"𝖆𝖜𝖆𝖑 𝖇𝖆𝖍𝖆𝖌𝖎𝖆 𝖉𝖊𝖓𝖌𝖆𝖓 𝖆𝖐𝖍𝖎𝖗 𝖞𝖆𝖓𝖌 𝖙𝖗𝖆𝖌𝖎𝖘"
SLOW UPDATE
Judul awal : Madness
Judul baru : The feeling of love that kills
*****
Tentang empat mata yang tanpa sengaja bersitatap di sebuah rumah sakit jiwa dimana didalamnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sinar matahari pagi mengusik seorang perempuan yang sedang tertidur pulas di sebuah ranjang king size yang lembut dan nyaman.
Pelan tapi pasti kedua netra coklat yang di miliki Areliane itu perlahan lahan mulai terbuka. Mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk pada retinanya. Ya, perempuan itu adalah areliane.
Ia meregangkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku. Tunggu, tempat ini begitu asing di penglihatan areliane. Sebuah kamar yang sangat besar dan luas didominasi dengan warna abu abu gelap.
Otaknya berputar kembali pada kejadian tadi malam, dimana ia tiba-tiba di kejar oleh seorang pria botak lalu ia bersembunyi di sebuah gang kecil, sempit dan gelap.
Ketika merasa pria botak itu tak lagi mengejarnya ia berencana keluar dari persembunyian, tapi sebuah lengan kekar melingkar indah di pinggangnya lalu membisikkan sesuatu yang tak dipahami Areliane.
Ia merasa sebuah jarum menusuk lehernya dan tanpa disadari Areliane mulai kehilangan kesadarannya sedikit demi sedikit. Ia tak tau lagi apa yang terjadi setelahnya, tiba tiba terbangun di ruangan asing nan mewah ini.
Aroma maskulin khas seorang pria menusuk ke indra penciuman Areliane. Ia menundukkan pandangan memperhatikan pakaiannya, pakai yang ia pakai tadi malam masih melakat di tubuhnya.
'huft, syukurlah'. Batinnya
Banyak pertanyaan pertanyaan di otak kecilnya salah satunya, kenapa ia berada di tempat ini ?.
Mendengar suara pintu yang bergeser Areliane memusatkan pandangannya pada pintu kayu berwarna coklat, di sana terdapat seorang pria berjalan dengan tegasnya ke arah Areliane.
Areliane beringsut mundur hingga akhirnya tubuhnya mentok pada kepala ranjang. Wajah pria itu terlihat tidak asing, Areliane terus berpikir siapa pria itu membuat ia tidak sadar jika pria itu telah berada di sisi ranjang.
"Honey, apa yang kamu pikirkan ? Kenapa kamu melamun ?" Areliane tersentak kaget kala suara lembut nan indah menyapa gendang telinganya.
"T-tidak ada. B-bisakah aku b-bertanya ?" Dengan terbata-bata Areliane memberanikan diri untuk bersuara.
"Ya, tentu saja. Siapa yang melarangmu ? Tidak ada honey."