Kisahnya usai

246 19 9
                                        

"Kak... Tenang, ayah sama dokter lain juga lagi berusaha"

Reivan mengusap punggung sang kakak, berusaha membuatnya tenang. Daritadi Samudra sudah bolak balik di depan ruang UGD, seskali duduk menggigit kukunya lalu beridiri lagi.

"Samudra, tenang." Kini Bintang ikut mengusap punggung Samudra, namun lelaki itu menepisnya segera "gimana aku bisa tenang kalo Lily sedang ga baik-baik aja" Samudra mengepalkan tangannya.

Reivan meremas jemarinya, munafik sekali jika dia mengatakan kalau dia juga tenang, baru tadi siang mereka merayakan ulang tahun dan Lily belum kunjung siuman dari tadi siang.

Selama empat belas tahun, ia sudah lupa rasanya memiliki kakak perempuan. Ia sudah lupa wajah kakak perempuannya, hingga ayahnya mengirimnya ke panti asuhan itu setelah mengetahui kabar kalau bu Astri saudara dari ayahnya, alias bibinya itu di curigai dalam jual beli organ.

Kenapa Reivan yang di antar ke panti asuhan? Karena pertama, dia pintar. Kedua, tidak mungkin Samudra yang di titip ke panti asuhan, tidak masuk akal menitip lelaki berusia 18 tahun.

Lily menjadi sosok yang paling di sayang oleh Reivan. Senyum ibunya yang selalu Reivan lihat di album foto itu sama persis dengan Lily.

Lamunan Reivan buyar kala pintu UGD itu terbuka, ayahnya yang pertama kali membuka pintu, membuat Samudra langsung berdiri, menghampiri ayahnya.

"Pa... Gimana Lily" tanya Samudra, nafasnya memburu "dia baik-baik aja kan?" Tuan Baskara melelaskan kacamatanya, menghela nafas berat.

"Ayah ga bisa bilang dia baik-baik aja, dia kritis. Ini salah ayah sudah... Sudah membiarkan dia terlalu lama sama Astri, ini salah ayah" tuan Baskara menyeka ujung matanya "ayah ga seharusnya ninggalin dia, ayah seharunya udah lama cari tau dia, ayah... Ayah seharusnya sudah lama jemput dia di sana, kasi dia perawatan terbaik. Kalo perlu sampe luar negeri" tuan Baskara menangis, ia hampir terjatuh, Reivan segera menopan tubuh ayahnya, menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu.

"Ayah... Sebenarnya kak Lily sakit apa?"

Tangis tuan Baskara berhenti sejenak "Lily ga pernah kasi tau kalian?" Samudra dan Reivan kompak menggeleng "Leukemia Limfositik Akut stadium akhir, dia sudah lama sakit itu, ayah gatau mungkin tulang belakangnya sakit... Dan—

"Sakit tulang? Lily sudah sering ngeluh sakit tulang sejak empt tahun lalu, aku pikir itu karena kecapean" Bintang memotong cepat "dia selalu jawab kalo itu karena kebanyakan baca buku"

Mereka semua menunduk "ayah... Ayah ga tau dia bertahan sampe kapan" lirih sekali suara tuan Baskara.

"Dokter bukan tuhan! Lily pasti sembuh! Dia udah janji sama aku! Dia udah janji!" Samudra memukul dinding rumah sakit, ia merosot lalu berjongkok turun.

Reivan menatap ayahnya "aku anter ke ruangan ayah ya, istirahat" tuan Baskara berdiri, ia mengangguk. Biarkan Samudra, saat ini memang emosinya tidak terkontrol.

Bintang datang, menepuk pundak Samudra "semua orang terpuruk di sini, setidaknya kamu yang paling beruntung" ucap Bintang, pintu UGD itu masih tertutup rapat.

"Beruntung? Dalam hal apa? Dimana aku bisa beruntung kalo orang yang aku sayang sekarang lagi di dalem sana yang aku bahkan gatau dia hidup atau engga" Samudra mengacak rambutnya frustasi.

"Kamu tau? Dalam sebuah cerita ada tokoh utama dan figuran, di kisah yang Lily buat, kamu tokoh utamanya dan aku figurannya" Bintang menarik nafasnya lalu kembali melanjutkan ucapannya "di dalam cerita ini, ungkapan masa lalu pemenangnya ga berlaku karena... Aku masa lalunya, dan kamu pemenangnya."

Samudra masih sesenggukan, ia mengusap air matanya "kalo kamu emang sayang dan cinta sama dia, kenapa kamu ga rebut dia dari aku? Aku bukan sahabatmu lagi kan? Kita udah ga seakrab itu lagi".

Canvas Tanpa Warna [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang