Burung-burung yang berkicau cukup untuk membangunkan Riku. Tubuhnya kaku karena Tenn terus memeluknya. Ada perasaan senang di hatinya melihat wajah Tenn yang masih terlelap. Tenn sepertinya tidak tidur dengan baik akhir-akhir ini.
Riku perlahan keluar dari selimut. Tubuhnya langsung menggigil. Perlahan dia membuka lemarinya. Menarik koper yang sudah dia siapkan jauh jauh hari. Riku melakukanya dengan hati-hati agar tidak membangunkan Tenn.
Setelah memastikan semua aman, Riku mengangkat kopernya agar tidak mengeluarkan suara. Riku membuka pintu dengan perlahan. Baru saja mau menutupnya, Tenn tanpa membuka matanya bergumam pelan sambil menarik selimut. "Hati-hati di jalan,"
Riku langsung meringis mendengarnya. Dia tidak menjawab Tenn, hanya menutup pintu dengan pelan.
Sebentar lagi kafe akan buka. Riku berhenti di ambang pintu dapur. Rui dan Rei sudah bangun. Mereka cukup terkejut dengan penampilan rapi Riku. Tentu juga dengan koper hitam miliknya. Rui berdiri dari duduknya. "Riku-san??"
Riku menghampiri meja makan. Dia memeluk Rui dengan erat. "Terima kasih sudah menemaniku di sini. Rui sangat baik padaku dan memastikan aku selalu nyaman di sini,"
Wajah Rui langsung memerah. Dia gelagapan didekapan Riku. Bingung harus merespon bagaimana. Rui mengembuskan napas panjang setelah sadar bahwa ini perpisahan. Dia membalas pelukan Riku. "Aku senang bisa mengenal Riku-san,"
Riku mengusap rambut Rui pelan sebelum melepaskan pelukannya. Dia kemudian beralih pada Rei. "Aku pergi,"
Rei mengangguk. "Aku menantikan kau kembali ke sini lagi,"
"Rei-san, alasanku datang ke sini bukan, karena janjiku padamu tiga tahun lalu," Riku menatap Rei dengan wajah lembut. Tersenyum manis. "Aku datang ke sini untukmu,"'
Senyum di wajah Rei berubah. Wajahnya menjadi serius. Matanya mengerjap berulang kali tak yakin. Riku tersenyum geli melihatnya. "Kalau di dunia superhero kesukaanku, aku ingin menyelamatkanmu,"
Riku menarik tangan Rei. Menggenggamnya erat. "Aku bukan ingin pamer, tapi saat aku meninggalkan mereka, mereka datang kepadaku. Kau bahkan melanggar keyakinanmu dan meminta bantuan pada orang-orang yang peduli padaku.
"Ingat yang kau katakan padaku? Orang-orang yang peduli padaku tidak akan membiarkanku sendiri. Aku... kita berdua sudah membuktikannya,"
Wajah Rei bertahan serius untuk beberapa saat. Senyum lebar muncul setelah dia membuang napas panjang. Mata merahnya menyendu. Kali ini berkat perasaan bahagia. "Kau benar. Aku sangat lega. Kesedihan yang aku berikan tidak akan bisa aku balas, tapi dengan membantumu memastikan kau berada di tempat seharusnya membuat beban penyesalanku perlahan... bisa aku terima...,"
Rei memeluk Riku erat. Memberikan beban tubuhnya pada Riku. "Terima kasih,"
Riku menggeleng. Dia balas memeluk Rei. "Terima kasih karena sudah membuatku menjadi IDOLiSH7 Nanase Riku,"
Rui menyeka air mata yang keluar dari matanya. Meski dia masih belum mengerti, tapi melihat kedua orang di depannya membuatnya juga merasakan kelegaan.
Pelukan itu terlepas saat Riku mendorong Rei. Dia tersenyum lebar. Wajah cerianya sudah kembali. "Jadi, sekarang saatnya kau mengucapkan salam perpisahan dengan benar,"
"Perpisahan?" ulang Rei bingung.
Riku meluruskan punggungnya. Menunjuk ke dirinya sendiri. "Kujou dan orang-orang yang peduli padamu sudah berpisah dengan benar. Sekarang giliranmu,"
"Kenapa pada dirimu?" Rei masih tidak mengerti.
"Karena aku adalah Idol yang akan melanjutkan mimpimu. Kau tidak perlu lagi menjadi Idol yang selamanya ada. Kau bisa mempercayakannya pada kami. Idol generasi baru," Riku tersenyum tulus. Dia mengulurkan tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Note [IDOLiSH7 Fanfiction: RESTART POiNTER] END
ФанфикшнKatanya dia seperti buku. Mudah dibaca. Tetapi apa pembacanya sudah membacanya dengan benar? atau belum sampai ke kisah masa lalu yang disembunyikan? Janji masa lalu yang ditagih membuat kekacauan. Bisakah mereka melupakannya atau menghadapinya? Ke...
![Another Note [IDOLiSH7 Fanfiction: RESTART POiNTER] END](https://img.wattpad.com/cover/361441883-64-k333811.jpg)