Semakin Aneh

224 16 1
                                        

"Yakin kamu yang panjat pohonnya?" tTono mendongak menatap ujung pohon

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Yakin kamu yang panjat pohonnya?" tTono mendongak menatap ujung pohon.

Reivan mengangguk mantap, ada kucing tersangkut di sana. Ia harus segera menyelamatkan kucing itu.

Pohon itu cukup tinggi, sekitar tiga meter lebih dengan batang licin, dengan kesusahan Reivan meraih kucing itu hingga akhirnya bisa ia peluk.

Namun memang dasar kecerobohan Reivan, ia bahkan tidak berpengalaman dalam hal oanjat memanjat, ia salah berpijak, tangannya reflek melempar kucing itu, untung saja mendarat selamat di atas trampolin, tubuh kucing itu mungil, tidak kuat untuk memantul tinggi.

Reivan sudah tergelincir dan seketika terjatuh dari sana, ia mendarat di atas pergelangan kakiny membuat nya memekik tertahan.

Tono dan Tejo juga panik, ia hendak memanggil anak panti sekitar namun Reivan segera menyuruh mereka untuk diam.

Belum sempat kembali memanggil, Clara datang dengan bonekanya "kalian di panggil ibu, dia udah balik dari nyariin kak Lily" jelas Clara lalu segera berbalik dan pergi main bersama anak panti lainnya.

"Kalian duluan aja, nanti aku nyusul"

"Ga perlu di bantu Rei?"

Reivan mengibaskan tangannya "gausah" balasnya.

Selepas kepergian Tono dan Tejo, Reivan segera berdiri, rasa nyeri masih menjalar di kakinya tapi tidak apa-apa.

Namun saat ia hendak beranjak, seorang anak gadis menghampiri nya, itu Nana. "Loh... Nana? Belum berangkat?"

Nana menggeleng "aku mau kasih ini sebelum pergi" Nana menyerahkan gelang berwarna-warni itu ke Reivan "sebagai kenang-kenangan, aku juga kasi yang lainnya kok"

Reivan mengangguk sekilas sebelum akhirnya pergi "aku pergi ya, bu Astri panggil aku" pamitnya dan segera bergegas.

Suasana ruangan itu hening, mereja berderet bertiga bahkan menarik nafaspun rasanya tidak berani.

Suara jam kuno itu berdetak, seirama dengan suara langkah bu Astri. Ia datang dengan wajah dingin dan kesal. Namun saat melihat Toni Reivan dan Tejo, wajahnya berubah.

"Reivan, Tono dan Tejo" Bu Astri membuka pembicaraan "ibu bangga sama kalian, kalian sampe susul Lily ke pasar? Luar biasa. Ibu tidak akan marah karena kalian melanggar, ibu justru senang karena kalian sudah susah-susah mencegah Lily untuk kabur meski hasilnya kosong"

Toni dan Tejo kompak menatap Reivan, menuntut penjelasan, namun Reivan segera mengibaskan tangannya sambil tersenyum. Nanti ku jelaskan.

Bu Astri kini menatap Reivan, ia tersenyum "Pasti kamu capek kan Rei, ibu denger kaki kamu sampe terkilir kan? Udah di obatin?"

Tono dan Tejo menganga, mereka menatap Reivan. Namun sangat berbeda dengan reaksi dua orang itu, Reivan malah tersenyum santai seakan ia memang terjatuh di pasar karena melakukan kegiatan heroik yakni mencegah Lily kabur?

Canvas Tanpa Warna [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang