CHAPTER 7

1.1K 231 32
                                    

Hai sayang ❤️


Jangan lupa Vote dan Comment.

.
.
.

Selamat membaca dan tahan emosi.
Oke?
Karena di part ini, Miu benar-benar minta di cubit.

.
.
.

Kana menghela nafas kasar, saat membuka satu pesan masuk di ponselnya. Itu dari Miu.

Ya, sejak beberapa hari lalu, usai ia demam dan Miu mengantarnya-- Kana benar-benar terpaksa melanjutkan perjanjiannya dengan Miu.

Ayolah! Percuma Kana menolak, ia bahkan pernah dengan tegas dan jelas mengatakan pada Miu jika dia ingin berhenti. Tapi, Miu justru melakukan banyak hal tidak masuk akal padanya-- membuatnya seakan sulit terlepas dari jeratan seniornya itu.

"Apa lagi yang dia lakukan." Gumamnya, Kana mengeluh atas keinginan Miu yang kali ini-- memintanya datang ke gym basket sepagi ini.

Namun, tidak ada pilihan lain bagi Kana, selain melakukan apa yang Miu lakukan-- atau ia akan mendapat hukuman dari pria itu, seperti beberapa hari lalu, saat ia mencoba menghindar. Di sana Miu selalu berhasil menemukannya, dan memberinya hukuman berupa hal tidak masuk akal-- termasuk menciumnya.

Hei! Bukankah Miu sudah di luar batas?
Tapi, Kana selalu saja tidak bisa melawan.

Bisa di katakan, Kana mulai menyadari perasaannya pada Miu-- dia menyukai seniornya dengan serius. Namun, Kana mencoba mengalihkannya, menepis perasaan itu. Kana hanya tak ingin, Miu justru semakin bertindak sesuka hati padanya-- jika mengetahui bahwa ia lebih dulu menyukainya. Kana yang malang.

Kana bahkan tidak mengerti, mengapa ia bisa benar-benar jatuh hati pada senior menyebalkannya itu.

Apakah karena ciuman pertamanya kala itu? Entahlah, terkadang... Cinta memang kerap datang begitu saja, bahkan dengan cara yang tidak kita harapkan.

.
.
.

Miu menoleh singkat ke arah pintu Gym, di mana ia sudah mendapati Kana tiba di sana.

"Ada apa?"

Miu tidak menjawab, selain bagaimana ia memasukan bola basket di tangannya ke arah ring di depan sana. Melihat hal itu, Kana hanya menghela nafas panjang, yang lalu kembali melangkah untuk mendekat pada Miu.

"Phi Miu" Kana mengerutkan kedua alisnya, menatap ekspresi Miu yang tidak biasa. "Phi?"

Miu masih tidak menoleh, di mana ia masih fokus pada bola lain yang kini ia pantulkan-- sebelum akhirnya ia masukan ke dalam ring di depannya.

"Apa dia baik-baik saja?" Gumamnya, seraya menatap beberapa bola basket lainnya yang berhamburan di lantai.

"Jangan hanya mematung, cepat ambil bola-bola itu dan berikan padaku."

Kana menghela nafas panjang entah untuk ke berapa kalinya, dengan bibirnya yang sedikit cemberut-- Kana menuruti keinginan sang senior.

"Apa yang salah dengannya?" Gumamnya kembali, dengan sesekali menoleh untuk menatap ekspresi pria itu.

Ya, Miu terlihat sedang menahan emosi-- dia bahkan terkesan melampiaskannya pada setiap bola di tangannya. Melihat... Bagaimana cara ia memantulkannya, bagaimana cara ia melemparnya, serta bagaimana tatapan matanya. Miu bahkan tidak banyak bicara seperti biasanya.

Mr.Devil || MiuKana ✓ ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang