Uap keluar dari mulut Riku. Sebentar lagi bulan November. Suhu menjadi dingin. Dia mengeratkan jaket tebal yang dipakai. Riku ingin membeli minuman kaleng. Susu coklat manis yang dia ingat membawa kenangan.
Setelah memasukkan koin, Riku menekan minuman pilihannya. Suara keras tidak menarik Riku untuk segera mengambil minumannya. Dia malah melamun memperhatikan isi mesin di depannya.
"Nanase-san, kau bisa kedinginan kalau berdiri di sana terus,"
Suara Iori mengejutkan Riku. Dia segera menjaga jarak dari mesin. Menoleh ke arah Iori yang entah sejak kapan ada di dekatnya. Riku tersenyum riang. "Iori, mau satu?"
Iori melipat tangannya. "Kau mau menyogokku?"
"Ketahuan, ya?" Riku tertawa kecil.
Riku berjongkok mengambil minuman yang dia beli. Hangat. Dia menoleh ke arah Iori. Wajahnya menyendu. "Apa aku masih boleh mengatakan maaf?"
Iori membuang napas kasar. Wajahnya masih saja masam. Iori menghampiri Riku dan ikut berjongkok di sebelahnya. "Dengan alasan,"
Sebagai respon tuntutan Iori, Riku mulai menyesap susu coklatnya perlahan. Rasanya hangat. Wajahnya tampak memikirkan hal yang sulit.
"Kita semua sangat ingin tahu. Mereka menahannya karena tidak ingin membebanimu," Iori mendengus kasar. "Setidaknya katakan padaku dulu. Aku akan membantumu,"
Riku memainkan kaleng di tangannya. Menyusun kata-kata di kepalanya.
"Apa kau benar-benar ingin keluar dari IDOLiSH7?"
Pertanyaan Iori membuyarkan konsentrasi Riku. Matanya mebesar panik. "Tidak. Tidak pernah terpikirkan!"
"Apa aku bisa menyangkalnya dengan keputusanmu untuk pergi?" Iori menatap Riku tajam. "Kau juga meninggalkan pesan di surat pengunduran diri. Aku pergi dulu,"
"Serius?!" Riku berseru kaget. "Itu benar-benar kesalahpahaman!! Aku hanya asal mengambil kertas kosong,"
"Jadi, kau berniat kembali? Lalu kenapa saat aku tanya kau akan kembali atau tidak jawabanmu dunia akan terus berjalan tanpa adanya dirimu?!" Iori bersungut jengkel.
"Itu namanya totalitas," cicit Riku takut-takut melihat wajah masam Iori. "Aku tidak tahu harus pergi berapa lama jadi hanya itu yang bisa aku katakan. Maaf,"
"Apa kau tidak bisa mengatakannya pada kami atau setidaknya padaku atau siapapun itu? Nanase-san, hampir membuat kekacauan besar," Iori akhirnya menumpahkan kemarahannya.
Riku menutup mata sebentar setelah mendapat semprotan dari Iori yang tidak bisa dibantahnya. Meski Riku tidak ingin besar kepala bahwa popularitasnya setinggi itu, janjinya hanya bisa terpenuhi kalau Riku berada di puncak.
"Aku tahu. Aku membuat kesalahan. Hanya saja aku tidak bisa mengatakan pada siapa-siapa. Aku harus berada di posisi yang sama dengannya. Perkataan saja tidak akan cukup. Aku butuh bukti.
"Aku tahu ini sangat egois, tapi aku harus memenuhi janji dengan orang yang membuatku menjadi Idol. Aku tidak akan bisa bergerak maju kalau aku melupakannya. Sejak awal aku masuk ke dunia ini karena ingin menyelamatkannya,"
"Aku percaya bahwa aku akan diselamatkan, tapi bagaimana dengan dirinya. Dia menyelamatkan banyak orang, tapi saat dia berada di jurang gelap siapa yang menyelamatkannya?"
Riku membasahi tenggorokannya. Dia mengembuskan napas panjang. "Karena itu, setelah memenuhi janji kami, aku akhirnya bisa memulai lagi. Kali ini tujuanku bukan memenuhi janji, tapi karena aku ingin bersama kalian,"
Riku memiringkan kepalanya. Menatap Iori dengan sorot tulus. "Apa kau menerimaku lagi?"
Mata Iori berkilat melihat Riku. Tentu saja banyak kekecewaan dan rasa sakit yang tertinggal di hatinya. Hanya saja dia tidak marah. Mereka menyakiti dan disakiti. Begitulah dunia ini berjalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Note [IDOLiSH7 Fanfiction: RESTART POiNTER] END
FanfictionKatanya dia seperti buku. Mudah dibaca. Tetapi apa pembacanya sudah membacanya dengan benar? atau belum sampai ke kisah masa lalu yang disembunyikan? Janji masa lalu yang ditagih membuat kekacauan. Bisakah mereka melupakannya atau menghadapinya? Ke...
![Another Note [IDOLiSH7 Fanfiction: RESTART POiNTER] END](https://img.wattpad.com/cover/361441883-64-k333811.jpg)