Mulai Terbongkar

200 20 1
                                        

Lily terbatuk-batuk saat cambuk ke lima belas itu mengenai kulitnya, banyak luka dan lebam di seluruh tubuhnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lily terbatuk-batuk saat cambuk ke lima belas itu mengenai kulitnya, banyak luka dan lebam di seluruh tubuhnya.

Perlahan Bu Astri berjongkok di depan Lily, meraih rambut belakang Lily, menariknya lalu memaksanya mendongak.

"Kamu tau alasan saya benci sama kamu seperti ini?"

Lily menggeleng patah-patah, Ia terbatuk, darah segar mengalir dari mulutnya, seluruh badannya terasa nyeri sekali.

"Beberapa tahun lalu..."

***
B

eberapa tahun silam.

"Tangkep bolanya Tejo!"

Tejo dengan semangat menangkap bola itu, namun meleset. Tejo yang saat itu berumur kurang lebih dua tahun hanya bisa berjinjit berusaha menangkap bola tersebut namun gagal, segera ia terjengkang kebelakang dan terjatuh.

Bola itu menggelinding ke arah gerbang, Raja yang berumur tujuh tahun saat itu segera berjalan cepat ke arah gerbang, mengejar bola merah itu.

Bola itu terus menggelinding ke arah jalanan, membuat Raja semakin gencar mengarahkan kakinya ke arah jalanan.

Sementara di dalam panti, bu Astri sedang menyuapi Bintang "aduh Bintang, kakak kamu kemana ya kok ga pulang pulang main dari tadi" bu Astri melihat keluar dengan cemas, ingin sekali ia melangkah keluar untuk memastikan Raja, kakak Bintang tidak apa-apa, namun apa boleh buat, Bintang harus di suapi, ia masih lima tahun.

Saudara ibu jadi dateng bu?" Suara asisten yang membantu bu Astri mengurus panti itu datang menyodorkan Air untuk Bintang, bu Astri mengangguk "iya, padahal saya gak pernah harepin kedatangan mereka, dari kecil dia selalu jadi kesayangan ibu, sekarang setelah saya punya panti, baru dia dateng bawa anaknya"

Suara dering telepon terdengar, kebetulan telepon rumah itu berada di dekat bu Astri menbuatnya dengan mudah mengangkat telepon itu.

"Halo Astri, kita udah deket. Sekalian mau bawa Lily juga" ucap seseorang dari sebrang telepon, bu Astri mengangguk saja. "Iya, dateng aja kak, kita udah ga sabar nungguin. Ada Bintang sama Raja di sini, bisa ajak Lily main nantinya"

Raja berusaha keras melewati gerbang yang sedikit terbuka itu, membuatnya kini ada tepat di pinggir jalan. Jalanan tampak sepi, bola itu melintas ke tengah jalan membuat Raja sedikit takut untuk melangkah.

Sementara bu Astri baru saja menutup teleponnya. "Andai ada cara supaya saya bisa balas sakit hati saya dulu, padahal saya anak kandung tapi di perlakukan berbeda cuma karena saya bukan anak yang berprestasi" bu Astri berdoa dalam hati.

Canvas Tanpa Warna [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang