Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sarapan pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya, Bintang makan di sebelah bu Astri, memainkan sendok di piringnya yang bahkan masih penuh.
Bintang masih memikirkan Lily, dia akui dirinya bodoh membocorkan semuanya begitu saja karena alasan cemburu. Satu-satunya nya membuatnya semakin sadar bahwa Lily bukan takdirnya adalah percakapan ibunya dengan Lily semalam yang menjelaskan bahwa dia dan Lily ternyata sepupu.
"Bintang?" Bu Astri mengguncang bahu anaknya pelan saat mendapati Bintang masih terdiam menatap nasinya. Bintang langsung tersadar dan menggeleng "gak...gaada apa-apa bu, cuma aku mau istirahat sedikit aja."
Bintang memutar kursi rodanya, punggungnya masih sangat sakit untuk berdiri memaksanya untuk tetap bergantung pada kursi roda beberapa minggu kedepan. Bu Astri hanya mengangguk mempersilahkan Bintang untuk istirahat.
"Oh iya... Ibu punya kabar baik untuk kalian, terutama untuk Tejo" Tono reflek meremas jemari Tejo yang duduk di dekatnya, meski sedikit lemot Tejo menangkap maksud Tono.
"Dia akan di adopsi, setelah sarapan dia sudah bisa pergi dengan orang tua barunya" Tono menggigit bibirnya, ia menutup mata lalu menarik nafasnya dalam. Ayo berfikir....
Tejo mengangguk saja, namun Tono justru terlihat cemas ia meremas jemari Tejo namun kali ini Tejo melepaskan tautan jemarinya. Ia berdiri dan segera ke ruang tamu, Tono sedikit mengintip keluar melihat mobil pengadopsi hari ini.
Mobil yang sama
"Tono? Kenapa wajah kamu pucat begitu? Kamu sakit?" Tono menggeleng cepat "aku... Aku kebelet bu, aku permisi sebentar" Tono beranjak dari sana, segera ia menghilang di balik lorong yang menuju ke kamar mandi.
***
"
Kita belum punya bukti yang cukup buat nangkep basah bu Astri" Reivan menghela nafasnya ia merebahkan dirinya di kasur. Video yang dikirim Tono nyaris tidak berguna, hanya ada gelap karena dia justru merekam tembok dan video di penuhi suara sesenggukan Tono yang kasihan terhadap Lily.
Samudra datang membawa dua gelas jus jeruk, ia duduk di dekat adiknya menyodorkan gelas jeruk itu kepada Reivan. Anak remaja berkacamata itu tidak menolak, ia mengambil jus itu lalu menegaknya.
"Oh iya kak, sebenarnya Lily itu se-istimewa apa?" Tanya Reivan, gelasnya yang sudah tandas ia taruh di atas meja. Mulai menyimak.
"Lily? Dia... Mirip sama Mama" Samudra tersenyum, ia melihat ke sebuah foto yang tertera di sana "liat kan? Mama mirip banget sama Lily"
Reivan mengangguk "aku ga pernah ketemu Mama karena memang aku gaada di saat kecelakaan" ucapnya, suaranya terdengar sendu "Kakak tau? Sebenarnya kita punya Kakak perempuan, eh maksudnya aku punya Kakak perempuan" Reivan menjelaskan singkat "tapi sayangnya foto nya gaada, waktu kita pindah ke kota ini dua belas tahun yang lalu, ayah ga sempat buat kemasin semua foto-foto itu, eh sampe di kota ini malah kecelakaan dan ayah kehilangan Mama"
Samudra sedikit terkejut mendengar fakta baru itu, "Saudari?" Reivan mengangguk "dia meninggal sama Mama" tambahnya.
"Tapi setidaknya ada Kak Samudra yang gantiin kan? Kembali ke pertanyaan awal, kenapa suka Lily? Emang apa spesial nya Lily."
