggoda Kana yang masih terdiam di hadapannya.
Namun, tawa Kao terhenti sejenak, berganti dengan smirk kemenangan di bibirnya-- seraya maju beberapa langkah untuk mengikis jarak antara dirinya dan Kana. "Bagaimana? Permainanmu sudah selesai sayang. Bukankah sudah aku katakan? Kamu tidak akan bisa dengan mudah mendapatkan penggantiku di sekolah ini."
Kana masih terdiam, bersama perasaan yang sulit di jelaskan.
"Menyerahlah sayang, dan tenang saja-- karena itu kamu, maka aku akan melupakan permainan konyol yang kamu lakukan dua hari lalu."
"Bisakah Phi melepaskanku?"
Kao terdiam sejenak, mengangkat satu alis-- bersama senyuman penuh arti. "Melepaskanmu?" Ledeknya, seraya mengusap surai hitam Kana.
"Ku mohon, hentikan."
Tepuk tangan Kao memecah suasana, di ikuti dengan tawanya yang mengintimidasi.
"Ohoo, Kana manisku sangat menggemaskan jika sedang memohon seperti ini." Ucapnya. Kao bahkan merubah ekspresinya, menjadi penuh peringatan. "Apa kamu bercanda sayang?"
Kana menelan kasar salivanya, saat jemari Kao yang tengah mengusap kedua pipinya-- kini beralih menjadi seperti menekan kulit wajahnya.
"Bagaimana bisa aku melepaskan anak manis sepertimu, bahkan aku belum sempat menikmatinya." Kao berbisik, terkesan tegas dan penuh arti. Membuat Kana semakin erat meremas tali ranselnya. "Jangan bercanda sayang."
"Ku mohon, hentikan semuanya. Aku sudah tidak mencintai Phi lagi, aku mengatakannya seperti ini, karena aku ingin berbicara baik-baik dengan Phi-- ku harap Phi mengerti."
Kao menarik smirk dengan singkat, menggeleng tegas seraya menepuk kedua pipi Kana. "Bermimpilah sayang. Kamu marah padaku karena aku berbohong padamu, tapi kamu juga melakukannya. Kamu berbohong tentang kekasih barumu."
"Tapi itu dua hal yang berbeda."
"Kebohongan tetaplah kebohongan, bukankah kita tidak jauh berbeda?"
Kana terdiam sejenak, jujur ia benar-benar muak dengan semua hal konyol ini. Kana bahkan sangat menyesal, mengapa ia bisa terjerat dengan omong kosong Kao di masa lalu. Lihatlah sekarang, pria sinting itu tidak melepaskannya dengan mudah.
