06. Antara 2 pilihan

14.8K 426 2
                                        

“Terkadang, ada saatnya manusia menghadapi dua pilihan yang sulit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Terkadang, ada saatnya manusia menghadapi dua pilihan yang sulit. Namun, tetaplah meminta bantuan pada Allah meski hal tersebut terlihat kecil.”

Aleya, Hanafi dan Fathar sudah sampai di rumah sakit, mereka berjalan menuju ruangan inap Harits. Setelah sampai mereka masuk ke dalam ruangan bernuansa putih itu.

"Gimana keadaan Abi, Ummi?" Tanya Aleya.

"Alhamdulillah sayang, keadaan Abi sudah makin membaik, dalam beberapa hari lagi Abi mungkin akan bangun kata Dokter," jelas Zainab.

"Alhamdulillah," syukur mereka bertiga.

"Gimana sekolah kamu?" Tanya Zainab.

"Baik Ummi," jawab Aleya.

"Apalagi ditambah calon suami yang jadi gurunya," celetuk Hanafi yang sedang bermain ponsel di sofa. Membuat Aleya menatap nyalang ke arah abangnya itu.
Satu. Dua. Tiga.

Pukk!

" Allahuakbar!" Erang Hanafi, tas Aleya yang berisi banyak barang itu tepat sasaran ke arah perut Hanafi.
Aleya menepuk tangannya senang karena ia tepat sasaran. Sedang Fathar sudah jantungan disamping Hanafi, ia yang tadinya duduk di samping Hanafi sambil bermain ponsel kini jadi deg-degan dan ponselnya terjatuh ke lantai.
"Kamu gak papa nak?" Tanya Zainab khawatir, ia mendekati anak sulungnya itu.

"Kamu ngisi tas pake batu ya?!" omel Hanafi sembari menyingkirkan tas Aleya dari depan perutnya. Ia mengelus perutnya yang sedikit sakit, membuat Aleya seketika merasa bersalah.

"Aduh bang, sakit banget ya?" panik Aleya, ia lantas menghampiri abangnya itu.

"Ya, sakit lah!" kesal Hanafi.

"Maaf ya bang," ucap Aleya menampilkan puppy eyes nya.

"Gak." ucap Hanafi, ia membuang muka dan bersedekap dada.

"Yah.. maafin dong, ya, ya. Ya?"

Hanafi melirik Aleya, "peluk dulu," ucap Hanafi datar.
Aleya pun memeluk abangnya itu dari samping, "maaf ya bang," ucap Aleya.

"Hmm," jawab Hanafi berdehem.

Zainab tertawa melihat interaksi kedua anak nya itu. "Harap maklum ya nak Fathar, mereka emang suka gini ujungnya kalo berante, " ucap Zainab.

"Na'am Ummi," jawab Fathar kikuk. Di ruangan ini, hanya ia yang bukan bagian dari keluarga itu.

***

5 hari kemudian...

Mereka semua sedang berkumpul di ruangan Harits, Harits baru saja bangun 30 menit yang lalu. "Sini nak mendekat," ucap Harits lemah pada putrinya.

Aleya lalu mendekat ke arah abinya. "iya, ada apa Abi?" Tanya Aleya.

"Gimana dengan Keputusan kamu nak?" Tanya Harits.

"…"

"jika bisa, Abi ingin kamu menikah secepatnya, " ucap Harits. "Bagaimana nak Fathar?" Tanya Harits.

Gus Alfathar (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang