Reivan Jenius

225 15 1
                                        

"Masih ada yang sakit nak?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Masih ada yang sakit nak?"

Bintang menggeleng tersenyum, menandakan bahwa ia baik-baik saja. Sedetik kemudian ia menatap tiga anak remaja mengekor di belakang ibunya.

"Tono, Tejo sama Reivan ibu bolehin ikut. Mereka udah jadi anak baik" jelas bu Astri, ia membaca raut wajah Bintang yang tampak bingung. Reivan yang merasa di tatap hanya tersenyum sebagai jawaban, ia mengangguk menyapa Bintang.

"Kalo gitu kita keluar ya Bu, biar ibu bisa bebas ngomong sama Kak Bintang" Tono berujar sopan, Bu Astri mengangguk setuju. Ia memang lebih nyaman bicara dengan anaknya berdua.

Tono yang sudah mendapat persetujuan segera menarik pergelangan tangan Reivan keluar kamar dengan agak kasar.

"Woy! Lepasin aku!" Tono akhirnya berhenti, Tejo beda lagi, anak remaja itu memilih pergi ke kolam rumah sakit, melihat ikan koi.

Lorong rumah sakit itu tampak lenggang, hanya beberapa perawat yang lalu lalang. Kini Tono menatap mata Reivan yang ternyata juga sedang mengamati sekitar.

"Ini rencana kamu kan?" Tanya Tono, kening Reivan berkerut samar "rencana?"

"Kamu tau arah pembicaraannya, Reivan."

Akhirnya Reivan menghela nafas dan mengangguk "iya, aku ga ngarang alasan pas bilang Lily kabur ke pa-

"Bukan itu, kalo rencana yang itu aku ga bakal paham, tapi soal kita di cap berkelakuan baik itu" Tono mengjelaskan, karena jika di jelaskan tentang rencana yang ke pasar itu, cerita ini akan berakhir begitu saja.

Reivan mengangguk mengerti "aku sudah perkirakan, semuanya dengan akurat. Jadinya aku selalu berfikir dua atau tiga langkah di depan kalian. Ada yang udah aku lakuin sampe ada orang pasar yang bilang kalo kita udah ke pasar padahal kita diem di panti, dan akhirnya untuk merealisasikan rencana itu, aku sengaja taruh kucingku di atas pohon secara dan minta bantuan kalian walaupun ujung-ujungnya aku yang harus naik..."

"... Semuanya lancar, aku gamau kalian kena hukum. Tergelincir, trampolin itu sudah aku perkirakan tempatnya supaya kucing ku mendarat selamat dan aku sengaja terkilir."

"Kenapa? Tapi ibu Astri bilang kamu terkilir pas lari ke pasar padahal kamu ga pernah ke sana" Reivan mengangguk.

"Aku tau, tapi di sisi lain itu sudah di dalam rencana, jadi ibu Astri dapat kabar kalo aku terkilir pas lari ke pasar, Bu Astri ga pernah teliti, dia cuma tau aku terkilir tanpa selidikin kapan aku terkilir" Reivan terkekeh, ia menatap Tono kali ini "paham?" Tanyanya.

"Berarti kamu terkilir itu sengaja supaya bu Astri percaya kalo kamu udah kepasar, dan sudah kamu susun skenario nya, kamu udah tau kita bakalan di apresiasi bu Astri dan sebagai permintaan kamu buat ke rumah sakit jengukin kak Bintang?"

"Yap! Betul sekali!" Reivan menjentikkan jarinya di depan wajah Tono, membuat Tono sedikit terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Setelahnya Tono hanya bisa geleng-geleng kepala heran dengan isi kepala Reivan.

Canvas Tanpa Warna [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang