Bab 15

813 39 2
                                        

Jejak-jejak rasa sakit yang kini mulai memudar oleh ombak yang di ciptakan laut...
.
.

Sudah lama ketika terakhir kali Rama sering mengecek keberadaan adik-adiknya melalui maps, apalagi setelah Sakti mulai sibuk di dunia musik dan Sanjana yang mulai menggapai mimpinya menjadi seorang desainer.

Rama mengira jika pelacak sepertinya tidak terlalu di perlukan lagi mengingat adik-adiknya mulai beranjak dewasa, meskipun terkadang sifat kabur-kaburan nya ketika marah masih sesekali mereka lakukan, seperti Sakti yang memilih selalu kabur ketika makan malam keluarga meskipun adiknya itu tidak memiliki jadwal manggung sama sekali.

Tapi Rama sedikit bersyukur karena keputusannya untuk menyelipkan gps pada hadiah yang dia berikan untuk adik-adiknya itu memberikan banyak sekali kemudahan bagi dirinya untuk menemukan persembunyian sang adik ketika marah.

Dan lagi-lagi pelacak itu juga memberikan titik terang akan keberadaan sang adik yang kini entah dimana keberadaannya, apalagi setelah bertubi-tubi adiknya itu mendapat banyak sekali rasa sakit dari orang yang sangat adiknya cintai membuat Rama merasa sangat khawatir jika adiknya mengambil keputusan yang membahayakan.

"Ketemu" ujar Rama, kini adik kakak itu tengah memandangi layar laptop dengan penuh pengharapan.

"Lokasinya di Bali, dan kalau gak salah ini adalah vila pemberian Oma untuk sanjana" ucap Sakti, laki-laki itu seakan sadar jika adiknya memang tidak akan pergi ke tempat yang jauh, karena menginap jika adiknya itu termasuk penakut akan tempat-tempat baru.

"Bentar Abang telpon dulu asisten Abang buat booking tiket ke Bali" Sakti mengangguk lega, setidaknya mereka sudah mendapatkan lokasi adiknya sekarang dan untuk kedepannya Sakti tidak akan membiarkan adiknya pergi lagi.

Tapi sepertinya kelegaan itu nampak hanya sebentar ketika satu panggilan masuk dari ibunya membuat Sakti yang awalnya enggan untuk mengangkat mau tidak mau laki-laki itu mencoba mengangkat panggilan tersebut.

Mungkin sudah sekitar dua tahun Sakti tidak pernah mendapatkan telpon dari ibunya, Sakti ingat jika ketika kecil dia sering sekali mendapatkan pukulan dari ibunya hanya karena dirinya suka sekali musik di bandingkan mata pelajaran sekolah.

Dan tidak hanya Sakti tapi Kakak dan adiknya juga ikut masuk dalam amukan kedua orangtuanya karena keinginan dirinya dan dua saudaranya yang lain bersebrangan dengan kedua orangtuanya.

Sakti tidak tahu awal kebencian orangtuanya itu bagaimana, karena yang Sakti tahu ibu dan ayahnya sama sekali tidak pernah mendidik anak-anaknya dengan baik, karena selama ini mereka mengejar uang, kedudukan dan juga nama baik dari orang-orang sehingga mereka menutup segala mata dan telinga ketika ketiga anaknya menangis karena banyak nya pukulan yang mereka terima.

"Sakti, kamu tahu adik kamu dimana?! Sudah beberapa hari ini anak sialan itu tidak angkat telpon ibu!" Teriak ibunya di sebrang telpon, sementara itu Sakti menahan diri untuk tidak memaki ibunya.

"Kamu denger gak apa yang mamah bilang?! Pokoknya kamu cari adik kamu itu, bisa-bisanya dia bohong kalau masih berhubungan dengan kekasihnya itu padahal mereka sudah putus dari lama, dan bilang ke adik mu itu untuk pulang ke rumah ibu mau menjodohkan adik mu itu dengan anak teman ibu, kalau dia tidak mau seret saja!! Dan jangan sampai anak itu mempermalukan keluarga ini!!" Entah mengapa Sakti tidak pernah mendengar kata-kata baik dari orangtuanya sedikitpun bahkan ketika ibu atau ayahnya berkedok membanggakan anak-anaknya di depan teman-temannya pasti kedua orangtuanya itu akan menyelipkan kata-kata yang menyakiti hati.

"Cukup!!! Anda memang benar-benar orangtua brengsek yang pernah saya temui selama ini, mulai saat ini dan selamanya jangan pernah temui saya, kakak dan adik saya, kami bertiga akan memutuskan ikatan kekeluargaan yang hina ini!!!" Sakti sudah sangat muak dengan orangtuanya, bahkan Sakti ingin sekali memperlihatkan kepada semua orang jika kedua orangtuanya itu adalah orangtua paling buruk yang ada di muka bumi ini, karena merekalah anak-anaknya menderita begitu hebat.

