Rencana Hancur

183 20 1
                                        

Pagi itu, suasana lebih riuh dari biasanya. Mungkin karena Bu Astri belakangan ini, tepatnya tiga hari ini memberikan mereka makanan yang di bilang sangat enak, daging-dagingan dan buah yang biasa hanya tersedia saat masa liburan atau tanggal merah itu mereka nikmati selama tiga hari.

Ini bukan hal yang patut di curigai, ini lebih mirip perayaan karena salah satu anak panti di adopsi, dan juga sebagai hiburan agar beberapa anak oanti yang sudah dekat dengan temannya yang di adopsi, mereka pasti sedih.

Bu Astri meletakan sendoknya tepat saat makanan itu tandas. "Ada kabar baik buat kalian" ucapnya "terutama untuk Reivan" bu Astri menambahkan.

Tono reflek menegakan cara duduknya, lain dengan Reivan. Dia malah santai dan memilih menghabiskan makanannya.

"Reivan, hari ini bakalan di adopsi" ruang makan riuh seketika, namun Reivan belum menunjukan reaksi apapun.

"Reivan, kalo sudah selesai makan, kamu boleh ke ruang tamu karena calon orang tua kamu sudah menunggu di sana"

Tono menahan lengan Reivan yang hendak beranjak, namun Reivan segera memberi isyarat untuk Tono melepaskan genggamannya.

Bisa saja ini adalah hari terakhir Reivan di panti atau di dunia kan? Bagaimana jika teori Reivan tentang Bu Astri benar?

Tono menurut, ia melepaskan lengan Reivan perlahan. Segera saja Reivan beranjak, ia terlihat tidak sabar bertemu dengan orang tua barunya padahal aslinya ia hanya tidak sabar rencananya di mulai.

Membayangkan wajah Bu Astri yang tertangkap basah karena ikut andil dalam perjual belian organ, meski masih teori.

Pintu ruang tamu itu di buka Reivan "permi-

Reivan tidak melanjutkan ucapannya, sejenak ia membeku di tempat dengan tangan masih memegang gagang pintunya. Matanya melebar, sejenak ia melihat keluar jendela, ia tidak memperhatikan mobil hari ini berbeda.

"Reivan?"

"Ayah..."

***

Bintang sudah mempersiapkan semuanya, ia sudah boleh pulang meski masih ada beberapa alat tambahan di badannya, seperti gypsum.

"Bintang? Kamu udah siepin semuanya?" Bintang mengangguk, ia dengan buru-buru mempersiapkan semuanya.

"Eh sebentar Bi, saya mau ketemu sama Lily dulu" Bibi asisten ibunya yang di suruh untuk menjemput nya kali ini itu hanya mengangguk, dia mulai mendorong Bintang keluar ruangan.

Mudah menemukan Lily, dia menggunakan baju perawat yang berbeda dari yang lainnya, entah kenapa dia sangat di sayangi oleh kepala rumah sakit di sini. Gadis itu tengah duduk di bangku rumah sakit, sambil menulis.

Bintang hendak menghampiri Lily, namun ia terlambat. Seorang lelaki segera menghampiri Lily lebih dulu, tampak lelaki itu berjongkok dan mengusap lembut kepala Lily, tersenyum.

Bintang benci itu.

"Bi, gajadi. Kita balik aja" suara Bintang terdengar dingin dan ketus, bibi hanya menurut, berbalik dan segera meninggalkan Lily dan orang di sampingnya.

Sementara itu, Samudra tersenyum menatap Lily yang sedang antusias menulis bukunya "asik banget ya? Nulis bukunya?"

Senyum Lily pudar saat dia mengetahui bahwa Samudra duduk di dekatnya, ia menutup pelan buku nya, menatap Samudra.

"Kamu kenapa?" Smaudra bertanya, ia menatap wajah Lily yang tampak sedih, lebih tepatnya kecewa.

"Lily?" Samudra menepuk bahu Lily pelan, suaranya lembut. Namun masih saja diam, Lily menggelengkan kepalanya.