"Dia... Dia itu warna di lukisan kakak, ya beberapa hari lalu kakak yang salah pengen jauhin Naura segala. Dia buat kakak risih jadi kakak suruh aja ayah buat pernyataan kalo kakak kena Alzheimer, taunya... Lily dateng ngerawat Kakak, bahkan kasi kakak buku yang lucu. Dia baik, jadi bisa kamu bayangkn? Lukisan tanpa warna kan?" Samudra menegak habis jus jeruknya "tapi ujung-ujungnya Naura yang nyerah, dan kakak emang ga peduli karena dia cuma incer harta Papa melalui kakak"
"Tanggepan Lily setelah kakak kasi tau itu apa?"
"Dia agak marah, tapi dia bilang. Gaada manusia yang jahat, yang ada itu orang baik yang kadang ngelakuin kesalahan" jelas Samudra "dia baik, Lily itu baik banget" jelasnya.
Reivan menjatuhkan pandangannya ke lantai "pasti kakak perempuan aku bakalan sifatnya kaya Lily" Reivan tersenyum.
Belum sempat ada kelanjutan percakapan, sebuah notifikasi muncul dari ponsel Reivan. Anak remaja berkacamata itu segera saja berdiri, ia menatap Samudra dengan panik.
"Kenapa Rei?" Samudra terkejut melihat adiknya yang tiba-tiba berdiri, Reivan menatap ke arah Samudra, namun tanpa menjawab Reivan segera meraih tangan Samudra keluar dari rumah.
"Ayo, kita harus cepat kalo enggak temen aku mungkin bakalan jadi korban hari ini"
***
Debu bertebaran kala mobil kijang berwarna putih itu meninggalkan kawasan panti asuhan, Tejo meremas jemarinya, di depannya ini memang suami istri namun mereka terlihat mencurigakan.
Namun belum saja larut dalam bingungnya, sebuah kotak besar di dekat Tejo bergerak, sedetik kemudia muncul wajah Tono saat kain penutup kotak itu terbuka.
Nafas Tono tersengal saat keluar dari kotak itu "astaga... Bau bangke" Tono mengatur nafasnya. Tejo terlonjak kaget, namun ia berusaha tenang, setidaknya ada temannya di sini. Tono hanya mengacungkan jempolnya, ia sudah siap menjadi superhero hari ini.
Tak butuh waktu lama, mobil itu berhenti. Tono segera saja bersembunyi di kotak itu lagi, ia merasa melayang seketika saat kedua orang asing itu mengangkatnya lalu menaruhnya di dekat sebuah kebun dengan banyak gundukan tanah.
Tono masih bertahan, namun bisa dia dengar Tejo sudah di seret dari mobil dengan kasar "AYO KELUAR!" suara berat seorang lelaki membentak, sejenak setelah nya ia mendengar beberapa langkah kaki menjauh dan akhirnya sunyi.
Baru saja hendak membuka penutup kain kotak yang ia tempati, sebuah mobil mewah segera saja muncul. Tono menunduk, mengintip sedikit ke arah mobil itu.
Debu berterbangan, Reivan dan Samudra keluar dari mobil itu. Sungguh itu seperti angin segar, Tono segera membuka persembunyiannya, baru ia sadar bahwa ia berada di atas tanah kosong yang tampak bergunduk.
"Akhirnya kamu dateng Van!" Tono menghamburkan pelukannya ke Reivan, namun segera di tahan oleh Reivan "kamu bau daging busuk" cibirnya seraya menutup hidungnya.
"Ah apa nih" Samudra memungut sebuah batang kayu yang cukup keras, Reivan menyipitkan matanya lalu mengambil batang kayu itu, memperhatikan barang kayu itu sejnak lalu melihat sekitar, ia mendapati sesuatu berkilauan dari jarak tiga meter, ia segera berlari merngambil benda kecil kelap-kelip yang terkena cahaya. Sebuah gelang, dan dia hafal gelang itu apa.
Sejenak Reivan langsung berteriak, mundur melempar gelang dan batang kayu itu, ia gemetar.
"Reivan! Ada apa? Hey...tenang okay, tenang. Ada apa" Samudra memegang bahu Reivan, berusaha menenangkannya, namun gagal. Dengan gemetar ia menunjuk dua benda tadi "itu gelangnya Nana, temen aku dan itu... Itu bukan batang kayu biasa, itu...."
Reivan masih bergetar, Tono melirik ke arah gelang dan batangan itu "ITU TULANG MANUSIA!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.