Sakti memutuskan panggilan tersebut setelah meluapkan sedikit amarahnya, sementara itu Rama melihat wajah adiknya itu dengan wajah sendu karena selama ini Rama merasa dirinya belum bisa melindungi adik-adiknya dengan baik, Rama tahu jika kekuasaan orangtuanya itu cukup besar sehingga jika Rama salah langkah sedikit saja maka dirinya dan kedua adik-adiknya akan hancur.

Tapi Rama juga tidak bisa menahan kegilaan orangtuanya itu, karena semakin Rama dia maka semakin besar pula kedua orangtuanya itu menyakiti dirinya dan adik-adiknya.

..

Setelah memalukan perjalanan udara sekitar satu jam, kedua adik kakak itu tiba di bandara Bali dan langsung melajukan kendaraannya menuju tempat tinggal adiknya.

Perasaan was-was dan juga takut terlihat dari wajah keduanya karena keduanya tahu jika adik bungsunya itu sangat rapuh sedari kecil berbeda dengan keduanya yang berusaha kuat menahan segala rasa sakit yang di berikan oleh kedua orangtuanya itu.

Sampai akhirnya mereka sampai di Villa yang berada di pinggiran pantai, villa yang sempat mereka tempati selama liburan sekolah bersama almarhum nenek mereka, dan kini bangunan vila itu terlihat masih kokoh dan terawat sama seperti dulu.

Rama langsung membuka pintu villa yang sama sekali tidak di kunci, laki-laki itu cukup kaget melihat pemandangan di dalam yang berserakan, entah apa yang sudah terjadi tapi Rama dan Sakti langsung pergi mencari keberadaan adiknya di berbagai ruangan.

"Sanjana... sayang..." Teriak Sakti dan Rama memanggil nama adik bungsunya itu, namun panggilan itu sama sekali tidak ada sahutan hingga kedua lari kearah ruangan terakhir di lantai dua yang masih belum mereka buka.

Perasaan Rama dan Sakti langsung hancur seketika ketika melihat adiknya yang tengah meringkuk lemah tak berdaya bahkan kondisi kamar yang sangat berantakan penuh dengan pecahan-pecahan.

Terlihat Sanjana yang tengah meringkuk bagaimana orang yang sudah tidak ingin melanjutkan hidup.

"Sanjana, ini Abang sayang.." Rama langsung memeluk tubuh adiknya yang terlihat sangat kurus dari sebelumnya, sementara itu Sakti membelai wajah adiknya dengan pelan, airmata yang sedari tadi mereka tahan kini mulai mengalir.

Sanjana yang tengah tertidur merasakan pergerakan di tubuhnya itu mulai terbangun, perempuan itu melihat wajah kedua Kakaknya yang tengah memeluk tubuhnya dengan begitu lembut.

Perlahan Sanjana mulai menangis dan terisak kembali, bahkan tangisan Sanjana terdengar begitu lirih menyayat hati.

Rama dan Sakti ikut terhanyut memeluk sang adik yang terlihat sangat rapuh, bahkan keduanya sama sekali tidak menghentikan tangisan adiknya itu karena keduanya tahu jika adiknya sedang tidak baik saja.

"Bang, aku ingin mati..." Lirih Sanjana yang membuat kedua kakaknya itu terkejut.

"Jangan, jangan mati.. Abang janji mulai saat ini kita bertiga akan pergi jauh dan mulai kehidupan baru, kita akan mulai merakit kebahagiaan kita" tegas Rama.

"Kita pergi ke rumah yang jauh ya sayang, Abang janji hanya ada kita bertiga dan juga kebahagiaan nantinya" lanjut Sakti, sementara itu Sanjana hanya bisa menangis lirih mendengar jawaban dari kedua kakaknya itu.

"Aku sudah hancur... masa depan ku sudah hancur!!, dia memperkosa aku bang!!! Dan sekarang aku juga hamil!!!" Teriak Sanjana yang membuat Kedua kakaknya semakin terkejut.

Sampai akhirnya Rama dan Sakti sadar jika adiknya sudah semakin hancur tak terbentuk, apakah esok hari dan seterusnya mereka berdua dapat mengembalikan kebahagiaan untuk adik itu atau tidak karena luka yang adiknya rasakan itu sudah dalam dan sangat sulit sekali untuk di obati.




..

Plis aku ngetiknya juga sambil nangis hehe

Kejar Hingga KetepianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang