Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"SUDAH BERAPA KALI IBU BILANG, JANGAN KELUAR PANTI! BERBAHAYA!" Lily meremas ujung jaket hitamnya, sepulangnya dari rumah sakit tadi ia langsung di kurung di kamarnya. Saat ini, ibu panti sedang ada di depannya, mengomel dan membentak Lily.
Dada Bu astri naik turun saking emosinya, ia berkacak pinggang.
Iya, Lily adalah anak yatim piatu. Ia sudah ada di panti asuhan ini sejak berumur lima tahun, karena kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, bibi nya memutuskan untuk menitipkannya ke panti asuhan.
"Kalo nanti kamu kenapa-kenapa di luar sana, siapa yang repot? Ibu yang repot!. Kamu kira biayain kamu makan itu aja ga mahal? Kalo nambah lagi nan-
"Ini hari sabtu bu, semua anak panti ibu biarin keluar panti buat main di sekitar, aku udah enam belas tahun! Harusnya aku yang paling bebas di antara yang lain!"
PLAK!
Tamparan itu seketika memberikan efek nyeri dan panas di pipi Lily. "Jaga omongan kamu ya! Dasar gatau diri, memangnya kamu keluar itu buat apa? Apa makanan di panti ga cukup buat kamu? Hah?! Ibu gamau tau, kamu harus di kurung di kamar selama seminggu! Titik!"
Pintu kamar Lily di tutup keras menimbulkan bunyi bedebam yang memekakkan telinganya, gadis itu reflek menutup telinganya
"Bu! Biarin aku keluar Bu! Ibu!" Lily menggedor-gedor pintu kayu itu, namun suara pintu yang di kunci dari luar membuat tangannya terasa lemas. Ia menunduk, perlahan mundur dan duduk di kasur yang sudah tua itu.
Lily merogoh sakunya, mencari sesuatu di sana namun, tidak ada.
Oh iya, udah aku kasi ke samudra.
Sejenak ia berpikir dan akhirnya menghela nafasnya berat, ia mencari buku catatan kecil yang baru ia beli beberapa waktu lalu, itu pun ia kumpulkan dari membantu seorang kakek di toko buku antiknya.
Dia sudah sering keluar panti diam-diam, namun baru kali ini ketahuan. Biasanya ia tidak akan ketahuan.
Mata Lily beralih ke jendela kecil di atas meja belajarnya, menatap ke langit "enak ga di langit, ma? Pa? Pasti enak ya. Aku di sini sendirian, ibu Astri ga pernah kasi aku keluar panti. Om sama Tante juga ga pernah jenguk aku, apa aku sebeban itu ya?"
Lily menghela nafasnya berat "aku kangen kalian" Lily membaringkan tubuhnya di kasur, bunyi berderit dari kasur yang sudah tua itu terdengar saat punggungnya menyentuh sempurna permukaan kasur.
Matanya menerawang ke langit-langit, ia tidur di loteng. Kamarnya lebih mirip gudang daripada kamar, namun setidaknya di sini tidak bocor.
Tuk!
Satu batu mengetuk kaca jendela Lily namun ia hiraukan. Mungkin burung.
Tuk!
Lily akhirnya bangun dari baringnya, menimbulkan suara berdecit lagi dari kasurnya, ia beranjak ke jendela lalu membuka jendelanya, melihat ke bawah.