Sudah terbit di KBM App
Dan ceritanya 40% berbeda dengan yang di Wattpad. Penulisan juga lebih rapi dan minim typo
-----
"Kalo memang kamu masih ada rasa sama lelaki itu, kenapa tidak menolak perjodohan ini dengan tegas? Bukan hanya lelaki itu yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Sejauh apapun jaraknya, jika Allah sudah berkehendak. Apapun yang tidak mungkin, bisa menjadi mungkin.”
Saat ini Aleya sedang berada di mini market yang ada di dekat Rumah Sakit, ia sedang berbelanja banyak jajan untuk cemilan di ruangan rumah sakit. Aleya berjalan dari rak ke rak untuk mencari makanan yang dia inginkan, sampai matanya menangkap sesuatu yang tidak asing di matanya.
"Lah, itu si Gus disini juga?" Gumam Aleya.
Aleya berniat menghampiri Fathar untuk menjelaskan kejadian kemarin, Ia akan tetap memilih Fathar karena takut ayahnya terkejut dan sakitnya jadi makin parah.
Belum sempat ia menghampiri Fathar, tiba-tiba saja seorang gadis menggandeng lengan Fathar. Pemandangan biasa bagi orang yang tak punya perasaan pada lawan jenisnya, bukan begitu? Tapi kenapa Aleya merasa tak suka dengan pemandangan yang ada di depannya? Gadis itu terlihat menggandeng Fathar sembari bercengkrama dengan Fathar di selingi tawa manis dari mereka berdua. Fathar sama sekali tak terlihat dingin seperti yang ia kenal. Aleya memandang datar ke arah keduanya, jarak mereka hanya dua meter, ingin rasanya Aleya marah, tapi ia sadar, bahwa bereka belum siapa-siapa.
Fathar menyadari ada yang memperhatikan dirinya sejak tadi, ia pun mendongak menatap ke arah depannya, alisnya terangkat saat melihat wajah datar milik Aleya, ada apa dengan gadis itu? Pikir Fathar, ia pun langsung menundukkan pandangannya, tidak ingin berlama-lama menatap gadis itu.
"Ngeliatin siapa?" Tanya gadis di sampingnya.
"Orang." jawab Fathar, kemudian kembali fokus dengan makanan yang akan mengisi keranjang yang di pegang oleh gadis di sebelahnya.
"Kamu mau apa lagi?" Tanya Fathar.
"Ini aja deh, ntar uangnya gak cukup lagi." jawab gadis itu.
"Ambil apa yang kamu mau, kan ada Bank berjalan disisi mu." ucap Fathar sambil mencubit pipi gadis di sampingnya.
Aleya? Apa kabar dengan gadis itu? Pastinya sedang panas dingin melihat interaksi kedua orang itu yang terlihat mesra. Arghhh... Ingin sekali rasanya Aleya menjambak rambut gadis itu. Siapa suruh berdekatan dengan calon suaminya! Ehh... Apa Aleya cemburu? Daripada panas dingin disini, dia lebih memilih untuk pergi membayar jajanannya, meski tak banyak yang ia beli, ia sudah setengah kenyang melihat pemandangan tadi.
"Dia kenapa?" Tanya gadis di samping Fathar.
"Gak tau. Mungkin kesurupan." ucap Fathar asal, tapi juga bingung dengan sikap Aleya barusan.
"Kok ngomong gitu? Gak baik tau!" ucap gadis di sampingnya.
"Udah, pilih lagi mau yang mana?" ucap fathar mengalihkan pembicaraan.
Setelah selesai, mereka pun pergi ke kasir untuk membayar belanjaan mereka, dan ternyata Aleya masih disana mengantri, tepat di depan mereka. Aleya yang merasa ada orang di belakangnya nya pun refleks melihat ke belakang, dan itu membuatnya lagi-lagi kesal.