"Kamu marah? Kamu marah sama penjelasan aku tadi malem? Ini hari terakhir aku di rumah sakit Lily, tugas aku udah selesai di sini."

"Tapi kenapa?" Tanya Lily, jelas pertanyaan itu membuat Samudra semakin bingung. Lily tampak lebih sedih dari biasanya.

"Kenapa apa?"

"Kenapa harus pura-pura punya Alzheimer?"

***

"Iya, tugas kamu udah selesai di sini"

"Enggak yah!" Reivan berdiri, ia menggelengkan kepalanya "yang ayah suruh belum sepenuhnya selesai"

"Bukan ayah suruh, kamu yang mau." Ayah Reivan menghela nafasnya pelan, ia menatap anaknya dengan sendu "Reivan, ayah tau kamu masih mau selidikin, tapi biar ayah sama kakak yang bantu"

"Tinggal satu langkah lagi aku tau pelakunya, ayah. Tapi ayah ngeru-

Ceklek!

Pintu itu terbuka dari arah ruang makan, menampilkan bu Astri yang baru saja selesai makan siang. Wanita itu tersenyum ramah lalu duduk di sofa, menatap Ayah Reivan dan Reivan bergantian.

"Wah ini memang takdir, liat aja. Wajah kalian sama" Reivan mendengus kesal, ia segera pergi dari sana tanpa meminta izin siapapun. Ia benci saat ia harus di lihat sebagai anak kecil.

Tono yang dari tadi merenungkan nasib Reivan segera berdiri saat melihat Reivan masuk dengan wajah kesal, ia mengambil tasnya dan mengemasi. Buku-buku yang ada.

"AAH! SIALAN!"

Reivan meremas rambutnya, rencananya hancur. Sekarang bagaimana caranya menyelidiki bu Astri tanpa di ketahui, dari dalam panti saja sudah sangat sulit, apalagi dari luar panti.

"Kenapa Van?"

"Yang adopsi aku, ayah aku sendiri. Dia sengaja titip aku di panti ini supaya bisa selidikin kasus Bu Astri" jelas Reivan singkat, nafasnya masih menderu.

Tono menganga, plot twist macam apa ini. "Tapi ayah selalu lihat aku kaya anak kecil, padahal semuanya bisa aku selesaikan sendiri!" Reivan memukul mejanya keras, ia mengacak rambutnya frustasi.

"Wait... Ayah kamu?"

"Oke... Sebelum terlambat biar aku jelasin. Kamu tau kenapa Bu Astri ngira kita ke pasar waktu itu? Aku hubungin ayah lewat telpon panti supaya ayah bayar orang buat jaga-jaga kalo Bu Astri ke sana dan bilang kalo kita udah ke sana, alhasil bu Astri percaya dan kirain kita memang ke pasar, semuanya sudah di atur sama ayah aku. Aku gamau, tapi dia bersikeras" jelas Reivan.

Tono semakin menganga tak percaya "terus yang punya mobil itu berarti ayah kamu? Bukan rekan Bu Astri?."

Reivan menggeleng "bukan"

"Terus kenapa kamu bersikeras lindungin Lily? Ada apa sama Lily? Bukannya dia gaad sangkut pautnya?"

"Itu karena Lily-

Belum sempat Reivan bicara, suara ricuh di meja makan membuat keduanya reflek berlari ke arah ruang makan. Benar saja, di sana ada Bintang yang baru pulang dari rumah sakit tengah mengamuk, melempar semua yang ada dengan tangannya yang tidak patah.

Bu Astri segera muncul, menenangkan Bintang "Bintang! Kamu apa-apaan?!" bu Astri menahan tangan Bintang, namun tanpa di suruh. Bintang sudah melepaskan gelas yang hendak ia lempar, menatap ibunya dengan wajah marah.

"Ibu cari Lily kan? Anak penyakitan itu ada di rumah sakit. Nyamar jadi perawat selama ini!"

Canvas Tanpa Warna [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang