Bagian dari IDOLiSH7

199 20 0
                                        

Suasana mobil terlalu tenang. Sudah cukup lama mereka tidak berada di satu mobil. Sepertinya kalau tidak salah ingat, ini pertama kalinya mereka berkumpul setelah pertemuan terakhir membahas kepergian Riku.

Tsumugi tampak cemas di kursi depan. Iori tidak tahu apa yang dia pikirkan. Iori membuang napas berat. Mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Mereka sudah cukup lama menahannya. Tidak ada yang berani membicarakannya saat bersama. Takut bahwa itu hanya akan menyakiti mereka.

Setelah hampir dua bulan terlewati dan tidak ada hal banyak yang bisa dilakukan, Iori tahu akhir dari semuanya. Mungkin saja agensi tidak akan meminta bantuan ke Sougo atau Nagi. Mereka akan mengambil jalan yang pastinya menghebohkan satu negeri.

Iori sudah memikirkan hal yang harus mereka lakukan untuk menghadapi badai kritikan setelah ini. Beban berat yang bisa saja dapat menarik mereka ke jurang paling dalam. Tidak apa. Sekali lagi. Mereka akan berjuang lebih keras sekali lagi. Semua demi melihat dia lagi.

"Iori, wajahmu pucat?" Mitsuki mengecek Iori yang dari tadi diam saja.

Mata Iori secara alami mengamati wajah Mitsuki. Kakaknya itu sudah melewati hal berat. Kalau sekali lagi dia mengalaminya, apa tidak masalah? Kalau sekali lagi mereka mengalaminya, apa mereka akan baik-baik saja? Iori tidak ingin itu, tapi Iori lebih tidak ingin kehilangannya.

Iori tersenyum dengan sedikit paksaan. "Aku sedikit sakit kepala,"

"Iori-kun mau obat? Atau kita perlu ke rumah sakit?" Sougo bertanya cemas. Segera mengecek tasnya yang pastinya menyimpan banyak hal berguna.

"Apa kau makan dengan benar?" keluh Mitsuki menyentuh kening Iori. Dia mengembuskan napas panjang saat menemukan suhu Iori normal.

"Ichi, pasti sakit karena memikirkan kita," Yamato muncul dari belakang. Dia mengacak rambut Iori pelan. Tersenyum lembut. "Kami tidak selemah itu,"

"Entahlah, Nikaido-san. Aku saja tidak yakin dengan diriku sendiri," sahut Iori jujur.

"Oh Iori," Nagi tersenyum lembut. Menarik tangan Iori dan mengenggamnya pelan. "Bahkan kalau kita harus kembali ke konser dengan 9 orang yang menonton, kita akan baik-baik saja karena hati dan perasaan tulus kita akan terus terhubung di manapun kita berada,"

"Aku tidak apa. Mungkin," Iori membuang napas berat. Dia melirik ke kursi pojok belakang. "Lebih baik kalian memperhatikan, Yotsuba-san,"

Mata Tamaki mengerjap saat namanya disebut. Dia dari tadi diam mengarahkan wajahnya ke jalanan. Dia menoleh dengan wajah cemberut. "Padahal aku diam,"

"Ya, karena Yotsuba-san dari tadi diam makanya harus lebih diperhatikan," jelas Iori gemas.

"Aku tidak apa-apa kok," senyum tipis Tamaki terlihat. "Aku hanya perlu mengikuti kalian ke mana pun itu,"

"Tamaki," bibir Mitsuki mengerucut. Dia melompat ke arah Tamaki dan memeluknya erat. Menempelkan pipinya dengan pipi Tamaki. "Jangan tumbuh secepat ini!"

"Mikki...," Tamaki ikut mewek. Membalas pelukan Mitsuki.

"Intinya adalah Ichi," Yamato mengembalikan suasana serius. Dia menaikkan kacamatanya. "Kita sudah lelah untuk mengatakan omong kosong. Kita harus menghadapinya,"

"Aku percaya pada penggemar kita. Mereka akan memahami kita. Meski akan ada yang mengutuk kita, sudah menjadi tugas kita untuk mendapatkan cinta mereka lagi," Nagi menepuk tangan Iori lembut. Tersenyum lebar.

Sougo mengangguk. "Iori-kun, manajer, dan agensi pasti memikirkan kami juga banyak hal sebelum bisa bertindak. Tidak apa. Kita akan membayarnya. Memastikan Riku-kun tidak menyesal,"

Another Note [IDOLiSH7 Fanfiction: RESTART POiNTER] ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang