"Apa? Lily?"
Naura mengedarkan pandangan, ia melihat sekitar. Jujur ia juga penasaran dengan sosok Lily itu, bagaimana sosok yang bisa membuat Samudra mengingatnya.
Samudra menggerakan kursi rodanya memutar lalu segera bergerak ke arah Lily "eh? Samudra!" Naura bergerak memanggil Samudra, namun lelaki itu terus menggerakkan kursi rodanya.
Gadis itu tampak berdiri membelakangi kerumunan itu dan bahkan posisinya nyaris tak terlihat, namun Samudra mengenalinya.
"Lily?" Samudra mendekat, ia meraih pundak Lily membuat gadis itu menoleh. Matanya melebar saat mendapati Samudra, lelaki yang beberapa waktu lalu ia rawat.
"Samudra?" Lily terkejut sekaligus panik saat Samudra menyebut namanya cukup keras, ia dengan sigap menarik Samudra dan kursi rodanya ke tempat yang lebih aman.
"Kamu... Kamu tepatin janji kamu" Samudra tersenyum, matanya menatap mata Lily. Ia hafal mata itu, entah bagaimana.
Kening Lily berkerut mendengar nya "janji? Aku janji apa sama kamu?."
Samudra tersenyum, ia merogoh sakunya. Di sana ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang di berikan Lily padanya beberapa hari yang lalu.
"Aku baca ini" Jelasnya "aku selalu lupa sama semua hal, waktu, tempat, nama, bahkan lupa nama sendiri. Tapi... Buku ini bantu aku banget"
Lily tersenyum simpul "gapapa, aku juga bingung waktu itu mau ngapain" Sejenak keduanya terkekeh "jadi supaya kamu inget, aku kasi kamu ini aja."
"Oh ya? Kamu ngapain ke sini?" Wajah Lily langsung berubah, senyum nya memudar saat Samudra menanyakan itu. "Kamu tinggal deket sini ya?" Samudra menebak asal, namun Lily menhangguk seadanya. Ia berusaha tersenyum.
"Kalo emang kamu tinggal deket sini, boleh aku mampir setelah aku sembuh?"
Lagi-lagi Lily mengangguk, ia hanya tersenyum. "Kamu tinggal dim-
"Samudra!" Belum dempat Samudra bertanya, Naura sudah menyusul Samudra. Gadis itu berkacak pinggang, alisnya bertaut tanda kesal.
Ekspresi Samudra berubah ketus, ia membuang nafas kasar. Jengah dengan tingkah laku Naura.
"Ini waktu makan siang, kamu harus balik ke kamar" tutur Naura, ia tidak boleh emosi di depan Samudra, sejujurnya ia sangat emosi melihat gadis di dekat Samudra.
"Kalo sama Lily boleh?" Tanya Samudra, ia menatap Naura, berharap gadis itu setuju, ia makan siang bersama, beres. Tanpa ada keributan yang di timbulkan Naura, namun sayang sekali, Naura menggeleng tegas.
"Gak! Lagian ngapain kamu malah jadi ngikutin Lily ini? Aku kira dia secantik apa, taunya mukanya biasa aja." Naura menyilangkan tangannya di depan dada, menatap sinis Lily.
"Dimana-mana cantikan aku kali" tambah Naura dan masih bisa di dengar Samudra.
Mendengar itu Samudra tampak tak suka "Naura..." Samudra menarik nafasnya, ia menatap Naura berusaha tidak terdengar marah.
Mendengar suara lembut Samudra memanggil namanya, Naura langsung menunduk berusaha mendengar ucapan selanjutnya dari Samudra.
"Kamu di gigit nyamuk ya semalem?"
Pipi Naura bersemu "engga kok, kamu pasti khawatir ya. Emang kenapa kamu nanya gitu?" Tanya Naura, matanya melirik Lily sinis, namun lain halnya dengn Lily. Ia bahkan tidak fokus dengan pembicaraannya dengan Samudra dari tadi, di otaknya hanya Bintang.
