Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
11.00 Pm
Tok! Tok! Tok!
"Lily! Aku bawain kamu makan malam"
Kalian ingat Tono? Dia adalah salah satu anak panti asuhan yang tadi si perintahkan Bu Astri untuk memanggil Lily ke kamarnya untuk di hukum. Tono masih berumur 12 tahun, namun berkat semua kejadian di mana Lily di benci dan di aniaya Bu Astri, pikirannya dewasa lebih cepat.
Oh dan satu lagi, bukannya tidak sopan. Namun permintaan Lily kepada semua anak yang berusia belasan di sekitar nya harus memanggilnya dengan nama, tanpa embel-embel 'kak'.
Sejujurnya Tono sangat tidak tega, mengingat Lily adalah gadis yang hanya menghabiskan waktunya dengan menulis dan membaca. Ia lugu dan baik, jika di ibaratkan Lily itu benar benar melambangkan ketenangan, namun entahlah mungkin Bu Astri menganggapnya racun karena suatu alasan,bisa sa- eh... Baiklah terlalu banyak narasi, kembali ke Tono.
Tok! Tok! Tok!
Tono kembali mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu lebih keras, namun di sisi lain ia juga berusaha memelankan ketukannya. Bu Astri melarang kerasa siapapun yang berniat memberi Lily makan, itu sebabnya ia diam-diam.
"Lily! Hey!" Tono mulai cemas, ia menaruh sepiring makanan itu di lantai, mulai menempelkan kedua telapak tangannya di susul telinganya yang ia tempel di pintu.
Namun, tidak ada suara. Itu bukan kabar baik, Tono segera bergegas memanggil beberapa temannya, mereka berusaha tetap diam. Untunglah di sana ada Reivan. Anak berumur 14 tahun yang di titip oleh orang tuanya di sini sejak empat tahun lalu.
Reivan membenarkan kacamatanya, memperhatikan lubang kunci. Ia berbalik, menatap sekitar sejenak hingga ia melihat ke arah Clara-Anak ibu Astri, adik bintang-ada peniti yang ia kaitkan di bonekanya, Reivan berjongkok.
"Clara, aku pinjem peniti nya ya, Kak Lily katanya mau pinjem." Reivan tersenyum sambil mengadahkan tangannya.
"Lah... katanya Lily ke kunci, kok bisa minta peniti. Ah gaasik" Tejo menyambar asal, ia terlihat kesal, bagaimana tidak. Berlari ke loteng menaiki anak tangga cukup melelahkan.
Tejo berfikir bahwa sebenarnya tidak terjadi apapun, untuk apa panik. Lihat, Lily saja masih bisa meminjam peniti boneka Clara.
"Diem atau aku sumpal mulut kamu pake kaus kakinya bu Astri" Tono mendelik kesal, Tejo selalu seperti itu.
Reivan tersenyum saat Clara memberikan Peniti itu kepadanya, ia berbalik lalu dengan keterampilannya ia bisa membuka pintu itu dengan peniti.
Tono, Tejo, Reivan dan Clara kompak menahan nafas, jantung mereka berdegup kencang, berharap Lily baik-baik saja. Pintu tersebut berdecit pelan, terbuka dan menampilkan sosok Lily yang sudah lemah terbaring di dekat meja belajarnya, sedetik kemudian semua anak panti yang di sana pada saat itu lari menghampiri Lily.