Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam meraup hari, segera saja semuanya gelap dengan bintang remang sebagai penerang. Lily diam di taman, ini sudah malam namun ia memilih melihat ke langit.
"Ma, Pa apa kabar? Belakangan ini Lily kesakitan tau, punggung Lily, kepala Lily semuanya sakit. Aku denger Lily De Valley itu ada racunnya ya? Berguna ga buat bunuh si bunganya Ma? Aku juga mau ikut... Di surga pasti enak banget ya, aku pengen ikut" Lily menunduk, ia memainkan jarinya yang ia taruh di pangkuannya. Sedikit ia eratkan sweater yang ia kenakan, dingin mulai menjalar di tubuhnya.
"Oh iya, Ma Pa ternyata titipin aku ke Bibi sama Paman itu bukan ide baik, buktinya mereka anggep aku beban dan aku di titipin di panti asuhan" Lily menarik nafasnya, tersenyum "aku pingin nangis, Ma Pa, kayanya enak ya. Di peluk, nangis, lepasin semuanya ga lari ke buku aja, aku... Aku selalu jadiin buku pelampiasan."
"Ma Pa, dunia lagi jahat jahatnya, aku ga sekuat itu. Bu Astri salahin aku karena anaknya patah tulang, Reivan sampe repot gendong aku kemarin malem ke rumah sakit, Samudra juga sam-
"Kalo kamu bilang aku repot, jawabannya enggak, kamu ga ngerepotin aku" Lily menoleh cepat, astaga sejak kapan Samudra ada di dekatnya?!.
Samudra ikut menatap langit yang sudah gelap hanya sedikit bercak bercak cahaya di atas sana.
"Ly... Kamu mirip almarhum Mama aku" Samudra memulai pembicaraan, ia tsu pembicaraan ini akan lama, dan itu yang ia inginkan. Berlama-lama di sini, dengan Lily.
"Kamu inget?"
"Dengerin dulu, Lily" Samudra menatap Lily, wajahnya sudah pucat, nyaris tanpa warna namun tetap cantik.
"Mama aku suka langit, dia suka cerita sama orang tuanya, persis kaya kamu. Soal kenapa aku bisa inget, aku ga bisa bilang aku ngandelin lukisan sama tulisan. Terus kenapa aku bisa inget? Karena aku ga lupa, semuanya."
"M.. maksudnya?"
Samudra tersenyum "aku jelasin nanti-nanti ya, sekarang aku cuma mau kamu buat bertahan. Sebentar lagi, kamu pasti bakalan baik-baik aja." Samudra memgang tangan Lily yang sudah dingin dan pucat "cepat atau lambat kamu bakalan tau alasan aku ngelakuin semua ini"
"Gimana kalo waktunya ga cukup?"
"Cukupin ya, demi aku"
Lily menatap ke langit, ia tersenyum "di sekeliling aku, aku selalu ada orang-orang yang memang kadang jahat. Tapi ada juga temen-temen aku yang baik, contohnya kamu" Lily terkekeh "Samudra... Kira-kira apa jadinya kalo aku meninggal?"
***
"Sumpah Rei, aku ngantuk banget" Tono mengucek matanya, ia hanya ingin tidur. Namun Reivan malah memaksanya naik pohon malam-malam.
Rumah pohon itu jarang di singgahi, angker katanya. Tapi siapa sangka Reivan memanfaatkan itu dengan sangat hebat, ia mendesain rumah phon itu dengan cantik.
Berdiameter sekitar empat meter atau kurang, di hiasi lampu remang-remang yang di nyalakan dengan bantuan tenaga surya, rak buku berjejer dengan segala warna dan jenis buku, bahkan akuarium berbentuk bola dengan ikan koi di atas meja kecil ada.
Namun lupakan itu, Tono tidak sempat kagum, ia mengantuk "aku nemu sesuatu yang menarik" Reivan merangkak ke papan tulis kecil di depan Tono, lalu mulai menuliskan huruf P dan R.
"Males aku ngerjain PR Rei" gerutunya dengan mata setengah terbuka, ia menguap.
"Bukan itu, Aku udah liat semuanya. Anak yang di adopsi biasanya di atas 14 tahun, yaitu kisaran 15,16,17" bintang melingkari angka angka yang baru ia sebut tadi di papan tulis "umur aku 15 tahun tahun ini, dan yang aku lihat anak di usia di atas 14 tahun di adopsi satu-persatu"
Reivan mengambil beberapa foto dari tasnya "di panti cuma ada sekitar sepulu orang anak remaja, termasuk Bintang dan Lily. Dan kesisa timggal tujuh orang kan, tapi tiga di antaranya sudah di adopsi" Reivan menjelaskan dengan teratur, Tono yang tadi mengantuk kini bersemangat.
"Jadi dari yang aku lihat dari nama mereka, mereka di adopsi sesuai abjad" Tono mengurutkannya "dari yang aku baca di internet dan gosip warga, sudah tiga kali di kabarkan ada jual beli organ tubuh manusia"
Toni mulai berfikir sejenak, ia menatap Reivan. Menunggu penjelasan selanjutnya.
"Nama Nana, anak yang terakhir di adopsi itu namanya Putri Anastasia yang di panggil Nana, dan dia yang terakhir punya nama awalan P di Panti, baru setelah itu..."
"Kamu?"
Reivan tersenyum, menjentikan jarinya di depan Tono "umur duabelas ternyata ga sebodoh itu ya" wajah Tono kusut seketika, itu memancing tawa Reivan segera.
"Iya, jadi target selanjutnya aku. Dan ini kesempatan buat selidikin ini semua, aku gamau berfikir macam-macam"
"Rei, tapi kalo emang mereka di sana mati, apa kamu mau?"
"Aku selalu berfikir dua tiga langkah di depan kalian, jadi jangan khawatir"
Reivan tersenyum menatap papan tulisnya, nafasnya menderu tidak sabar untuk besok. Dimana dia akan membuktikan kalau memang bu Astri melakukan hal keji itu.
***
"Ini" Samudra menyodorkan lukisan ke Lily, kali ini gambar bunga Lily de Valley, warnanya indah dan menawan.
"Ini udah kesekian kalinya kamu kasi aku lukisan" Lily tersenyum, menerima lukisan itu, ia tak henti menatap lukisan indah dari Samudra itu.
"Menurut kamu, lukisan tanpa warna itu gimana Ly?" Tanya Samudra.
Lily tampak berfikir "aku ga paham seni, jadi menurut aku tanpa warna lukisan itu bakalan hampa dan ga bermakna" jelas Lily. Ia mengucapkan apa yang ada di otaknya "lukisan itu akan hambar, ga bermakna"
Samudra tersenyum lalu meraih tangan Lily, mengusapnya pelan"bertahan ya, Ly. Demi aku, aku gamau lukisan aku kehilangan warnanya."
"Aku juga gamau kehilangan kisah ku, Samudra. Semua penulis butuh kisahnya sendiri buat di tulis" ia tersenyum "dan aku ga suka lukisan tanpa warna."
Aku akan bertahan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.