Mendengar jeritan dari Reivan, beberapa petugas penyelidik segera turun. Reivan dan Samudra datang di ikuti orang orang penyelidik itu.
Ayah mereka tidak ikut, ada urusan oenting di rumah sakit katanya.
Reivan mundur, ie memeluk sang kakak dengan erat wajahnya tenggelam di dada Samudra. Jarang sekali Reivan menangis, ia hanya menangis jika memang hal itu sudah menyakitkan.
.
.
.
"Loh... Nana? Belum berangkat?"
Nana menggeleng "aku mau kasih ini sebelum pergi" Nana menyerahkan gelang berwarna-warni itu ke Reivan "sebagai kenang-kenangan, aku juga kasi yang lainnya kok"
Reivan mengangguk sekilas sebelum akhirnya pergi "aku pergi ya, bu Astri panggil aku" pamitnya dan segera bergegas.
.
.
.
Kilas balik masa lalu saat Nana memberikannya gelang itu masih terekam jelas di otaknya, ia menatap pergelangan tangannya yang di hiasi gelang itu.
"Rei... Kita harus cepet kalo gamau Tejo jadi korban selanjutnya" Reivan melepas pelukan kakaknya. Ia segera berbalik, menghapus air matanya.
"Ayo... Ayo kita tangkep iblis-iblis itu"
***
Mata Tejo berkedip-kedip menyesuaikan cahaya yang masuk, seketika jantungnya berpacu cepat kala dua orang yang tadinya dia kira pengadopsi itu, segera ia memberontak namun gagal.
"LEPASIN AKU!"
Dua orang itu tertawa mendengar jeritan Tejo, salah satunya segera mengambil jarum suntik. "Tidur yang nyenyak" ucap salah seorang dari mereka sebelum akhirnya cairan itu di suntikan ke dalam tubuh Tejo.
Beberapa menit setelahnya, tubuh itu lemas dan Tejo langsung kehilangan kesadarannya.
***
Kawasan kumuh itu cukup luas dengan bangunan kosong yang tampak terawat, beberapa penyelidik diam di tempat di temuannya tulang tadi, sisanya pergi masuk menyelidiki lebih lanjut.
Tono melihat sekitar, ada beberapa kotak serupa tempat ia bersembunyi tadi. Dan satu hal yang dia tau, kotak itu busuk.
Samudra melihat sekitar, ia juga ikut menyelidiki. Namun nihil, padahal tadi mereka lihat sendiri para penjual organ itu masuk ke bangunan ini namun kemana mereka sekarang?
"Astaga... Dimana Tejo. Aku gamau dia kenapa-napa" Tono meremas jemarinya, ia cemas takut sahabat kecil nya akan menyusul Nana. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi, apa yang harus Tono lakukan.
"Ketemu! Semuanya angkat tangan!" Salah seorang polisi yang ikut dalam penyelidikan itu berteriak, tampak menodongkan pisau ke arah mereka. Samudra dan Reivan segera berlari mengikuti polisi itu, suara tembakan untuk melumpuhkan terdengar.
Baru saja sampai di ruangan tempat anak-anak di bedah itu, tercium bau bangkai yang sangat pekat, Tono reflek menutup hidung, matanya melihat ke salah satu kotak di sana, seketika ia mundur melihat ada tangan manusia beruntaj di kotak itu. Kotak yang sama tempat dia bersembunyi tadi, ia jatuh terduduk melihat semua itu.
"Ton! Tono! Lo gapapa?" Reivan menahan punggung Tono.
Samudra masih berusaha melihat pelaku yang sedang di ringkus, keduanya menunduk tampak seperti suami istri. Namun saat dua pelaku itu melewati Samudra, salah seorang dari mereka mengangkat wajahnya, menatap Samudra.
Kini giliran Samudra yang mundur beberapa langkah, ia menutup mulutnya saking terkejutnya melihat pelaku yang bersekongkol dengan Bu Astri
"N...Naura?"
"Beri tahu siapa bos kalian!" Naura tersenyum licik "kenapa masih bertanya? Jelas jelas Bu Astri jawabannya" Naura tertawa, ia seperti nya sudah gila.