"Oh kirain kamu di gigit nyamuk, gatel banget soalnya" Tukas Samudra cuek.
***
"Anak ibu mengalami patah tulang di bagian punggung dan tangan, cukup parah dan perlu di rawat inap di sini"
Helaan nafas kecewa langsung keluar dari bibir bu Astri, ia menatap dokter sekali lagi "apa ga bisa di rawat di rumah?"
"Saya takutnya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, oleh sebabnya demi keselamatan Bintang, alangkah baiknya di rawat inap" Bu Astri menganggukk paham "kalau begitu, saya permisi. Selamat siang" Dokter melenggang pergi.
Bu Astri membalikkan badannya, ia melihat ke anak-anak panti yang kebetulan ikut membawa Bintang tadi "kenapa Bintang bisa jatuh dari loteng?"
Tejo mengangkat tangan, seakan ini adalah kuis berhadiah. Ia menjawab antusias "ambil layangan bu!" Jawab Tejo asal, namun Tono, teman di sebelahnya segera menyikut tangan Tono.
"Engga bu, Kak Bintang pergi nengokin kak Lily"
"Lily... Dasar anak pembawa sial" gigi bu Astri bergemeretak, tangannya mengepal.
"Tono"
"Iya bu?"
"Pulang nanti, suruh Lily ke ruangan ibu"
"Baik Bu"
***
"Waaah bagus nya, ini kamu yang lukis?"
Samudra tampak berfikir, lalu mengangguk "iya, itu aku yang lukis" ucapnya.
Lily tersenyum lebar menatap lukisan di camvas kecil itu, ia menatap canvas itu dan Samudra bergantian.
"Aku... Aku kan suka nulis novel, besok nama kamu aku bakalan abadikan di karya juga" ucap Lily antusias.
"Oh ya, kenapa?"
"Karena kamu udah lukis aku di sini, otomatis istilahnya aku abadi di karya kamu, jadi timbal balik aja."
Samudra kembali tersenyum, astaga. Hari ini ia banyak sekali tersenyum "kamu nepatin janji kamu buat kembali aja itu udah buat aku seneng"
Suasana kamar rawat Samudra hening, Naura tidak di perbolehkan masuk oleh Samudra meski pintu kamar rawatnya terbuka lebar. Jujur saja, ia benci gadis itu.
"Pokonya aku bakalan nulis novel, dan buat semua orang kenal aku sebagai Lily sang penulis" Tangan Lily mengepal, ia menaruh tangannya di depan dada seakan menunjukan jiwa yang yakin akan keputusannya.
"Aku juga, Samudra sang pelukis."
Keduanya kembali tertawa, Lily sedikit merapikan cardigan rajut di badannya, ia melihat sekitar kamar Samudra "kenapa kamu masih pake kursi roda, kata dokter kemarin kamu cuma punya masalah ingatan"
"Aku juga gatau, emang aku udah berapa lama di sini? Eh... Kamu udah lama ya di sini?" Samudra menatap Lily bingung, seakan dari tadi pembicaraan mereka hanya angin lalu, Lily tersenyum.
Ternyata selama berbincang, Samudra sudah menitipkan buku catatan kecil itu di Lily. Dan gadis itu tentu menulis semuanya dengan teratur dan rapi, apa saja yang mereka bicarakan dan jam berapa mereka membicarakan itu.
Lily menyodorkan buku itu kepada Samudra "jangan lupa di baca, buku ini berguna banget buat kamu Samudra."
"Andai gaada buku ini, aku ga bakalan inget kamu juga kan?" Samudra tertawa.
"Jangan lupa lagi ya?"
"Iya, Lily"
KAMU SEDANG MEMBACA
Canvas Tanpa Warna [END]
Teen FictionSederhana, dia kehilangan warnanya dan aku kehilangan kisahku. (piinterest cover by: _blue_)
![Canvas Tanpa Warna [END]](https://img.wattpad.com/cover/359214472-64-k845561.jpg)