Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Maksudnya?!"
"Iya! Lily di rumah sakit selama ini, dia gamau pulang! Aku... Aku kasi tau ini ke ibu karena aku udah benci sama dia!" Bintang meringis pelan kala ia merasakan sakit di punggungnya kembali mendera, namun tatapannya tak berubah.
Apa maksudnya ini? Kenapa tiba-tiba Bintang membocorkan hal ini? Tono dan Reivan saling tatap. Tejo dengan snack nya saja kini menganga melihat kejadian itu.
"Ini rencana kamu Rei?" Tejo bertanya, kali ini dia waras. Reivan menggeleng, ia segera menarik tangan Tejo dan Tono ke dalam kamar, mengunci lalu menatap mereka.
"Kita buat rencana lain" ucap Reivan, nafasnya beradu. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan Lily, gadis itu cukup dekat dengan sesorang yang juga dekat dengannya.
Tejo mengecap jarinya yang di lumuri bumbu micin, merasa kurang bersih ia mengelap sisanya di baju, beranjak mendengarkan Reivan.
Sementara itu, bu Astri sudah menarik Bintang ke ruangan yang lebih aman, ia menatap anaknya dengan wajah heran. "Kenapa kamu ga kasi tau dari awal? Kenapa sekarang kamu kasi taunya, Bintang?"
"Aku ga mau jelasin itu, sekarang aku cuma mau ibu bawa anak itu balik. Terserah ibu mau apain dia, aku ga peduli" Bintang mendengus lalu segera keluar dari kamar ibunya menuju kamarnya, menutup pintu dengan kasar.
***
"Kamu belum selesai nulis novel itu?" Tanya Samudra, ia masih duduk di dekat Lily. Penampilannya asing, baju kaos putih dengan celana pendek, biasanya dia menggunakan baju pasien.
Lily menggeleng, ia terus menulis di bukunya "kenapa?" Tanya Lily, toh ia tidak menentukan target novelnya untuk selesai.
Samudera menggeleng "aku cuma penasaran sama ceritanya" jawab Samudra seadanya "kamu selesaiin ya novel itu, nanti kita ketik terus terbitin, dan aku bakalan jadi pembaca pertama kamu"
"Kalo seandainya aku meninggal sebelum novel ini terbit?" Goresan pena di buku Lily terhenti kala mulutnya melontarkan pertanyaan itu.
"Kamu tau? Seorang pelukis itu butuh warna buat lukisannya. Ibaratnya, kamu itu warna du di sini" ucap Samudra "kalo kamu pergi, aku mungkin bakalan kehilangan warna ku di setiap lukisan yang aku lukis, mungkin warnanya ada, tapi... Kalo alasan kenapa lukisan itu bisa berwarna indah udah pergi, dimana letak seninya?"
Lily menunduk, ia menatap rerumputan di bawah kursinya, Samudra meraih tangan Lily dengan lembut
"Bertahan ya, masih ada novel yang perlu kamu tuntaskan, nona penulis"
"Dan masih banyak lukisan yang masih menbutuhkan warnanya, tuan pelukis"
Samudra dan Lily tersenyum, bibir pucat Lily dan wajah polosnya justru menjadi warna di hidup Samudra. Ia suka gadis yang mirip dengan ibunya.