"Dingin~~" Riku bergumam sambil menggigil kedinginan. Sejauh mata memandang hanya terlihat salju dengan bangunan berwarna kalem. Sangat elegan. Ini kali kedua Riku di Northmeir.
Riku meregangkan tubuhnya. Duduk di pesawat selama berjam-jam membuatnya kelelahan. Belum lagi dia harus melakukan perjalanan menggunakan kereta.
Riku keluar dari stasiun kereta dengan bangunan yang elegan. Tidak modern, tapi sangat cantik. Ada jam besar di gerbang stasiun. Riku berhenti sejenak untuk mengamatinya.
Tempat ini ada di distrik paling pinggir Northmeir. Tidak terlalu ramai seperti di pusat kota. Suasana yang menyenangkan untuk memulai hidup baru.
Memikirkan hidup baru membuat Riku tertawa dalam hati. Dia berhati-hati menapaki tangga. Licin sekali. Setelah sampai di jalan akhirnya Riku bisa bernapas lega.
Sayangnya baru saja melangkah, Riku terpeleset jalanan bersalju. Dia terjatuh dengan muka mendarat di tumpukan salju. Wajah Riku langsung membeku. Riku buru-buru bangun sebelum dia kedinginan.
Riku merogoh saku untuk mengeluarkan surat yang diterimanya beberapa hari lalu. Ada alamat di dalamnya. Tujuan terakhirnya.
Sepatu bot Riku menapak mantap di jalanan dengan salju yang tipis. Bangunan-bangunan tinggi dengan warna kalem yang cantik berulang kali membuat Riku terpana. Jalanannya juga cantik dengan lampu-lampu bersalju.
Sesekali dia berhenti untuk melihat isi toko atau kafe lewat kaca besar. Dia harus mulai menghapal jalanan dan bangunan di sini.
Setelah melewati beberapa kompleks apartemen, Riku berhenti di sebuah kafe dengan aroma roti. Aurora. Nama kafe dengan interior putih. Terlihat seperti menyatu dengan salju. Riku membuka pintu kafe. Bunyi lonceng kecil menyambutnya.
"Selamat datang," gadis berambut putih panjang sepinggang menyambutnya menggunakan bahasa yang Riku tidak pahami, tapi dia pernah mendengarnya. Bahasa Nothmeria.
Riku hanya membungkuk sebagai balasan. Mata biru langit itu terlihat cantik. Riku bertanya-tanya, bahkan pegawainya juga berambut putih. Beruntung di dalam kafe tidak putih, tapi hijau kebiru-biruan.
Berdasarkan arahan Rei, dia hanya perlu menunjukkan surat yang dikirimkannya. Riku mendekati gadis berambut putih itu dan menyerahkan surat padanya. Wajah manis itu awalnya tampak kebingungan, tapi kemudian dia menutup mulutnya kaget.
"Ah, kau tamu Rei-san," gadis itu berganti menggunakan jepang. Riku hampir melompat saking girangnya. Beberapa jam ini dia tidak mendengar bahasa ibunya, membuatnya kesepian.
Riku mengangguk penuh semangat. "Nanase Riku," Riku mengulurkan tangannya dan segera disambut gadis itu.
"Rui,"
"Nama Jepang?" seru Riku kaget. Masalahnya wajah gadis yang namanya Rui ini tidak terlihat seperti orang Jepang. Riku kira dia penduduk asli.
Rui mengangguk. "Silahkan duduk dulu. Aku akan memanggil Rei-san,"
Riku mengikuti perkataan Rui. Dia duduk di salah satu meja yang paling dekat dengan jendela kaca. Riku masih belum puas melihat pemandangan distrik cantik itu.
"Hei,"
Sapaan dari suara yang hampir Riku lupakan. Riku menoleh untuk melihat wajah Rei yang juga hampir dia lupakan. Keberadaan Rei sendiri juga dia lupa. Intinya lupa. Riku mengangguk balas menyapa. "Halo, Rei-san. Sudah lama tidak bertemu,"
Rei duduk di hadapan Riku. Rui datang menbawakan dua cangkir teh dan kue kering cantik. Riku tersenyum manis. "Terima kasih,"
Rui tersenyum senang sambil memeluk nampak di tangannya. Dia kembali ke tempatnya, memberikan waktu berdua untuk Rei dan Riku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Note [IDOLiSH7 Fanfiction: RESTART POiNTER] END
FanfictionKatanya dia seperti buku. Mudah dibaca. Tetapi apa pembacanya sudah membacanya dengan benar? atau belum sampai ke kisah masa lalu yang disembunyikan? Janji masa lalu yang ditagih membuat kekacauan. Bisakah mereka melupakannya atau menghadapinya? Ke...
![Another Note [IDOLiSH7 Fanfiction: RESTART POiNTER] END](https://img.wattpad.com/cover/361441883-64-k333811.jpg)