Sudah terbit di KBM App
Dan ceritanya 40% berbeda dengan yang di Wattpad. Penulisan juga lebih rapi dan minim typo
-----
"Kalo memang kamu masih ada rasa sama lelaki itu, kenapa tidak menolak perjodohan ini dengan tegas? Bukan hanya lelaki itu yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sayang, kamu pulang ya sama abang, istirahat di rumah. Kamu juga harus sekolah kan besok?" ucap Zainab sedang membujuk anak gadisnya sedari tadi.
"Ara mau disini umi, Ara mau jagain Abi." jawab Aleya kekeh.
"Besok kamu bisa kesini lagi," ucap Zainab.
"Terus, Ara biarin Ummi jaga Abi sendiri gitu?" Ucap Aleya tak suka.
"Ini juga buat kesehatan kamu,"
"Buat apa Ummi peduli sama kesehatan Ara, kalo Ummi sendiri gak peduli sama kesehatan Ummi?" ucap Aleya.
"Zahra." Tegur Hanafi.
"Yang Ara bilang bener kan?" Ucap Aleya menatap sinis abangnya.
Fathar yang melihat perdebatan kecil antar tiga orang itu mendengus pelan, ternyata gadis bernama Aleya Zahra itu juga keras kepala, dan Suka membantah, pikir Fathar. "Mari saya antar kalian berdua pulang," ucap Fathar menawarkan.
Kini, didalam ruangan mereka hanya tinggal berlima. Zainab, Harits, Aleya, Hanafi dan Fathar. Sedang Fatimah dan kiai Hasan sudah pulang ke Bogor karna ada urusan. Fathar masih berada disini karena tadi kiai Hasan berpesan sebelum pulang pada Fathar untuk ikut berjaga di Rumah Sakit, jadilah ia disini sebagai orang asing dari keluarga kecil itu.
"Gus itu kenapa masih disini?" Ucap Aleya tak suka sembari jarinya menunjuk ke arah Fathar.
Fathar menunjuk dirinya sendiri, "Saya punya Amanah." jawab Fathar jujur.
"Sudah... Pulang sana, hush.. hush.." usir Aleya sambil menyibak tangannya bermaksud mengusir. Namun Fathar sama sekali tak menggubris ucapannya. Aleya berdecak malas, ia memilih untuk mengabaikan keberadaan Fathar saja.
"pokoknya, aku gak mau pulang!" ucap Aleya membahas hal tadi.
"Bagaimana kalau kalian pulang dulu ambil pakaian ganti, nanti kesini lagi untuk menginap," ucap Fathar pada Hanafi, ia kasihan melihat Zainab dan Hanafi yang sedari tadi pusing untuk membujuk.
"Tapi nak--"
Fathar memotong ucapan Zainab, "Ummi, Ummi tau sendiri anak ummi seperti apa, jadi biarkan dia tidur disini," ucap Fathar sopan.
"Baiklah." ucap Zainab pada akhirnya.
"Cih! Sebenarnya anak ummi itu siapa? Aku atau Gus itu!?" Sebal Aleya, kesal juga mendengar Fathar.
Sejak ia tau Fathar adalah seorang Gus, ia terus-menerus memanggil Fathar dengan kata Gus. Dan ia baru sadar saat di sekolah tadi, bahwa Fathar adalah idola para sahabatnya, pantas saja ia seperti tidak asing dengan wajah itu saat acara perjodohan kemarin.