"Katanya Gus, tapi kok berduaan sama cewek," celoteh Aleya pelan, tapi bisa di dengar oleh Fathar, maupun gadis di sampingnya.
Alis Fathar tertarik ke atas sebelah, bingung dengan ucapan Aleya. Apa yang di maksud Aleya adalah dirinya?
"Katanya yang bukan mahrom gak boleh deketan, apalagi sampingan biar gk ada fitnah. Tapi dia sendiri ngelakuinnya." celetuk Aleya lagi.
Kali ini Fathar membuang nafas kasar, ternyata benar ia yang di maksud oleh Aleya, apa salah dirinya dengan gadis ini?
***
Aleya sedang asik berbincang dengan Zainab dan Fatimah, sedang Harits sedang berbincang juga dengan kiai hasan, Hanafi? Ia sedang pergi keluar kota untuk mengisi pengajian, menggantikan sang Abi.
"Assalamualaikum," terdengar suara seorang lelaki mengucap salam sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua yang ada di ruangan.
Fathar tersenyum menatap Abinya dan calon Abi mertuanya, "ayo masuk." ajak lelaki itu pada seseorang yang masih berdiri di depan ruangan. Aleya menautkan alisnya penasaran. Seorang gadis pun masuk ke dalam ruangan dengan wajah menunduk malu.
"Assalamualaikum," ucapnya.
"Wa'alaikumsalam," ucap mereka di ruangan itu, kecuali Aleya. Moodnya ambruk melihat gadis itu, yang ternyata adalah gadis tadi.
"Ngapain sih tu cewek kesini? Ngerusak mood orang aja!" batin Aleya.
"Anak Abi sudah sampai, masuk nak, gak usah malu-malu." ucap Kyai Hasan.
"Anak?" Batin Aleya.
"Sini nak," ajak Fatimah yang duduk di sofa bersama 2 perempuan lainnya, Aleya dan Zainab.
Gadis itu menurut dan mendekat ke arah Fatimah, sedang Fathar memilih bergabung bersama para bapak -bapak, gadis itu duduk di samping Fatimah sambil tersenyum malu kearah Aleya dan Zainab.
"Kenalin, ini anak ketiga Ummi, namanya Maira." ucap Fatimah memperkenalkan gadis tersebut.
Lah! Anak calon umi mertuanya ternyata, dan kalian tau apa sekarang? Aleya merasa malu karena sudah berburuk sangka.
Maira menatap Aleya, "Kakak yang tadi kan? Yang di bilang kak Athar kerasukan?" Ucap Maira polos.
Kedua mata Aleya melotot sempurna, apa dia bilang? Kerasukan? Dasar Gus menyebalkan. Pikir Aleya.
"Kerasukan?" Tanya Fatimah.
"Iya, tadi kakak ini bicara gak jelas waktu di minimarket," ucap Maira. lagi dan lagi Aleya merasa malu sendiri jadinya.
"Aduh.. maaf ya, Aleya itu suka emosi kalau lagi baru selesai Haid, apalagi kalo lagi Haid, harus ekstra sabar deh pokoknya." ucap Zainab terkekeh.
Oh ayolah! Aleya merasa makin malu sekarang. Ia pun bersembunyi di balik pundak umminya untuk menutupi rasa malu. sedang dua ibu di depannya terkekeh gemas dengan Aleya, Maira malah memperhatikan Aleya dengan pandangan yang sulit di artikan.
***
“saya, Alfathar Ghazi El-Zein ingin melamar putri Ummi dan Abi yang Bernama Aleya Zahra binti Harits Abdullah. Semoga Allah, serta Ummi dan Abi merestui niat Fathar.”
“kami sudah pasti menerima kamu.” Ucap Zainab.
“bagaimana nak?” tanya Zainab pada Aleya.
°°°°°
-Publish, 13 Januari 2023 -Revisi, 22 Maret 2024 -Revisi 2, 1 Juli 2025