"Naura... Kenapa kamu jadi seperti ini?"
Naura sedikit memberontak dari Borgol yang melingkar di pergelangan tangannya, ia menatap Samudra "saya gila harta, kamu benar. Saya cuma mau harta ayah kamu, kebetulan Bu Astri sangat membenci Ayah kamu yang memang saudaranya, tapi saya gagal memanfaatkan penyakit pelupa kamu yang ternyata cuma Sandiwara"
Reivan terkejut mendengar nya, dia dari tadi sibuk melepaskan Tejo dari tempat tidur yang sudah di desain dilengkapi dengan rantai pengikat, sesaat setelah Tejo bebas ia segera mendekati Naura, menatap gadis itu dengan tajam.
"Apa maksudnya membenci ayah?"
Naura tertawa lagi "bukankah Raja itu dia" Naura menunjuk tepat ke arah Samudra "Samudra Maharaja" ucapnya dengan licik.
Reivan masih tidak habis pikir, ia masih bingung dengan semua ini. "Bu Astri menceritakan semuanya ke saya, waktu itu saya mengikuti Lily pulang dan bertemu dengan Bu Astri" Naura menjelaskan, meski sedikit suara ngelantur namun penjelasannya masih bisa di mengerti.
"Raja itu Samudra saat masih kecil, saya beritahu Bu Astri kalau saya memang sedang mengincar harta tuan Baskara dari anaknya. Dan saya menceritakan semuanya, membuat Bu Astri sadar bahwa Raja ada di dekatnya, anak panti kesayangannya, yang menjadi sahabat Bintang waktu kecil, tapi memang dasarnya kamu yang pelupa Samudra" Naura tertawa lagi, dia memang sudah gila.
"Saya mulai bekerja sama dengan Bu Astri setelah tangan kanannya yang pertama mengundurkan diri karena di tangkap dan memilih menutup mulut untuk tidak membocorkan dan membawa Bu Astri dalam kasus, namun saya tidak setuju. Saya hanya mau uangnya, jika saya di tangkap maka dia pun harus di tangkap"
Reivan menatap Samudra, dia tau Samudra bukan anak kandung ayahnya. Ayah pernah bercerita kalau Samudra memang bukan anak kandungnya, namun karena ayah tidak menemukan sosok putrinya dia akhirnya mengadopsi anak panti asuhan di sana yang kebetulan waktu itu tidak sengaja dia tabrak.
Namun sungguh dia tidak tau bahwa Raja yang selalu di ceritakan Kak BINTANG sebagai sahabat nya adalah Samudra, nama nya ia ganti setelah bersama ayah menjadi Samudra Aster Zenith, baiklah semua mulai masuk akal.
Naura di seret ke dalam mobil polisi, semuanya seakan seperti berjalan lambat. Reivan memegang tangan Samudra yang masih syok, dan di belakangnya Tono dan Tejo yang seling beriringan melihat sekitar tanpa henti.
Tono masih syok karena kotak tempat dia bersembunyi tadi ternyata memang tempat bangkai manusia.
Reivan memungut gelang milik Nana, menaruhnya di kantong. Setidaknya dia bisa tenang di alam sana meski tanpa orang tua.
"Nana kasih kamu gelang sebelum pergi?"
"Iya,kamu ga di kasi gelang sama Nana?"
Tono dan Tejo menggeleng "dia jarang ngomong Rei, cuma kamu yang di kasi gelang itu sama Nana" jelas Tono yang di tanggapi anggukan oleh Tejo, dia setuju.
Reivan diam sebentar lalu menghela nafasnya. Ia tidak tau harus bicara apa.
"Tapi pertanyaannya sekarang, siapa kakak perempuan ku yang dulu di kabarkan meninggal?"Reivan bergumam pelan, ia menunduk berusaha menyambungkan semua kemungkinan, pikirannya dari Nana langsung berubah.
"Jangan-jangan...Lily?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Canvas Tanpa Warna [END]
Roman pour AdolescentsSederhana, dia kehilangan warnanya dan aku kehilangan kisahku. (piinterest cover by: _blue_)
![Canvas Tanpa Warna [END]](https://img.wattpad.com/cover/359214472-64-k845561.jpg)